DPR RI, Bunda Tutik: “Dewan Hanya Mementingkan Diri Sendiri, Masyarakat yang Jadi Korban”

Foto-Foto Istimewa: Bunda Tutik bertemu dengan anggota subak dan masyarakat di Banjar Tegeha

BALIEDITOR.COM – Anggota Komisi XI DPR RI Tutik Kusuma Wardhani terus melakukan blusukan ke masyarakat di pelosok desa. Seperti yang dilakukan Sabtu (20/10/2018) siangdi Kabupaten Buleleng, Bali.

Legislator dari Fraksi Demokrat itu bertemu sekaligus bertatap muka utnuk menyerap aspirasi. Kelompok masyarakat ditemui politisi lincah ini subak Tampekan Batan Dulang Desa Banjar Tegeha, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali.
Bagi Bunda Tutik pertemuan dan silaturahmi ini merupakan suatu kewajiban baginya karena ia terpilih dari masyakat. “Merupakan suatu tugas dan kewajiban sebagai anggota dewan yang harus selalu dekat dengan masyarakat,” tandasnya.

Pertemuan di anggota subak itu dilakukan di pura subak dihadiri oleh 175 krama subak, dan beberapa dari kelompok suka-duka desa setempat. Di sana juga turut hadir I Gede Dharma Widjaya yang Caleg Demokrat untuk DPRD Bali yang selalu setia menemani kemanapun Bunda Tutik melangkah.

I Gede Dharma Widjaya adalah seorang politisi senior yang pernah menjadi Ketua DPC Demokrat Buleleng dan pernah juga menjadi Wakil Ketua DPRD Bulelneg.

Hadir pula tokoh masyarakat dari Desa Banjar Tegeha, Ida Bagus Made Geriastika, mantana Asisten II Setkab Buleleng, yang menjabat Camat Banjar dan sekarang maju menjadi caleg DPRD Kabupaten Buleleng Dapil V (Banjar-Busungbiu) dari Demokrat.

Yang menarik disimak dalam kunjungan Bunda Tutik kali ini adalah, antusias masyarakat setempat menyambut kehadiran Bunda Tutik dan rombongan. Pdahal ini merupakan kali pertama Bunda Tutik datang ke Desa Banjar Tegeha.

Pada kesempatan itu Bunda Tutik menyatakan dirinya sebagai wakil rakyat sudah sepatutnya selalu dekat dengan masyarakat untuk mendengar aspirasi masyarakat kemudian diperjuangkan.

“Jadi, bapak-bapak harus memilih anggota dewan yang benar. Kalau anggota dewan hanya mementingkan diri sendiri, maka yang menjadi korban adalah bapak-bapak dan ibu-ibu,” ujar Bunda Tutik di hadapan ratusan warga itu.

Ia berharap masyarakat ke depan lebih cerdas menilai perilaku anggota dewan baik itu DPRD maupun DPR RI, yang tidak banyak memperhatikan masyarakat di desa-desa. “Jadi, kedepan harus lebih cerdas lagi inggih,” ujarnya.

Kemudian Bunda Tutik bercerita tentang kekaguman masyarakat internasional terhadap Bali. Rasa kagum dunia itu terlontarkan karena Indonesia dalam situasi kacau karena dihantam bencana alam, tetapi Bali tetap damai dan berhasil menggelar pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua, Badung.

“Bali ini sangat dikagumi oleh dunia, karena di dalam situasi yang sangat sulit, kemarin terjadi gempa di Lombok, kemudian gempa di Palu. Karena acara ini sudah direncana ya harus dilaksanakan. Dan Bali bisa menyelenggarakan dengan sangat bagus sekali. Peserta-peserta IMF hadir sangat memperhatikan Bali,” papar Bunda Tutik.

Pada kesempatan itu Bunda Tutik juga mengingatkan masyarakat bahwa pemerintah pusat kini setiap tahun mengkucurkan uang besar kepada desa sehingga masyarakat perlu mengetahuinya sekaligus melakukan pengawasan terhadap dana desa yang diterima perbekel masing-masing desa dengan jumlah cukup besar itu yakni sekitar Rp 2 miliar.

“Tahun depan, tahun 2019 akan dinaikkan lagi dana desa. Karena tiang (saya, red) ada di bagian anggaran jadi tahu. Dana desa tahun depan dinaikkan menjadi 74.000 triliun,” ungkapnya. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *