Catatan Ringan Redaksi: Raup Belasan Ribu Suara, Benarkah Caleg Terpilih Berbiaya Rp 0?

Ilustrasi

BALIEDITOR.COM – PERSETERUAN di tubuh Partai NasDem Bali terutama kasus dugaan money politics dan biaya kampanye nol rupiah milik Caleg terpilih DPRD Bali dari Partai NasDem, Dapil Buleleng, DR Somvir, memantik banyak komentar dan reaksi.

Menariknya, kasus kampanye dengan biaya Rp 0 ala Somvir yang dilaporkan pentolan LSM Forum Peduli Masyarakat Kecil (FPMK) Buleleng, Gede Suardana, S.Farm, ke Bawaslu Bali itu juga menjadi cerita menarik di warung-warung kopi di Buleleng.

Lucunya, ada plesetan cerita di warung-warung yang menyamakan kampanye Rp 0 ala Somvir itu dengan biaya ngaben Rp 0 yang digelar di sejumlah tempat di Bali. “Memang sekarang kan banyak acara ngaben massal, ya ngaben nol biaya, makanya rumus ngaben nol biaya itu diadopsi caleg waktu kampanye. Ya kampanye nol biaya suaranya sebanyak-banyaknya,” cerita sejumlah sopir angkot Singaraja di sebuah warung di Terminal Banyuasri Singaraja.

Tampaknya, masyarakat kelas bawah seperti sopir angkot juga meguping pertarungan para politisi dan kasus-kasus politik yang melibatkan Caleg Partai NasDem DR Somvir itu. Mereka membuat perbandingan kegiatan ngaben massal yang berbiaya murah dengan kegiatan politik yang secara umum membutuhkan biaya besar. “Ngaben NOL biaya, jadi Caleg dengan suara belasan ribu, NOL biaya? Benar apa bohong?” sindir para sopir angkot tersebut.

Sejumlah politisi yang pernah bertarung dalam kontestasi politik Pemilu lalu pun tersenyum sinis mendengar kampanye berbiaya Rp 0. “Tidak ada kegiatan politik seperti kampanye Caleg itu tidak mengeluarkan duit. Itu bohong. Biaya politik sekarang itu mahal,” ungkap Made Teja, S.Sos, Caleg DPRD Bali dari Partai NasDem Buleleng yang suaranya tidak cukup banyak untuk merebut kursi di Renon.

“Melihat bukti Baliho raksasa milik DR Somvir di banyak BILLBOARD berbayar, caleg DR Somvir nggak butuh seoarang ahli untuk mendisain? Apakah nggak butuh tenaga untuk memasang baliho-baliho itu? Rakyat kecil tanpa sekolahpun bisa,” tandas Teja.

Menurut catatan redaksi Balieditor.com, kasus tersebut sudah bergulir di meja Bawaslu Bali. Bola salju itu kini di tangan Bawaslu. Kini Bawaslu Bali yang memegang palu vonis.

Bawaslu Bali harus lebih teliti dan cermat karena secara logika hukum, ada dusta karena tidak ada satupun kegiatan apalagi kegiatan politik yang mengandung kepentingan pertarungan individu, tanpa biaya. Sejumlah kegiatan berbau keagamaan saja harus mengeluarkan biaya apalagi Pemilu Legislatif yang lebih berbau kepentingan individu caleg, maka dipastikan ada biaya entah berapa besarnya.

Jangan sampai ada vonis social buat Bawaslu Bali dan KPU Bali bahwa kedua lembaga penyelenggara Pemilu pura-pura tidak tahu atau pura-pura bodoh sehingga dalam putusannya Bawaslu Bali memenangkan Somvir.

“Kalau Bawaslu Bali dan KPU Bali percaya sama slogan Somvir Kampanye berbiaya Rp 0, maka besok-besok minta bantuan Bawaslu Bali dan KPU Bali biar menjadi Caleg dengan biaya Rp 0 dapat belasan ribu suara. Hebat itu,” sindir Teja.

Bila putusan Bawaslu Bali berpihak kepada Somvir, maka pelapor Gede Suardana pun sudah menyiapkan “kuburan” bagi komisioner Bawaslu Bali yakni akan melaporkan Bawaslu Bali ke DKPP. Karena dengan bukti-bukti yang ada, Suardana yakin DKPP bakal mengabulkan laporannya dan menghukum komisioner Bawaslu Bali. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *