(1) Mereview Program Pembangunan Bupati Buleleng 2002-2012, Putu Bagiada: Buleleng bisa Disulap dari Puing-Puing Kehancuran Menjadi Metropolitan

Foto Balieditor.com-frs: Bupati Buleleng Periode 2002-2012, DR Putu Bagiada, MM

BALIEDITOR.COM – Setelah mengamati hasil pembangunan Kabupaten Buleleng, Bali, selama enam tahun (2012-2018) di bawah kendali duet Bupati Putu Agus Suradnyana dan Wabup Nyoman Sutjidra, tampaknya public perlu diberi informasi tentang pembangunan Buleleng 10 tahun sebelum duet pimpinan dari PDIP ini berkuasa.

Informasi ini tidak bermaksud untuk mencari kekurangan para kepala daerah di zamannya masing-masing, namun sekedar untuk mereview sejumlah program atau rencana pembangunan yang dibuat Bupati Putu Bagiada yang belum terealisasi sampai masa jabatan berakhir. Boleh kan?

DUNIA tahu bahwa sebelum DR Putu Bagiada, MM, merebut kursi Bupati Buleleng, Bali, Kota Singaraja hancur terbakar. Kota tua di wilayah bekas Provinsi Sunda Kecil ini menjadi abu akibat tragedy politik 20-21 Oktober 1999. Massa pendukung PDIP di Kota Singaraja membakar habis semua gedung perkantoran pemerintah menyusul kekalahan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum DPP PDIP, dalam pemilihan Presiden RI dalam Sidang Umum (SU) MPR.

Kala itu Buleleng dipimpin Bupati Drs Ketut Wirata Sindhu. Masa transisi dari era rezim Orde Baru (ORBA) ke masa rezim reformasi, membuat situasi politik tidak memberikan ruang kepada sang bupati untuk menata kembali Kota Singaraja yang tinggal puing-puing saja itu.

DR Putu Bagiada, MM, yang merupakan seorang bankir dan pernah menjabat pimpinan Bank BNI 46, ibah melihat kondisi Buleleng dan Kota Singaraja yang hancur dibakar massa itu. Ia pun meninggalkan segala kemewahan di Jakarta turun gunung, kembali ke daerah asalnya Buleleng.

Tahun 2002, Bagiada yang kala itu berpasangan dengan dosen FE Unud, Drs Gede Wardana,M.Si, yang dicalonkan oleh Fraksi Gabungan (Golkar dan PKB) yang cuma berkekuatan 5 orang dan didukung Fraksi TNI/Polri, memenangkan pemilihan Bupati/Wabup yang kala itu masih dilakukan di DPRD.

Ia pun langsung tancap gas setelah dilantik tanggal 24 Juli 2002. Bupati Bagiada dan Wabup Wardana pun tidak memiliki rumah jabatan sehingga harus menjadi “anak kost”.

Bagaimana anda bisa membangun kembali Kota Singaraja yang sudah hancur itu? Ia mengakui bahwa sangat kesulitan karena di masa transisi dari rezim ORBA ke rezim reformasi, semuanya masih megaburan termasuk keuangan negara.

“Memang saat itu tidak ada uang. PAD Buleleng pun masih sangat kecil. Tetapi saya mempunyai jaringan, itulah yang saya pakai untuk mendapatkan anggaran membangun kembali Buleleng terutama Kota Singaraja yang hancur terbakar,” tutur Putu Bagiada dalam percakapan dengan Balieditor.com di Griya Celuk Buluh, Lovina, medio pekan ini.

Network alias jaringan yang dimiliki baik di Jakarta maupun sejumlah lembaga keuangan dunia (bank-bank), Bagiada dengan mudah mendapat kepercayaan dan dengan mudah pula mendapatkan bantuan dana untuk membangun kembali Kota Singaraja. Hanya dalam kurun waktu dua tahun (2002-2003) gedung perkantoran pemerintah berhasil dibangun kembali semuanya. Apresiasi patut diberikan kepada Bagiada, karena semua perkantoran pemerintahan di Kota Singaraja dibangun kembali dengan format dua lantai.

“Kalau saya tidak punya jaringan di Jakarta dan bank-bank internasional, mungkin sulit membangun kembali Buleleng. Karena saya pernah jadi pimpinan bank BNI 46 sehingga saya dipercaya dunia perbankan nasional maupun internasional. Makanya saya bantuan dana,” cerita Bagiada dengan gaya khas.

Hanya dalam waktu relative singkat, Putu Bagiada bersama Wabup Gede Wardana bisa menyulap Kota Singaraja dari puing-puing kehancuran menjadi Kota Metropolitan. (francelino xavier ximenes freitas/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *