(3) Mengenal Kandidat Bupati PASS: PASS Dikenal dengan Program 12 PAS

Foto Dok Balieditor.com: Kunker Bupat Ags\us Tahun 2014 saat meninjau jalan

Foto Dok Balieditor.com: Kunker Bupat Ags\us Tahun 2014 saat meninjau jalan

BALIEDITOR.COM – KONDISI geografis Kabupaten Buleleng yang terletak belahan utara Pulau Bali yang Nyagara Gunung (memiliki barisa pengunungan di sebelah selatan dan laut di utara) membuat bekas Kerajaan Den Bukit itu sangat indah.

Dibawah kepemimpinan Bupati Putu Agus Suradnyana bersama Wabup Nyoman Sutjidra, Buleleng mencatat berbagai pembangunan yang menggembirakan. Pasalnya, Bupati Buleleng periode 2012-2017 itu mengusung “Program 12 PAS” sebagai salah satu ikon pembangunan di Bali Utara.

Salah satu keberhasilan Pemkab Buleleng dibawah kepemimpinan Agus Suradnyana adalah intensif membangun infrasturtuk seperti akses jalan yang memadai di seluruh wilayah pedesaan di Kabupaten Buleleng. Bukan hanya infrastruktur jalan menjadi prioritas Agus Suradnyana, tetapi ia juga berusaha maksimal terhadap sosio-kehidupan masyarakat Buleleng sehingga ia berhasil menurunkan angka kemiskinan. Akhirnya Buleleng bias angkayt kepala karena bias membebaskan diri dar julukan “Buleleng adalah kabupaten miskin di Bali”.

Salah satu konglomerat Bali yang bergerak di sektor pariwisata itu mengungkapkan bahwa program yang sudah dijalankan sesuai dengan janji kampanyenya ini mulai mendapatkan sambutan positif dari masyarakat Buleleng.

“Akses jalan yang baik merupakan kebutuhan utama masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan. Dengan akses jalan yang baik mereka (masyarakat) akan lebih mudah menjual hasil bumi dan juga berbagai hasil pertanian, terlebih lagi sebagian besar masyarakat Buleleng adalah petani dan pekebun,” kata Agus Suradnyana dalam beberapa kesempatan saat berbincang-bincang dengan Balieditor.com.

Untuk membangun jalan-jalan di desa-desa, Agus Suradnyana mempunyai satu slogan yakni “Pola Tuntas”. Ini sudah terwujud dengan sejumlah kawasan terisolir kini sudah dibuka dengan jalan mulus.

Contohnya jalan di Desa Lemukih, Kecamatan Sawan. Jalan ini merupakan satu-satunya akses bagi petani di desa ini untuk memasarkan berbagai hasil kebun seperti cengkeh, kopi, dan buah-buahan. Di samping itu, jalan juga menjadi jalur alternatif bagi pengendara yang akan menuju Denpasar dan sekitarnya. Sejak lama, ruas jalan ini mengalami kerusakan parah.

“Bahkan, untuk menjual hasil bumi di desa mereka ke Kota Singaraja atau ke Pasar Pancasari, Kecamatan Sukasada, petani di daerah ini cukup kesulitan. Karena biaya angkut mahal dan kalau dijual di desa harganya akan murah, sehingga merugikan petani itu sendiri. Tapi kini sudah dapat teratasi,” pungkasnya. (francelino xxf/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *