Ary Rismi: “Salah Kirim Uang, Bukan Kewenangan LPS”

Foto Balieditor.com-frs: Bunda Tutik menerima cinderamata dari Ary Rismi dari LPS disaksikan Ketua KADIN Buleleng Gede Dharma Widjaya

BALIEDITOR.COM – Publik Bali patut berbangga kepada anggota Komisi XI DPR RI Tutik Kusuma Wardhani. Kendati tidak terpilih kembali namun semangat pengabdian srikandi Partai Demokrat itu tidak surut bahkan tetap membara.

Sebagai bukti Rabu (14/8/2019) politisi yang akrab disapa Bunda Tutik itu mengajak mitra kerjnya Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ke SMKN Bali Mandara di Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, untuk menghadiri seminar nasional bertajuk “Sosialisasi Peran dan Fungsi Lembaga Penjamin Simpanan dalam Menjaga Stabilitas Sistem Perbankan Indonesia”.

Pejabat LPS yang hadir sekaligus sebagai narasumber adalah Ary Rismi yang sehari-hari menjabat Kepala Divisi Transformasi IV LPS.

Dalam seminar nasional tersebut para siswa SMKN Bali Mandara bersama sejumlah guru PPL dari Undiksha Singaraja sangat aktif dalam sesi tanya-jawab. Berbagai persoalan mereka ungkapkan dan tanyakan kepada pejabat dari LPS tersebut.

Salah satu pertanyaan yang menarik dan sering terjadi di kalangan nasabah bank yakni salah kirim uang karena kode rekenening yang salah. Ary Rismi menjelaskan bahwa kalau terjadi kasus salah kirim uang maka itu bukan kewenangan LPS.

“Kalau masalah salah kirim, LPS tidak masuk sini, bukan kewenangan LPS. LPS masuk kalau bank itu sudah diserahkan oleh OJK,” jelas Kepala Divisi Transformasi IV LPS itu.

Kalau terjadi salah kirim, jelas Ary, langsung dikoordinasi dengan bank yang bersangkutan karena begitu uang yang ditransfer itu masuk maka uang tersebut sah. “Mungkin bisa dikembalikan bank atau bank bisa konfirmasi ke penerima uang tersebut,” papar Ary lagi.

Ada juga peserta seminar yang bertanya seputar jumlah jaminan yang diberikan LPS kepada tabungan nasabah yang sebesar Rp 2 miliar. Tetapi kalau ada nasabah yang simpanan atau tabungan di bank lebih dari Rp 2 miliar.
Ada dua penjelasan yang diberikan Ary Rismi. Pertama, disebutkan data menunjukkan 99 persen nasabah di Indonesia itu tabungan sekitar Rp 2 miliar. “Hanya 1 persen yang memiliki tabungan lebih dari Rp 2 miliar,” paparnya.

Kedua, kata dia, kalau ada uang lebih dari Rp 2 miliar maka perlu dibuat siasat supaya bisa terjamin semua yakni dipecahkan tabungannya di bank yang berbeda atau dipecahkan atas nama anggota keluarga.

Kemudian Ary menjelaskan panjang lebar peran dan fungsi LPS kepada peserta seminar yang memang sangat antusias untuk mengetahui peran dan fungsi LPS itu sendiri.

Arya menguraikan, secara detil, LPS mempunyai beberapa tugas dalam menjalankan fungsinya, antara lain merumuskan dan menetapkan kebijakan pelaksanaan penjaminan simpanan; melaksanakan penjaminan simpanan; merumuskan dan menetapkan kebijakan dalam rangka turut aktif memelihara stabilitas sistem perbankan. Merumuskan, menetapkan, dan melaksanakan kebijakan penyelesaian bank gagal yang tidak berdampak sistemik. “Melaksanakan penanganan bank gagal yang berdampak sistemik,” urainya.

Dijelaskannya, untuk menunjang tugas dan fungsi tersebut, LPS diberikan wewenang antara lain menetapkan dan memungut premi penjaminan dan kontribusi ketika bank pertama kali menjadi peserta sekaligus melakukan pengelolaan kekayaan dan kewajiban LPS; mendapatkan data simpanan nasabah, data kesehatan bank, laporan keuangan bank, dan laporan hasil pemeriksaan bank sepanjang tidak melanggar kerahasiaan bank sekaligus melakukan rekonsiliasi, verifikasi dan konfirmasi atas data tersebut.

Selain itu menetapkan syarat, tata cara dan ketentuan pembayaran klaim; menunjuk, menguasakan, dan menugaskan pihak lain bertindak atas nama LPS, untuk melaksanakan sebagian tugas tertentu; serta melakukan penyuluhan kepada bank dan masyarakat tentang penjaminan simpanan termasuk menjatuhkan sanksi administratif bagi yang melanggar ketentuan

Sementara Bunda Tutik mengaku bangga dan salut terhadap semangat dan rasa ingin tahu apara siswa SMKN Bali Mandara. Ini terlihat dari antusias dan aktif dalam sesi diskusi. “Terus terang kenapa mitra kerja senang diajak ke SMKN Bali Mandara karena antusias para siswa itu. Mereka senang karena apa yang disampaikan itu diikuti dengan serius dan tekun oleh anak-anak, dan aktif saat sesi tanya jawab,” papar Bunda Tutik. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *