Ganggang Hijau di Danau Buyan Diolah Jadi Pupuk Organik oleh Petani

  Foto Balieditor.com-frs: Potensi peluang pupuk organik dikembangkan Kelompok Bulian Amertha Sari di Desa Pancasari Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Kamis (3/11/2016).


Foto Balieditor.com-frs: Potensi peluang pupuk organik dikembangkan Kelompok Bulian Amertha Sari di Desa Pancasari Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Kamis (3/11/2016).

BALIEDITOR.COM – Petani di sekitar Danau Buyan, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, patut diacungi jempol. Bahkan mereka boleh dikatakan kelompok kreatif nan inovatif.

Sebagai bukti, para petani itu mampu mengolah ganggang hijau di Danau Buyan menjadi pupuk organik. Selama ini ganggang hijau dianggap tumbuhan liar yang tidak berguna, namun kini di tangan petani tergabung dalam kelompok Bulian Amertha Sari, menjadi sebuah barang bernilai ekonomis cukup tinggi.

Setelah setahun berjalan petani mulai kewalahan menerima pesanan pupuk organik yang dinilai ampuh menyuburkan beragam tanaman.

Sejumlah anggota Kelompok Bulian Amertha Sari, terlihat ulet mengolah gulma ganggang hijau, enceng gondok dan kapu-kapu. Pengolahan bersifat manual tradisional karena hanya memanfaatkan mesin selip pencacah yang berukuran kecil.

Produksi pupuk organik tersebut meminimalisir kerusakan lingkungan atau pendangkalaan danau disebabkan pertumbuhan masif gulma di seluruh titik Danau Buyan. “

Kita berproses memproduksi pupuk hampir satu tahun lebih. Gulma ganggang hijau diambil dari danau memakai pedau atau perahu kecil dan dikeringkan untuk dicacah halus memakai mesin,” ujar Gede Pasek Sujana, 50, asal Desa Pancasari, Kamis (3/11/2016).

Pembuatan pupuk berdasarkan riset merebak luasnya ganggang hijau memenuhi Danau Buyan. Hasilnya sebelum menjadi pupuk organik siap pakai, cacahan gulma ditambah cairan EM4. Petani memanfaatkan sinar matahari untuk menghasilkan pupuk organik berkualitas baik.

“Kita tunggu sampai kering hampir satu minggu dan lalu dimasukan ke karung plastik seberat 10 Kg, 25 Kg dan 50 Kg. Harga pupuk organik Rp 1000 per kilogram. Pupuk dipakai pembibitan, menyuburkan tanaman sayur-sayuran dan perkebunan,” paparnya.

Sujana mengungkapkan, kelompok tani membutuhkan bantuan Pemerintah Provinsi, Kabupaten atau swasta meningkatkan kualitas pupuk. Upaya dimaksud membutuhkan alat pencacah berukuran besar.

“Petani ada membeli pupuk organik berjumlah banyak, itu dari Bukit Catu, Candi Kuning, Kembang Sari hingga Pancasari. Ini sekali kami produksi pupuk sudah habis dibeli. Setiap hari ada saja yang order membeli. Terakhir kita produksi pupuk sebanyak 2 ton. Kami kewalahan memenuhi pesanan karena mesin pencacah cuman ada satu,” ungkapnya. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *