Bau dan Suara Bising, Warga Desak Usaha Peternakan Babi di Bila Ditutup

Fotl Balieditor.com-ngr: Spanduk penolakan ternak babi di Bila

Fotl Balieditor.com-ngr: Spanduk penolakan ternak babi di Bila

BALIEDITOR.COM – Sebanyak 22 KK warga Dusun Kawanan, Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, bali, kini mulai mengeluh keberadaan peternakan babi dengan skala besar di wilayahnya.

Mereka mengeluhkan bau tidak sedap dari usaha ternak babi setiap hari. Bukan hanya itu tapi juga suara bising yang keluar dari babi yang dikelola oleh PT Anugerah Bersama Sukses (ABS).

Dari hasil pantauan di lokasi pada Kamis (18/1/2018), lokasi PT ABS berdekatan dengan rumah warga. Suara babi memang terdengar cukup keras, termasuk juga bau yang ditimbulkan dari peternakan babi tersebut.

Bahkan sebagian warga yang tinggal di sekitar lokasi perternakan, memakai masker karena bau yang menyengat.

“Saya nggak kuat, buat saya mual-mual. Bahkan sampai masuk ke dalam rumah. Saya siasati dengan memasang penutup dari plastik di ventilasi, tetapi baunya tetap kecium,” kata salah seorang warga, Ketut Tiari, 76, ditemui di sekitar lokasi peternakan.

Keluhan warga ini sudah dilaporkan ke beberapa instansi, seperti DPRD Buleleng dan Pemkab Buleleng. Namun, tidak ada jawaban yang diterima oleh bagi warga yang menolak keberadaan peternakan itu. Bahkan pihak desa terkesan melindungi usaha peternakan di laham seluas hampir 1,5 hektare itu.

Menurut Putu Padma, salah seorang warga yang getol menolak usaha ini, justru melihat ada kejanggalan atas terbitnya rekomendasi tersebut. Sebab, Perda Buleleng No. 9 Tahun 2013 tentang rencana tata ruang wilayah Kabupaten Buleleng tahun 2013-2033, pada pasal 91 huruf d, menyatakan pelarangan pengembangan usaha peternakan skala besar di dalam kawasan permukiman.

Bahkan, pada surat keputusan menteri pertanian No. 406/KPTS/ORG/6/80, ada menyebutkan peternakan dalam skala besar tidak terletak di pusat kota dan pemukiman penduduk yang jaraknya kurang dari 1000 meter.

“Perternakan ini, hanya 300 meter dari pemukiman warga kok. Artinya ini dekat dengan rumah penduduk,” kata Padma.

Warga sejatinya sudah menolak rencana investor pada bulan Juni 2016 lalu saat membeli lahan seluas 2,75 hektar di Banjar Dinas Kawanan untuk dijadikan peternakan babi. Namun sayang, proses izin perusahaan terus berlanjut hingga akhirnya PT. ABS dapat izin lingkungan, UKL/UPL, IMB, HO dan izin lainnya ditengah penolakan warga. Bahkan saat grand opening, dihadiri oleh Wakil Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra, pada Oktober tahun 2017.

“Sejak awal, investor datang, tidak ada penawaran ke warga, setuju atau tidak proyek ini. Setelah ada keluhan, kami dikumpulkan dan rembug. Dulu sempat kami meminta dana kompensasi Rp 500 juta selama 5 tahun kepada PT ABS, tapi tak terpenuhi. Kemudian turun menjadi Rp 400 juta untuk 22 KK dengan bayar diawal juga tidak dipenuhi. Sekarang, bagi kami tidak ada solusi lagi. Kami mau perusahaan itu ditutup karena telah merugikan kami,” tegas Padma. (ngr/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *