(4-Habis) Mereview Program Pembangunan Bupati Buleleng 2002-2012, Putu Bagiada: Buleleng Mau Dijadikan Singapura Kedua di Asia, Tapi…?

Foto Balieditor.com-frs: DR Putu Bagiada,MM

BALIEDITOR.COM – TERNYATA Bupati Buleleng periode 2002-2012, DR Putu Bagiada, MM, mempunyai impian selangit dalam membangun Buleleng semasa yang masih berkuasa.

Bupati yang berlatar belakang atau backgoundnya seorang bankir itu ingin menjadi Buleleng sebagai Singapura kedua di Asia. Impian ini bukan sekedar baying kosong tanpa argumentasi. Karakter keduanya sama yakni sebagai daerah pesisir yang memiliki pantai panjang.

Impian Bagiada ini ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Bahkan para tokoh dari Negeri Singapura yang justru mengambil inisiatif untuk ikut membangun Buleleng.

“Saya juga didatangi tim dari Singapura. Tokoh-tokoh Singapore menemui saya sambil membawa patung Singa Ambara Raja itu dan menyatakan kepada saya agar saya membangun Singaraja Sakti ini di sebelah barat Pura Penimbangan, di laut,” cerita Bupati Bagiada.

Menariknya, kata dia, tim dari Singapura itu ternyata sudah membawa gambarnya. “Mereka yang membawa gambarnya, designya dia yang bikin,” paparnya. “Bayangkan orang negara lain kok simpati kepada Buleleng. Kenapa dia simpati? Alasan dia simpati pada Buleleng, karena menurut mereka itu karena Singapura itu rohnya dari Buleleng makanya symbol Singaraja dan Singapura hamper sama,” lanjutnya lagi.

Kemajuan Buleleng di bawah kepimpinan Putu Bagiada bukan saja mengundang rasa kagum dan simpati kerja sama dari Singapura tetapi juga 42 negara Eropa. Perwakilan mereka sudah berkunjung ke Buleleng dan bersedia membantu pembangunan di Buleleng.

“Kita undang juga orang-orang yang punya uang seperti 42 Dubes Eropa, mereka mau membantu Buleleng. Dari Australia mau bantu, Singapura mau bantu bangun mersucuar di Penimbangan. Gambarnya sudah jadi,” paparnya.

Karena Buleleng ada nyagara gunung sehingga pembangunan bukan saja di pesisir atau laut tetapi Bagiada juga merencanakan pembangun di top the hill yang di puncak tepatnya di Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada. “Membangun top the hill, kita sudah membangun, menata puncak denan baik sebagai rest area, namun sekarang malah amburadul. Penuh dengan rombong bakso,” ujarnya.

Bagiada mempunyai konsep dan prinsip bahwa seorang pemimpin yang mampu memimpi sebuah daerah adalah pemimpun yang memiliki cara berpikir yang besar dan mampu mencari solusi. “Pemimpin itu cara berpikir harus besar, pemimpin itu harus berpikir, harus memecahkan masalah, mencari solusi, problem solving, seperti Bung Karno,” tegasnya.

Itulah sebabnya, “Kita melangkah simultan, semua jalan, tidak ada yang tertinggal semua serentak jalan. Tapi ada yang prioritas. Semua penunjang jalan, prioritas ada pembangunan ekonomi.”

Ia menyatakan bahwa rumus pembangunan nasional dan daerah sama saja, tergantung komitmen pemimpinannya. Bedanya nasional ada hubungan dengan internasional. “Kebutuhan dasar dipenuhi, kebutuhan keamanan, social. Fondasi harus kuat. Bagaimana masyarakat Buleleng merasa aman, damai, SDM yang bagus, pemimpin yang legitimasi,” pungkas Bagiada.

Hanya saja, impian Buleleng menjadi Singapura kedua belum terwujud karena masa jabatannya kedua keburu berakhir. Tapi ia yakin suatu saat impian itu bakal terwujud melalui bupati Buleleng masa mendatang. Semoga! (francelino xavier ximenes freitas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *