(7-Habis) Catatan Khas Redaksi Balieditor.com tentang Upaya Pemkab Buleleng Melestarikan Seni Budaya Bali Utara

Foto Dok Balieditor.com: Atraksi budaya sapi gerumbungan

Foto Dok Balieditor.com: Atraksi budaya sapi gerumbungan

BALIEDITOR.COM – KAWASAN BALI UTARA memiliki kekhasan atraksi budaya tersendiri yang tidak dimiliki daerah lain di Bali, bahkan di Indonesia. Atraksi permainan khas Buleleng itu adalah Permainan Gangsing.

Menurut Kadisbud Kabupaten Buleleng, Bali, Drs Putu Tastra Wijaya, MM, magangsing merupakan sebuah permainan tradisional yang umumunya dilakukan oleh kaum pria.

“Permainan gangsing di Bali sudah tidak banyak dikenal pada masyarakat kecuali pada suatu daerah tertentu. Ini karena terkait dengan tradisi tertentu,” papar Tastra seraya menambahkan, “Bahkan dapat dikatakan permainan ini hampir punah di Bali.”

Permainan gangsing, kata dia, juga dapat dipergunakan sebagai sarana perlombaan, judi, dan permainan nasib.

Lomba gangsing di Bali Utara masih banyak dilakukan di daerah Catur Desa yang meliputi Desa Gobleg, Desa Munduk, Desa Gesing dan Desa Uma Jero. Kemungkinan dulu dipergunakan sebagai sarana perekatan antardesa di kawasan itu.

Atraksi Sampi Gerumbungan

Buleleng juga memiliki atraksi menarik lainnya yakni atraksi Sampi (Sapi) Gerumbungan. Atraksi yang juga dinamakan magrumbungan itu mulanya dilaksanakan petani di Bulelneg ketika sudah selesai bekerja di sawah.

Kata Kadisbud Tastra, gerumbungan mengandung makna okokan, keroncongan seperti genta yang terbuat daru kayu dengan ukuran yang lebih besar dari ketika sehari-hari digunakan dalam membajak. Nama Okokan atau keroncongan diambil dari bunyi yang digantungkan di leher atau baong sapi, bertepatan dengan uga dengan talinya disebut sambed.

“Uga berfungsi menyatukan dua sapi menjadi pasangan yang akan menarik bajak yang digunakan untuk membajak sawah, atau kampit untuk melakukan mengoyakan tanah, atau melasah untuk meratakan tanah yang sudah menjadi lumpur,” urai Tastra.

Ketika ditampilkan pada atraksi kontes sampi geumbungan, lampit atau banjaknya diganti dengan tempat duduk joki, masih mengambil bentuk lampit tetapi fungsinya sudah berubah sebagai tempat duduk joki untuk mengendalikan sapinya dalam perlombaan.

“Tempat joki ini dihias dengan hiasan menarik khas Bali Utara sehingga menjadi sangat menarik. Atraksi ini sudah menjadi event tahunan yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan September, bersamaan dengan pelaksanaan Festival Lovina di Bali Utara,” pungkas Kadisbud Tastra. (francelino xavier ximenes freitas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *