Arogan! Bule Perancis Larang Orang Lokal Bermain di Pantai Pemaron

Foto Ist: Aparat desa dan imigrasi datangi vila tempat bule Perancis tinggal

BALIEDITOR.COM – Sungguh memalukan. Bangsa Indonesia kembali dihina dan dilecehkan warga asing. Kali ini dilakukan oleh bule asal Perancis bernama Roussel Gil Pascal Andre, 51.

Sang bule arogan itu malah melakukan pengusiran terhadap warga local. Bule penghuni villa di wilayah pantai Desa Pemaron, Lovina, Buleleng, Bali, itu mengusir musisi muda Buleleng I Ketut Suadnyana alias Jem Tatto, 33, bersama warga lain sedang bakar ikan di pantai Banjar Dinas Dauh Marga, Pemaron, di depan vila yang ditempati bule arogan itu.

Jem Tatto pun melapor bule arogan itu ke aparat Desa Pemaron dan Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja. ”Pengusiran itu terjadi Minggu (1/9/2019) sekitar pukul 17.30 wita, saat saya dan rekan-rekannya sedang beraktivitas membakar ikan di pantai Desa Pemaron, depan villa yang ditempati oleh Roussel,” ungkap Jem Tatto, Senin (2/9/2019) saat mendatangi villa Roussel bersama Prebekel Pemaron dan petugas Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja.

Pengusiran yang dilakukam Roussel, kata Jem Tatto, sempat viral setelah diunggah pada akun miliknya dan di respon oleh Prebekel Desa Pemaron dan petugas Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja. Disebutkan, larangan disampaikan Roussel dengan nada bentakan. ”Pergi, jangan bakar dan beraktivitas disini,” tandas Jem Tatto menirukan ucapan Roussel.

Tidak hanya melarang, Roussel juga menantang berkelahi.”Kami heran, kok kami beraktivitas di pantai dilarang, pantai ini malah ingin dikuasai. Kami warga lokal berhak untuk beraktivitas dan menikmati pantai di Desa Pemaron ini,” tandas Jem Tatto.

Sayang waktu para desa dan imigrasi ke vila, ternyata Roussel tidak ada. Pelapor Jem Tatto meminta pihak berwenang untuk mengatensi laporannya dan bersikap tegas. Ia bahkan mendesak pihak berwenang untuk mendeportasi bule arogan itu dari Indonesia.

Prebekel Desa Pemaron Putu Mertayasa membenarkan laporan warga local tentang ulah arogansi bule Perancis. Disebutkan bahwa ulah arogansi bule Perancis itu tidak hanya melarang warga untuk bermain, mandi dan mancing di pantai, Roussel juga melarang warga mencari kerang saat air laut surut. ”Untuk tidak mengulangi ulahnya, pihak desa telah meminta Roussel membuat surat pernyataan, tidak melarang warga beraktivitas di pantai dan tidak membuat ulah lagi,” ungkapnya.

Disebutkan, villa yang ditempati Roussel itu dibangun tahun 2016 dan diurus istri Roussel termasuk IMB.”Saat ini, dia (Roussel,red) tinggal sendiri di Villa dan menunggu proses perceraian. Jika Roussel membuat ulah lagi, kami akan melayangkan surat ke Imigrasi Singaraja agar ditindaklanjuti. Paling tidak akan ada sanksi kepada wisman tersebut,” tandas Mertayasa.

Bagaimana sikap Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja? Kasi Intelejen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja,Thomas Aris Munandar menyatakan pihaknya mengapresiasi informasi dan keterangan prebekel sebagai pengaduan masyarakat.

Selain menerima pengaduan, pihaknya juga sudah melakukan langkah-langkah untuk mendalami kasus ini. ”Kami sudah mendatangi lokasi kejadian, dipantai dan villa tempat Roussel. Minta keterangan warga dan aparat desa dalam rangka pengumpulan data dan informasi,” jelas Thomas seraya menambahkan, “Kami akan pelajari kasusnya apakah akan diberi sanksi berupa deportasi atau tidak. Jadi ini belum dapat kami simpulkan. Kami harus meminta keterangan Roussel terlebih dahulu.” (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *