Abdul Saleh: “Kapok,Tidak Akan Lagi Jadi KPPS”

Foto Balieditor.com-cha: Abdus Saleh,anggota KKPS di TPS 11 Desa Sumberkima,Kecamatan Gerokgak terbaring sakit usai menjadi petugas Pemilu April 2019

BALIEDITOR.COM – Abdus Saleh, anggota KKPS di TPS 11 Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, masih tergolek lemah dipembaringan dengan selang infuse masih menancap ditangnnya.

Ia terpaksa mendapat perawatan intensif setelah mengalami sesak nafas usai menjadi petugas pemilu pada 17 April 2019 lalu.

Sementara alat bantu pernafasan (oksigen) masih terpasang pada hidung dan mulutnya.

Saleh dilarikan ke rumah sakit setelah sebelumnya berkali-kali mendapat perawatan di dokter umum namun tak kunjung membaik.

Nasib Saleh semakin terpuruk sebab tiga hari sejak dia dirawat di sebuah klinik kesehatan di wilayah Desa Tangguwisia,tak satupun sejawatnya di PPK Kecamatan Gerokgak maupun KPU Buleleng menjenguknya.Bahkan,untuk biaya perawatan medis pun Saleh tanggung sendiri.

Kepada wartawan yang menjenguknya,Kamis (9/5/2019), Saleh mengaku kapok dan tak akan mau lagi menjadi petugas pemilu.

Menurutnya,sebagai petugas pemilu beban kerja dan tanggungjawabnya sangat berat,sementara honor dari pekerjaan itu tidak sebanding dan itupun masih dipotong pajak.

”Sangat berat,saya pastikan tidak akan ikut lagi sebagai petugas pemilu dimasa mendatang.Saya kapok,”ujarnya menerawang.

Saleh bercerita bagaimana ia bersama rekannya yang lain berjibaku mengamankan surat suara hingga pagi setelah sebelumnya dihitung dan direkap di PPS.

”Bayangkan,hingga jam 04.00 wita kami masih bekerja bolak balik dari TPS ke kantor desa untuk mengantar kotak suara dan itu berlanjut hingga sore hari. Sangat terasa capeknya dan ujungnya kesehatan saya drop,batuk dan sesak nafas,” tuturnya.

Berkali-kali sejak usai pemilu ia ke dokter umum dan Puskesmas namun sesak nafasnya tak kunjung sembuh. Akhirnya,setelah semakin parah Saleh memutuskan pergi ke dokter spesialis memeriksakan sakitnya itu sejak Selasa (7/5/2019) lalu..”Sudah hampir tiga hari saya dirawat disini,”imbuhnya.

Saleh mengatakan,sebagai petugas di TPS 11,ia menerima honor sebesar Rp 500 ribu dengan dipotong pajak.Dan honor itu tidak sebanding dengan pekerjaannya.

”Saya terima honor Rp 460 ribu.Namun,saya tidak menyesal dan menganggap itu pengabdian.Hanya saja jika nanti ditunjuk lagi saya pastikan menolaknya,”ulangnya.

Sementara itu, dr.Nurul yang merawat Saleh mengatakan,faktor utama pemicu penyakit pasiennya adalah kecapekan.Kemudian berkembang menjadi infeksi paru-paru yang memicu batuk dan sesak nafasnya.”Hasil diagnosanya memang ada infeksi paru-paru dan kondisinya sekarang sudah membaik,”jelas dr.Nurul.

Terkiat sakitnya petugas pemilu itu,Ketua KPU Kabupaten Buleleng, Komang Dudhi Udayana mengatakan, pihaknya tidak tau pasti tentang sakitnya anggota KPPS tersebut. Menurutnya, harus ada laporan berjenjang sebelum informasi ada pertugas pemilu sakit sampai dimejanya.

Kata Dudhi,laporkan terlebih dahulu ke PPS di wilayahnya dan kemudian PPS menindakn lanjutinya dengan melapor ke PPK Kecamatan.”Nah,dari PPK baru ke KPU,”ujarnya.

Menurut Dudhi,pihaknya sudah bersurat kepada masing-masing PPK untuk mendata seluruh penyelenggara pemilu yang mengalami sakit pada saat melaksanakan tugas pemilu 2019.”Surat pemberitahuan sudah kami kirim ke masing-masing PPK,”imbuhnya.

Hanya saja Ketua KPU Komang Dudhi Udayana tidak memberikan kepastian soal biaya pengobatan petugas TPS 11 Desa Sumberkima,Abdus Saleh yang kini terbaring lemah dirumah sakit. (cha/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *