Aksi Demo Diduga Kepentingan Pribadi, LSM KoMPaK Dukung Pembangunan PLTU Celukan Bawang Tahap II

Foto-Foto Balieditor.co,-frs: Ocha sedang memberikan  keterangan pers

Foto-Foto Balieditor.co,-frs: Ocha sedang memberikan keterangan pers

BALIEDITOR.COM – Polemik penolakan pembangunan PLTU Celukan Bawang tahap II jika tetap memakai batubara oleh sejumlah warga Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, karena dinilai merusak kondisi lingkungan, kini menjadi persoalan serius.

LSM Komunitas Masyarakat Untuk Penegakan Hukum dan Keadilan (KoMPak) ikut angkat bicara, menyikapi hal tersebut. Jika akibat penolakan itu pembangunan dihentikan, maka akan berimbas pada pasokan listrik di Bali.

Beberapa orang yang tergabung dalam LSM KoMPak sudah turun menyerap langsung aspirasi masyarakat setempat, terkait dengan aksi beberapa waktu lalu yang menolak pembangunan PLTU Celukan Bawang tahap II.

Alhasil, disinyalir ada kepentingan pribadi yang menunggangi persoalan ini.

Ketua LSM KoMPak, Ketut Ocha Wardana mengatakan, keterlibatan LSM KoMPak dalam persoalan ini bukan dalam kapasitas mendukung ataupun menolak rencana pembangunan PLTU Celukan Bawang tahap II.

“Ini kami turun, bukan dalam artian mendukung. Selama itu tidak melanggar aturan dari sisi izin dan tekhnis, tidak masalah. Tapi kalau melanggar, jangan,” tegas Ocha Wardana dalam keterangan persnya di Kantor LSM KoMPaK di Jalan Yudistira Singaraja, Jumat (20/4/2018) siang.

Adanya penurunan kualitas hasil pertanian dan kualitas lingkungan terutama soal pencemaran laut di sekitar wilayah Celukan Bawang, akibat penggunaan batubara sebagai sumber energi PLTU Celukan Bawang untuk menghasilkan listrik, hanya sengaja dihembuskan oleh oknum tertentu untuk menghambat pembangunan PLTU Celukan Bawang tahap II.

“Dari hasil pengamatan kami di lapangan, sesunguhnya pohon kelapa berbuah baik tetapi di panen dini. Untuk pencemaran laut, penanganan sisa hasil produksi PLTU sudah ditangani sesuai prosedur berdasarkan AMDAL. Logikanya, kalau memang batubara tidak cocok, kan sudah dari awal izin tidak dikeluarkan pemerintah,” jelas Ocha Wardana.

Terkait dengan keinginan masyarakat tentang sosialisasi pembangunan PLTU Celukan Bawang tahap II, LSM KoMPaK siap memfasilitasi. “Kami dari LSM KoMPak sangat siap memfasilitasi terlaksananya sosialisasi tersebut. Bali memerlukan listrik, kalau itu dihentikan dan izin sudah lengkap, kemana kita cari listrik? Seperti kita tahu, PLTU Celukan Bawang merupakan objek vital yang akan menjadi pemasok listrik utama di Bali,” ujar Ocha.

Foto 2

Untuk diketahui, power plant yang dimiliki oleh PLTU Celukan Bawang mampu mengeluarkan daya hingga mencapai 380 Mega Watt (MW) untuk satu tahap pembangunan. Jumlah ini dirasa kurang, sebab Bali membutuhkan aliran listrik mencapai 810 MW setiap harinya. Atas dasar itu, PLTU Celukan Bawang membangun tahap dua sebesar 2 X 380 MW.

“Kami disini hanya menyampaikan aspirasi masyarakat secara terbuka. Saya minta masyarakat dan pemerintah bisa bersinergi untuk kepetingan bersama kedepan. Tentunya keberadaan PLTU itu dapat digunakan untuk kesejahteraan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan listrik di Bali. Saya ajak warga untuk bersikap dewasa mendukung pembangunan daerah,” pungkas Ocha.

Seperti diberitakan seebelumnya, sebagian warga Desa Celukan Bawang menolak pembangunan PLTU Celukan Bawang tahap dua jika menggunakan batubara sebagai sumber energi. Penolakan itu ditunjukan, dengan pembentangan spanduk di perairan Celukan Bawang, bertepatan dengan berlabuhnya Kapal Greenpeace Rainbow Warrior.

Kondisi ini mendapat respon dari GM PT. GEB selaku pengelola PLTU Celukan Bawang, Putu Singyen, yang menyatakan, bahwa batubara yang selama ini digunakan sebagai energi di PLTU Celuakan Bawang telah menjalani proses penilaian Dinas Lingkungan Hidup. Dan hasilnya, batubara cukup ramah lingkungan. Bahkan PLTU Celukan Bawang sudah mengantongi Izin dan amdal. Dan menurut rencana, untuk groundbreaking tahap kedua akan dilakukan tahun ini. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *