#1 Politik: Pokok Pengaduan Nyoman Redana ke DKPP

Foto Dok Balieditor.com: Ketika massa menggelar demo di Bawaslu Buleleng

BALIEDITOR.COM – Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) menurut rencana bakal menggelar sidang dugaan pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu pada hari Jumat (31/5/2019) mendatang.

Pengadunya adalah Nyoman Redana, warga Banjar Dinas Munduk Waban, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Buleleng. Teradu adalah Ketua Bawaslu Kabupaten Buleleng, Putu Sugi Ardana, SH, MH.

Apa sesungguhnya pokok pengaduan Nyoman Redana ke DKPP? Berikut redaksi Balieditor.com menurunkan pokok pengaduan Nyoman Redana ke DKPP sesuai surat pengaduan nomor: 088-P/L-DKPP/V/2019 dengan perkara nomor: 93-PKE-DKPP/V/2019.

1. Pada tanggal 22 April 2019 sekitar pukul 13.00 wita, pengadu melaporkan kepada Bawaslu Kabupaten Buleleng mengenai dugaan praktik poliik uang yang dilakukan DR Somvir sebagai Caleg DPRD Provinsi Bali dari Dapil Kabupaten Buleleng.

Praktik politik uang yang dilaporkan pengadu kepada Bawaslu Kabupaten Buleleng sebagai berikut:

a. Tanggal 15 April 2019, masa tenang, pengadu dihubungi melalui HP oleh Subrata yang merupakan tim sukses DR Somvir (Caleg DPRD Bali dari Dapil Buleleng) yang meminta pengadu bertemu dengan DR Somvir di Hotel Lilys Lovina;

b. Tanggal 15 April 2019 sekitar pukul 15.30 wita pengadu tiba di Hotel Lilys Lovina, namun sebelum bertemu dengan DR Somvir oleh karyawan DR Somvir yang bernama Mbak Lili pengadu diminta mengisi buku tamu, selanjutnya pengadu bertemu dengan Subrata yang merupakan tim sukses DR Somvir. Saat itu Subrata bertanya kepada pengadu apakah pengadu sudah bertemu dengan DR Somvir, dan dijawab oleh pengadu belum bertemu;

Baca Juga:  Politik: Gelar Pembekalan Saksi di Patas, Bunda Tutik Target 20 Ribu Suara di Gerokgak

c. Saat bertemu dengan DR Somvir, DR Somvir bertanya kepada pengadu “berapa punya suara di Pedawa?” Lalu dijawab oleh pengadu sebanyak 62 suara. Kemudian DR Somvir menyuruh pengadu untuk mencarikan suara sebanyak 50 saja, kemudian DR Somvir kembali masuk ke kantornya diikuti oleh tim suksesnya yaitu Subrata, setelah Subrata keluar dari dalam kantor DR Somvir, Subrata memberikanuang sebesar Rp 5.000.000 kepada pengadu dan memberitahukan bahwa uang Rp 5.000.000 tersebut adalah untuk mencarikan suara DR Somvir. Karena ketidaktahuan pengadu tentang peraturan perundang-undangan Pemilu, maka uang Rp 5.000.000 yang diberikan oleh Subrata diterima saja oleh pengadu;

d. Setelah menyerahkan uang sebesar Rp 5.000.000 kepada pengadu, Subrata meminta kepada pengadu agar menandatangani kuitansi. Oleh karena pengadu tidak bisa tanda tangan maka pengadu meminta tolong kepada keponakan pengadu yang bernama I Gede Muliawan untuk menandatangani kuitansi tersebut. Akan tetapi sampai pengaduan ini diajukan, kuitansi yang ditandatangani oleh I Gede Muliawan masih berada di bawah kekuasaan Subrata;

e. Pada tanggal 16 April 2019, pengadu bertemu dengan:
1) Saksi Made Nurai, pada saat itu pengadu menyampaikan kepada saksi seperti apa yang disuruh oleh DR Somvir yaitu meminta saksi Made Nurai agar memilih DR Somvir dan pengadu memberikan uang sebesar Rp 100.000 beserta alat peraga kampanye berupa kartu nama DR Somvir Caleg DPRD Bali kepada saksi Made Nurai;

Baca Juga:  Suparjo: “Saya Hadir sebagai Kelian Dadia Pasek”

2) Saksi Kadek Armini, pada saat bertemu saksi Kadek Armini, pengadu juga menyampaikan apa yang disuruh oleh DR Somvir yaitu meminta agar saksi Kadek Armini memilih DR Somvir dan kepada saksi Kadek Armini pengadu memberikan uang sebesar Rp 300.000 beserta alat peraga kampanye berupa specimen surat suara Pemilu, kartu nama DR Somvir Caleg DPRD Bali, stiker atas nama DR Somvir Caleg DPRD Bali Dapil Kabupaten Buleleng.

3) Beberapa warga Desa Pedawa, dan pada saat bertemu dengan beberapa warga Desa Pedawa, pengadu juga menyampaikan apa yang disuruh oleh DR Somvir yaitu meminta warga untuk memilih DR Somvir dan memberikan uang dan alat peraga kampanye milir DR Somvir;

f. Dari tanggal 18 April 2019 sampai dengan tanggal 20 April 2019 pengadu secara terus-menerus menerima telepon gelap yang isinya ancaman yaitu apabila DR Somvir tidak terpilih maka pengadu akan ditahan;

g. Oleh karena terus-menerus mendapat ancaman, maka pada tanggal 22 April 2019 sekitar pukul 13.00 wita, pengadu melaporkan ancaman tersebut kepada Bawaslu Kabupaten Buleleng; (francelino xavier ximenes freitas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *