Bisnis Lendir Warung Kopi Berdinding Korden

Foto Balieditor.com-cha: Camat Buleleng Gede Dody

BALIEDITOR.COM – Setelah kalah bersaing dengan cafe pertengahan tahun 2000-an, kini warung kopi yang dikenal dengan sebutan Dakocan alias dagang kopi cantik, mulai bangkit dan bergeliat kembali di Buleleng, Bali.

Ironisnya, tidak ada yang menyangka warung kopi di Buleleng menyediakan layanan plus-plus.

Warung kopi di sepanjang jalan Raya Singaraja-Gilimanuk tepatnya masuk kawasan Desa Anturan, Lovina, terlihat seperti warung kopi biasa. Sepintas tak terlihat jika warung itu menyediakan
layanan seks untuk pria hidung belang.

Biasanya, para pria terutama sopir truck suka mampir sekedar ngopi atau ingin mendapat layanan tambahan berupa layanan seks. Cukup merogoh kocek Rp 100 ribu maka surga dunia akan didapat. Murah meriah.

Hasil penelusuran Balieditor.com Jumat (2/8/2019) mendapat fakta praktik asusila itu dilakukan secara terang benderang.

Memasuki salah satu warung kopi yang berada dekat dengan gapura masuk kawasan pantai Lovina di Desa Anturan, warung ini tidak buka di malam hari namun aktivitas dimulai pukul 10.00 hingga 18.00 wita,lengkap dengan penjaja seksnya.

Waitress warung kopi sudah tergolong senior. Mereka rata-rata berusia 30 tahun ke atas dengan postur tubuh ukuran XXL alias gendut.

Tarif yang ditawarkan tidak mahal bahkan terbilang cukup murah. Hanya membayar Rp 100 ribu pengunjung langsung bisa bermain di belakang warung kopi yang hanya berdinding korden.

“Korden warung ditutup bisa main dah mas,”ujar salah satu pekerja seks saat menawarkan diri saat berkunjung.

Dikorek lebih jauh,dia mengaku warung kopi hanya sebagai kedok  untuk menutupi praktik prostitusi sebenarnya.Dengan terlihat sebagai warung kopi maka petugas tidak curiga dan dapat dikelabui.

“Saat ada razia akan sulit diketahui aparat,” imbuh perempuan berumur 30-an tahun ini.

Menurutnya,dengan buka pagi hingga sore saja,dimaksudkan untuk menghindari pantauan petugas.Terlebih belakangan kerap Sat Pol PP dan Polisi melakukan razia.”Dan buka pagi hari adalah pilihan paling pas untuk menghindari petugas,”ulangnya.

Praktik warung kopi plus-plus tersebut telah berlangsung selama 2 tahun. Ironisnya, hampir selalu luput dari razia aparat.Padahal beberapa kali pernah di razia namun aprata gagal mengendus bisnis lendir tersebut.

Selain itu, untuk.menghindari razia petugas,transaksi kerap dilakukan dengan sistem booking langsung saat pelanggan mampir ke warung kopi.

“Jika deal kami akan panggil pekerja seks yang standby di tempat kos,” tandasnya.

Bagsimana tanggapan Camat Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara? Camat Dody mengaku tidak mengetahui adanya praktik esek-esek berkedok warung kopi di wilayahnya.

“Saya malah belum tahu ada info sperti itu. Nanti akan saya cek,” ucap mantan sekcam Kubutambahan itu singkat. (cha/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *