Astaga! Alat Peringatan Dini Tsunami Seririt Tak Terawat

Foto Balieditor.com-cha: Alat peringatan dini tsunami di Seririt yang tak terawat

BALIEDITOR.COM – Sebuah kondisi yang seharusnya tidak terjadi. Betapa tidak? Belakangan ancaman gempa bumi disertai tsunami semakin membuat cemas terutama warga yang tinggal di kawasan pesisir Bali Utara, namun alat peringatan dini tsunami Seririt, Buleleng, dalam keadaan tidak terawat.

BMKG melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, tahun 2015 silam telah memasang sistem peringatan dini untuk bagian barat Buleleng tepatnya dibangun di Lapangan Umum Desa Sulanyah, Kecamatan Seririt.

Belakangan dikabarkan, banyak alat peringatan dini tsunami yang terpasang di beberapa tempat dalam kondisi rusak. Nah, bagaimana dengan alat peringatan dini tsunami berupa sirene yang terpasang di Seririt? Hasil penelusuran menyebutkan, alat peringatan dini tsunami itu dalam keadaan tidak terawat.

Pintu pagar pembatas telah raib. Bahkan sejumlah peralatan tidak berfungsi dengan baik termasuk yang paling vital, box pengaman meteran listrik tidak memiliki pengamanan yang memadai.Ironisnya,sejumlah anak-anak kerap terlihat bermain dengan santai diareal dalam peralatan yang harganya cukup mahal itu.

Terkait pengamanan maupun masih berfungsi atau tidaknya alat peringatan dini tsunami di Seririt, Kepala Pelaksana BPBD Buleleng,Ida Bagus Suadnyana, mengaku tidak mengetahuinya. Ia menyebut kewenangan pemeliharaan dan pengawasan ada pada Pusat Pengendali Operasi (Pusdalop) BPBD Provinsi Bali.

Menurutnya, alat tersebut terpasang dibawah pengawasan provinsi sehingga pihaknya tidak mengetahui alat tersebut masih berfungsi atau tidak. ”Alat ini (Peringatan dini tsunami,red) di kelola oleh Pusdalop BPBD Provinsi Bali,” jawabnya singkat, Rabu (3/10/2018).

Mengingat di Bali Utara ada beberapa titik rawan gempa bumi, Suadnyana mengaku bahwa alat peringatan dini tsunami hanya terpasang di satu lokasi yakni di kecamatan Seririt. ”Di Buleleng hanya satu lokasi yakni di Seririt,” ujarnya.

Sementara, Camat Seririt, I Nyoman Riang Pustaka mengaku diminta pihak provinsi untuk melakukan pemantauan terhadap alat tersebut. Bahkan setiap tanggal 26 pihaknya diminta melakukan cheking atas suara sirene yang secara otomatis dibunyikan melalui provinsi.

”Memang kami diminta untuk memantau suara sirene yang dibunyikan setiap tanggal 26 untuk memastikan alat itu berfungsi.Hasilnya,memang berbunyi kendati sangat kecil. Sedang kewenangan pemeliharaan bukan ada pada kami,” tandasnya.

Melihat kondisi ini, banyak yang mempertanyakan kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi jika sewaktu-waktu musibah itu datang. Terlebih Bali Utara, berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), di bawah Pulau Bali terdapat zona gempa bumi berupa patahan dengan kedalaman 100 kilometer dan memiliki kemiringan mencapai 65 derajat. Bahkan daya jangkaunya hingga kedalaman 650 kilometer di bagian utara Bali.

Disebutkan, di wilayah Kabupaten Buleleng terdapat 3 patahan yang dianggap cukup rawan. Patahan di kawasan laut Desa Pengastulan, Kecamatan Seririt, patahan di Desa Banyuwedang, Kecamatan Gerokgak dan patahan Tejakula. Terlebih dalam catatan sejarah, Bali Utara sempat beberapa kali mengalami tsunami yakni tahun 1815, 1817, 1857 dan 1917.

Data ini menunjukkan bahwa Bali Utara sangat rentan dengan terjadi gempa bumi disertai tsunami. (cha/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *