(2-Habis) Putu Bagiada di HUT RI dalam Analisis versi Balieditor.com: Figur Bersih nan Dermawan yang Dizolimi Lawan Politik

Foto Balieditor.com-frs: Putu Bagiada dan Bupati Agus

BALIEDITOR.COM – LUAR biasa! Kendati sudah dizolimi lawan politik dengan merekayasa kebijakannya menjadi masalah hukum hingga ia harus dibui selama 4 tahun namun Bupati Buleleng periode 2002-2012 DR Putu Bagiada, MM, tidak balas dendam.

Dengan jiwa kebapakaan, Bagiada mengampuni pihak-pihak yang telah mencelakainya dengan menzoliminya. Ia tetap rendah hati dan mengaku selalu berdoa bagi pihak-pihak yang terlibat dalam aksi rekayasa kasus hingga ia harus menginap di Lapas Kerobokan Denpasar, agar bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Ia pun berdoa agar para tukang rekayasa itu segera tersadar dan tidak memakan korban lagi. Biar hanya dirinyalah menjadi korban ambisi sesaat mereka.

Sebagai contoh, ketika ditanya Balieditor.com tentang aksi rekayasa kasusnya, Bagiada dengan tersenyum menyatakan bahwa dirinya iklas menjalani kehidupannya. Ia tidak mau menyalahkan siapa-siapa dalam kasus ini, namun ia menyerahakn kepada masyarakat untuk menilai sendiri.
“Saya tidak mau berbicara banyak soal itu, karena pasti ada-lah. Saya serahkan kepada masyarakat untuk menilai mana yang benar dan salah. Saya sudah memaafkan bahkan sudah mengampuni dosa-dosa orang yang telah menzolimi saya,” ucap Bagiada sambil melemparkan senyum damai.

Bagiada menegaskan dirinya tidak mau menuduh siapapun dalam kasus hukum yang pernah menjeratnya. “Saya tidak mau menuduh si A si B. Kita tidak mau membangun permusuhan. Warga kita bersatulah, saling menghargai dan saling menghormatilah kelebihan dan kekurangan masing-masing,” ujar Bagiada dengan penuh bijak.

Bagiada lebih suka berbicara tentang berbagai pembangunan yang telah dilakukan selama sepuluh tahun berkuasa. “Yang penting saya tidak melakukan apa-apa. Kebenaran adalah kebenaran. Saya tidak berbuat apa-apa, jangankan berbuat (korupsi), niat saja tidak ada,” tandasya.

“Apa yang saya tidak korbankan untuk Buleleng, harta benda bahkan jiwa saya pun berkorban untuk Buleleng. Karena apa? Karena saya mempunyai niat sungguh-sungguh untuk membangun Buleleng, lahir batin itu,” janjinya.

Ya, benar pernyataan Bagiada itu. Dalam catatan Balieditor.com, Bagiada merupakan Bupati Buleleng pertama di era reformasi saat Kota Singaraja rata dengan tanah karena dibakar massa pada peristiwa Oktoter 1999.

Bagiada figur berjiwa petarung alias fighter sehingga bisa membangun kembali Kota Singaraja dari puing-puing kebakaran hanya dalam waktu satu tahun. Singkat cerita, Bagiada adalah figure bersih nan dermawan, sehingga aneh bila ia harus divonis bersalah. Bagiada adalah figure bersih.

Satu fakta Bagiada korban untuk pembangunan Buleleng dalam catatan Balieditor.com adalah ketika pembangunan dermaga di Pelabuhan Buleleng, anggarannya belum disetujui, Bagiada berani menalangi proyek itu dengan pribadi sekitar Rp 200 juta lebih.

Melihat fakta ini maka analisisnya bahwa Bagiada bersih dan tidak bersalah dan patut dibentangkan karpet merah untuk dilalui sebagai sang Hero Pembangunan Buleleng.

Mari jauhkan rasa dendam dan benci dari hati nurani masyarakat Buleleng dengan bercermin dari figure Bagiada yang selalu mengampuni lawan-lawan politik. Sekali Merdeka Tetap Merdeka! (francelino xavier ximenes freitas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *