(2) Mereview Program Pembangunan Bupati Buleleng 2002-2012, Putu Bagiada: Perkuat Keuangan Daerah, Bangun Bank Buleleng dan Yeh Buleleng

Foto Dok Balieditor.com: Bupati Buleleng periode 2002-2012, DR Putu Bagiada, MM

BALIEDITOR.COM – DUNIA internasional tahu bahwa Bupati Buleleng, Bali, periode 2002-2012, DR Putu Bagiada, MM, memiliki otak brilian sehingga bisa melahirkan berbagai konsep pembangunan.

Ia menyadari bahwa kemampuan keuangan Buleleng kala itu masih sangat terbatas. Pertumbuhan ekonomi lemah, ini dikarenakan investasi yang masuk ke Bali Utara masih sangat terpatas. Akibatnya pendapatan masyarakat kecil, lapangan kerja terbatas dan nyaris tidak ada, sehingga kemiskinan terjadi dimana-mana.

“Karena kita juag menyadari karena kekuatan Buleleng, financing, termasuk juga sumber daya manusia, juga ada kemiskian, pendidikan masih di bawah, ada juga kemampuan GGP kita masih rendah, grate ekonomi kita masih pas-pasan. Tetapi kalau tidak dipacu dengan investasi besar-besaran karena bagaimana pun kita tingkatkan income masyarakat itu bagaimana kita meningkatkan investasi, konsumsi masyarakat, tabungan daerah, juga pengeluaran budget daerah, kemampuan budget pusat yang bisa dukung kebijakan pembangunan Buleleng,” papar Bagiada.

Misalnya? “Salah satunya kita memperkuat kemampuan keuangan daerah melalui pembangunan perusahaan daerah. Kita bangun Bank Buleleng 45, Yeh Buleleng, kita bangun. Bangun otorita-otorita yang bisa memberikan kontribusi kepada daerah, untuk memperkuat budget daerah untuk dana pembangunan,” jawab Bagiada dengan lugas dan masih ingat angka-angka pembangunan di zamannya dulu.

Baca Juga:  Kadiskanla Made Arnika: “Urus SKA Gratis, Silahkan Datang”

Menariknya, nama sebagian BUMD milik Pemkab Buleleng, berbau Buleleng. Seperti PD BPR Bank Buleleng 45 yang sebelumnya bernama BPR Bank 45, kemudian PD Pasar Buleleng. “Kenapa nama BUMD itu berisikan ‘Buleleng’? Karena itu adalah identitas daerah Buleleng. Bank Buleleng 45 merupakan BMUD prestise daerah. Biar orang lua tahu bahwa Buleleng punya bank yang bernama Bank Buleleng 45,” jelasnya.

Untuk memperkuat keuangan daerah yang kala itu masih sangt berkekurangan, bukan hanya membangun kembali PD BPR Bank Buleleng 45, tetapi juga mndirikan PD Pasar Kabupaten Buleleng. Bagiada juga menata kembali PD Swatantra yang dari bupati ke bupati tidak dilirik padahal perusahaan daerah ini mengelola ratusan hektar cengkeh, kopi dan kelapa.

Keterbatasan anggaran, kata Bagiada, memaksa dirinya untuk memutar otak mencari dana untuk pembiayaan pembangunan. Bahkan tidak tanggung-tanggunga ia mengeluarkan uang pribadinya untuk membiaya sejumlah proyek. Tujuannya biar proyek pembangunan jalan.

Bukan hanya brilian pola pikirnya tetapi Bagiada juga memiliki naluri bisnis yang tinggi. Melihat prospek bisnis di sector air minum kemasan yang bagus, Bagiada yang ahli analisis perbankan ini pun mengembangkan saya bisnis PDAM Kabupaten Buleleng. Maka didirikanlah PT Tirta Mumbul Jaya Abadi yang memproduksi air minum kemasan “Yeh Buleleng”.

Baca Juga:  Buleleng Serius Incar Pasar Kopi Robusta

Produk ini pun kembali membawa label alias nama Buleleng sebagai identitas produk.

Sebagian proyek kala itu harus dibiaya terlebih dahulu dengan uang pribadi Bagiada, termasuk pendirian PT Tirta Mumbul Jaya Abadi dan pembangunan marina (dermaga) di Pelabuhan Buleleng.

“Untungnya saya membiaya lebih awal, walau dana belum keluar. Banyak, ada Rp 8 juta, saya biaya pribadi. Ada Rp 500 juta. Pembangunan dermaga pelabuahn saya juga keluarkan uang pribadi saya untuk membiaya dahulu. Malah sampai saya dibilang korupsi, malah saya justru membantu dengan uang pribadi saya,” tandasnya setengah curhat (curahan hati).

Kenapa harus melakukan terbosan-terobosan radikal nan berani? “Saya sebagai kepala daerah ingin daerah ini terpacu maju lebih cepat sehingga target-target saya membangun buleleng ini lebih cepat. Kalau harus menunggu anggaran dari budget daerah, tidak mungkin karena kemampuan keuangan daerah rendah. Maka itu saya harus buat terobosan termasuk membiayai dengan uang pribadi saya terlebihdahulu,” jawab Bagiada memberi alasan. (francelino xavier ximener freitas/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *