Bayi Penderita Hygroma Colli, Akhirnya Meninggal Dunia

Foto Balieditor.com-cha: Bai malang asal Pengastulan akhirnya meninggal dunia di RSUP Sanglah Denpasar

BALIEDITOR.COM – Bayi malang,Gede Fendi Pratama Wijaya Putra,asal Banjar Dinas Purwa,Desa Pengastulan,Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali, yang sebelumnya diduga menderita penyakit kelenjar getah bening, akhirnya meninggal dunia.

Putra pasangan Komang Yobi Suarjaya, 21, dan Tati Umiyati, 21, meninggal dunia di RSUP Sanglah, Rabu (9/10/2019) sekitar pukul 03.30 wita.Bayi yang lahir melalui operasi cesar ini ternyata oleh dokter yang merawatnya didiagnosa mengidap penyakit hygroma colli yakni pertumbuhan tidak wajar pada jaringan bagian leher.

Meninggalnya Gede Fendi menyisakan duka mendalam buat keluarga Komang Yobi.Tati Umiyati, ibu bayi,sangat shock dan terlihat beberapa kali tidak sadarkan diri.Begitu juga dengan keluarga lain terutama sang nenek. Sejak jenazah Gede Fendi turun dari ambulans RSUP Sanglah yang membawa ke rumahnya, tak henti-hentinya menangis sehingga membuat suasana kediaman Komang Yobi diliputi keharuan mendalam.Sementara keluarga besar lainnya terlihat sibuk mempersiapkan upacara penguburan yang rencananya dilakukan hari yang sama sekitar pukul 16.00 wita di setra Desa Pakraman Pengastulan.

Komang Yobi mengatakan,anak pertamanya itu meninggal setelah diupayakan pertolongan medis usai dilakukan operasi yang kedua. Menurut penjelasan pihak rumah sakit, kata Komang Yobi, anaknya tidak menderita pembengkakan kelenjar getih bening namun dikatakan mengidap hygroma colli.Sebelumnya, telah dilakukan operasi pertama untuk mengangkat benjolan diseputaran leher Gede Fendi. ”Operasi pertama berjalan sukses namun beberapa waktu kemudian tumbuh lagi benjolan bernanah disekitar lehernya,” ungkapnya.

Yobi mengaku anaknya sudah hampir satu bulan lebih dirawat di RSUP Sanglah.Paramedis di rumah sakit, kata Yobi, telah melakukan upaya maksimal untuk menyelamatkan anakanya.Namun takdir berkata lain,usai operasi yang kedua kondisi kesehatan Gede Fendi terus merosot hingga akhirnya meninggal. ”Sebelumnya sempat makan melalui selang yang dipasang melalui hidung.Dan setelah itu kondisi anak saya terus menurun hingga akhirnya meninggal sekitar pukul 03.30 wita,” ujarnya.

Komang Yobi yang masih terlihat shock atas meninggalnya anak pertama itu, menyatakan salut atas ketulusan berbagai pihak yang membantunya.Mulai lahir hingga anaknya meninggal,para pihak yang membantunya tidak berhenti mengalir. ”Terimakasih saya sampaikan atas kebaikan semua pihak yang telah membantu,” tandasnya.

Sebelumnya,pasangan muda Komang Yobi Suarjaya, 21, dan Tati Umiyati, 21, melahirkan putra pertamanya di RSUP Sanglah. Pilihan melahirkan di rumah sakit itu setelah dalam masa kehamilan ditemukan kelainan pada struktur pipi bayi. Ada benjolan pada pipi kiri dan itu terlihat saat dilakukan ultrasonografi (USG) pada usia kehamilan 5 bulan.

Oleh bidan yang merawat kehamilan Tati,diberi catatan dalam buku kontrol kehamilan terkait kondisi bayi tersebut. Menurut petugas medis,bayinya mengalami kelainan sejak dalam kandungan akibat terinfeksi bakteri tertentu sehingga berimbas pada perkembangan bayi. ”Katanya terinfeksi bakteri pada saat proses kehamilan,” imbuhnya. (cha/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *