(1) PAD Sektor Budidaya Kelautan Bocor? Kapasitas Produksi Besar Tapi Pemkab Buleleng Ogah Garap

Foto Balieditor.com-cha: Areal tambak Indukan Bandeng dan Nener serta Udang jenis vanamei di Desa Patas, Kecamatan,Gerokgak.

BALIEDITOR.COM – NALURI menangkap peluang Pemkab Buleleng lemah! Bahkan sector “gemuk” yang potensial mendatangkan kontribusi besar bagi PAD malah tidak digarap.

Contoh nyata adalah rumah kost yang tidak mau ditarik pajak oleh Pemkab Buleleng, dan kedua sector budidaya kelautan yang ogah digarap Pemkab Buleleng.

Budidaya sektor kelautan? Ya, pasalnya,sektor ini tidak tergarap optimal dan berpotensi merugikan Buleleng terutama dari sektor pendapatan asli daerah (PAD).

Kapasitas produksi budidaya dari sektor ini sangat tinggi dihasilkan dari tambak-tambak yang tersebar di pesisir Kecamatan Gerokgak. Berbagai macam jenis ikan dan udang berkembang pesat untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor sehingga menghasilkan pundi-pundi tidak sedikit bagi para pengusaha yang menggeluti sektor itu.

Ironisnya, tidak serupiah pun masuk ke kas daerah sebagai sumber pendapatan asli daerah hanya karena regulasi untuk itu belum tersedia. Padahal, terdapat satu produk budidaya primadona hanya ada di Buleleng sebagai satu-satunya penghasil benih Bandeng (nener) di dunia.

Apakah naluri Pemkab Buleleng yang signalnya lemah dalam menangkap peluang itu ataukah kemampuan analisis DPRD Buleleng yang berada di bawah standar bisa untuk membuat paying hukum bagi potensi ini? Entahlah.

Yang pasti, potensi sector budidaya ini diakui oleh petani tambak budidaya indukan Bandeng dan nener di Desa Patas, Kecematan Gerokgak, Buleleng, Bali.

Meddy, 47, petani tambak budidaya indukan bandeng dan nener itu. Kata dia, Buleleng sebagai sentra pengembangan budidaya kelautan tidak tergarap maksimal. Banyak hal yang membuat Buleleng sebagai sentra budidaya dirugikan, diantaranya tidak tersedianya sarana pengurusan dokumen pengiriman barang maupun lokasi uji kelayakan pengujian laboratorium PCR (Polymer Chain Reaction) bebas virus.

“Buleleng ini satu-satunya penghasil benih bandeng terbaik dunia.Tapi banyak hal yang saya lihat belum memberikan ruang yang cukup buat daerah Buleleng.vTerutama dari masalah dokumen hingga pengujian laboratorium,”ujar Meddy ,salah satu pengusaha budidaya benih nener dan udang vanamei di Desa Patas, Minggu (16/9/2018).

Meddy menyebut, keunggulan produksi nener Buleleng karena faktor iklim yang tidak ada di tempat lain. Dulu, kata Meddy, selain Buleleng, Kabupaten Marros, Sulawesi Selatan dan Aceh pesaing Buleleng. Namun, kini tinggal Buleleng satu-satunya karena Kabupaten Marros sudah berhenti dan Aceh juga sama akibat tersapu tsunami.

”Saya dengar sekarang Philpina namun permintaan dari Indonesia masih tinggi terutama untuk ekspor ke Taiwan,” ceritanya. (cha/frs/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *