Balai Besar Riset Budidaya Laut Gondol Gelar Bimtek

Foto Balieditor.com-cha: BBRBLPP gelar Bimtek

BALIEDITOR.COM – Balai Besar Riset Budidaya Laut Dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP),Kementerian Kelautan Dan Perikanan, Gondol, Desa Penyabangan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, kembali merilis hasil riset yang dianggap memiliki nilai ekonomis tinggi.

Salah satunya budidaya teripang pasir diyakini akan memiliki prospek pasar yang cukup menjanjikan. Dengan minat pasar yang cukup tinggi dan harga relatif mahal, nampaknya teripang pasir akan menyusul keberhasilan budidaya bandeng dan anakannya (nener) yang terlebih dahulu menguasai segmen nener nasional dan dunia.

Kepala BBRBLPP Gondol, Ir Bambang Susanto, M.Si, mengatakan, setelah dilakukan riset terhadap keberadaan teripang pasir, hasilnya sangat prospektif dan menjanjikan keuntungan ekonomis. Menurut Bambang, sebagai pusat unggulan Iptek pembenihan ikan laut, pihaknya ingin mengaplikasikan hasil riset agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

”Tekhnologi perbenihan dan pendederan teripang sangat diharapkan oleh masyararakat dan selalu diminta, ini saat yang tepat untuk kebangkitan tekhnologi sekaligus percontohan penyuluhan,”ujar Bambang Selasa (6/8/2019) usai Bimtek Budidaya Teripang Pasir Pada Kurungan Jaring Tancap dan Aplikasi Probiotik RICA Pada Budidaya Udang di Tambak dalam Rangka Hari Bakti Inovasi dan Teknologi Nasional ke 24 Tahun 2019.

Acara itu dihadiri oleh Kepala Subdirektorat Industri Pangan,Kesehatan dan Obat,Direktorat Jendral Penguatan Inovasi Pendidikan Tinggi,Novy Mukti Rahayu dan Kepala Subdirektorat Penjaminan Mutu dan Perikatan Kinerja,Penelitian dan Pengembangan,Direktorat Penelitian dan Pengembangan Kementrian Riset,Tekhnologi dan Pendidikan Tinggi,Galuh Indah Palupi.

Kata Bambang,teripang memiliki banyak keistimewaan untuk dikembangkan.Diantaranya untuk bahan pangan,kosmetik,ekspor dan farmasi.Khusus farmasi dan dunia kesehatan,teripang menjadi bahan dasar untuk dijadikan obat untuk kepentingan operasi cesar.

”populsai teripang sebelumnya dialam banyak sekali. Namun sekarang nyaris punah sehingga kami buat tekhnologi perbandingan. Dan setelah berhasil kemudian dilakukan sinergi dengan balai-balai yang lain termasuk dari biotekhnologi,” ucap Bambang.

Kelangkaan teripang itu,menurut Bambang,akibat adanya overfishing dan eksploitasi sangat tinggi karena sangat banyak permintaan terhadap teripang ini.

”Contohnya saat ada perimintaan dari Belitung Timur untuk mengembangkan teripang. Karena disana (Belitung,red) harganya ratusan ribu perkilo. Bahkan kalau kering,harga teripang bisa mencapai jutaan rupiah. Sehingga masyarakat dan nelayan dilatih oleh dinas dan kami sebagai narasumber untuk melakukan pendampingan,”imbuhnya.

Teripang saat ini,kata Bambang, sedang menjadi kegemaran banyak komunitas dan permintaan eksportir cukup tinggi karena itu disemua tempat sedang dilakukan budidaya.

”Budidaya teripang belum sebanyak krapu dan bandeng karena butuh proses pembenihan dan pembesara. Saat ini tengah dicoba melalui kramba jaring apung,kramba jaring tancap dan ditambak sedang dicoba. Ini mirip bandeng, awalnya masyarakat menolak karena menganggap dilaut banyak dan sekarang tidak ada. Khusus bandeng skala rumah tangga di Gerokgak mampu menghasilkan perputaran ekonomi sebanyak Rp 171 miliar/tahun. Kini teripang kembali diminati oleh para pembudidaya di Buleleng yang polanya hampir sama dengan bandeng,” tandasnya.

Sementara, Novy Mukti Rahayu, mengatakan, penyelenggaran Bimtek dikaitkan dengan Hari Bakti Inovasi dan Teknologi Nasional ke 24 Tahun 2019, karena temanya industry 4.0 dan di Bali makin banyak industry kecil yang bergerak ke arah 4.0.

”Kami memberikan inovasi dan menyerahkan 17 produk ke kabupaten di Bali, salah satunya yakni budi daya teripang pasir. Kenapa teripang karena merupakan potensi daerah yang harus dibudidayakan,” kata Novy.

Dalam pidato presiden,kata Novy, dalam jangka 5 tahun kedepan sudah harus dilakukan inovasi dan tidak lagi riset.

”Kita sudah masuk mindset pembudidaya kita samakan SOP nya dan hasil inovasi akan mempercepat masyakat menggunakan hasil LIPI dan BBRBLPP,” ujarnya. (cha/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *