Fenomena: Dosen Biololgi Bilang Jamur Tak Keluarkan Asap Tapi Spora

Foto-Foto Balieditor.com-ggh: Nyoman Sukanada menunjukkan jamur asap yang tumbuh di dahan pohon mangga depan rumahnya di di Dusun Buana Sari, Desa Kayuputih, Buleleng, Rabu (2/11/2016).

Foto-Foto Balieditor.com-ggh: Nyoman Sukanada menunjukkan jamur asap yang tumbuh di dahan pohon mangga depan rumahnya di di Dusun Buana Sari, Desa Kayuputih, Buleleng, Rabu (2/11/2016).

BALIEDITOR.COM – Teka-teki jamur mengeluarkan asap terjawab sudah. Adalag dosen Biologi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja, Bali, Dr Ni Lih Putu Manik Widiyanti Ssi MKes yang membongkar tabir jamur itu.

Ia mengatakan, jamur yang tumbuh di dahan pohon mangga yang berada di halaman depan rumah pasangan suami istri, Nyoman Sukanada, 65, dan Made Kendri, 60, di di Dusun Buana Sari, Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, Buleleng adalah jamur kayu berjenis jamur papan atau bahasa latinnya genoderma. Menurut dia, jamur itu tidak mengeluarkan asap, tetapi bibit perkembangbiakan jamur atau disebut spora.

“Kalau dilihat itu (asap) adalah spora, karena spora diterbangkan angin maka terlihat seperti asap,” kata Widiyanti, Kamis (3/11/2016)
.
Kata dia, jamur akan mulai mengeluarkan spora ketika usianya telah matang. Spora itu akan menyebar dan akan menjadi bibit-bibit jamur baru. “Contohnya pada jamur tempe, kalau sudah matang akan menghasilkan spora di dalam sporanium, makanya tempe kalau terlalu lama akan berwarna hitam,” ucapnya.

Jamur papan. Jelas Widiyanti, biasa tumbuh di pohon-pohon hutan yang telah lapuk. “Dia (jamur genoderma) tumbuhan saprofit yang membutuhkan media yang bisa ditumbuhi seperti bagian pohon yang lapuk,” katanya.

Jamur Genoderma ini di Tiongkok bahkan sudah mulai dibudidayakan sebagai bahan obat-obatan. Namun perlu identifikasi lebih lanjut untuk mengetahui bisa tidaknya jamur yang ditemukan di Desa Kayuputih ini dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan.

“Di Tiongkok sudah dibudidayakan di dalam sebuah pot dengan media kayu. Cuma untuk yang ini bermanfaat atau tidak perlu dikaji lebih lanjut. Ganoderma itu sendiri kan ada banyak spesiesnya, yang ini cocok tidak untuk dibudidayakan,” tuturnya.

Widiyanti yang juga sebagai Kepala Laboratorium Biologi Undiksha ini mengatakan jika jamur ganoderma tidak beracun. Jamur ini tidak akan berbahaya ketika disentuh. “Kalau dipegang aman, tapi kalau mau dibuat obat perlu identifikasi lagi,” pungkasnya. (ggh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *