Human Interest: Anak Masuk ICU, Tak Punya Uang, Pasutri Miskin Bingung

Foto Balieditor.com-ngr: Gosita berbaring lemas di ICU

Foto Balieditor.com-ngr: Gosita berbaring lemas di ICU

BALIEDITOR.COM – Buleleng, Bali, tidak dikategorikan daerah miskin, namun fakta menyebutkan bahwa di kabulaten di Bali Utara itu masih terdapat banyak keluarga miskin.

Contohnya, di Banjar Dinas Alasangker, Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng. Masih ada keluarga miskin yang kini kesulitan biaya untuk membiaya pengobatan anaknya.

Seperti yang dialami pasangan suami istri (pasutri) Kadek Budiasa, 29, dan Kadek Ayu Sudarmi, 29. Pasutri ini kini kesulitan uang untuk membiaya pengobatan anaknya bernama Kadek Gosita Dharmaputra, 4,5, yang terbaring lemas di ruang ICU RSUD Buleleng, karena mengalami infeksi paru-paru, sejak Kamis (4/1/2018) lalu.

Kedua orang tua Gosita pun kini tidak bisa berbuat apa, mengingat sakit yang diderita anaknya ini mengharuskan anaknya dirawat intensif di ruang ICU RSUD Buleleng.

“Ya, mau gimana lagi. Ini harus dijalani, untuk kesembuhan anak saya, saya tidak bisa berbuat apa,” kata ibu Gosita, Ayu Sudarmini, Senin (8/1/2018) ditemui di ruang ICU RSUD Buleleng.

Sejak anaknya dirawat ayah Gosita, Budiasa yang sehari-hari bekerja sebagai buruh toko terpaksa harus memutar otak, untuk mencari dana biaya pengobatan putra kesayangannya itu. Terlebih, Budiasa hanya mempunyai Kartu JKN KIS yang berlaku hanya untuk dirinya. Sedangkan, istri dan kedua anaknya tidak memiliki.

Baca Juga:  Human Interest: PBMB Bantu Anak Yatim Piatu di Bukti

Sehingga sejak dirawat di RSUD Buleleng, anaknya hanya masuk sebagai pasien umum. Kondisi itulah yang kini membuat Budiasa, harus bingung untuk memikirkan biaya yang dipergunakan selama pengobatan anaknya. “Saat dirujuk ke RSUD saya panik, soalnya tidak memiliki kartu jaminan kesehatan untuk anaknya. Akhirnya masuk kategori pasien umum,” ujar Budiasa.

Menurut Budiasa, ia bahkan sempat mendaftarkan anaknya untuk bisa mendapatkan kartu BPJS Kesehatan, pada Kamis (4/1) siang. Namun sesuai aturan, BPJS Kesehatan baru bisa diaktivasi (dipergunakan, red) 14 hari sejak didaftarkan. “Itu masih nunggu, lama nunggunya,” jelas Budiasa.

Lantaran benar-benar merasa kesulitan ekonomi, Budiasa pun memberanikan diri meminta bantuan kepada Kadus Alasangker, agar ia dibantu mengurus Kartu KIS Mandiri. Namun, pengurusan KIS Mandiri mandeg lantaran pihaknya sudah mendaftar ke BPJS Kesehatan.

Baca Juga:  (1) Kisah Pilu KK Miskin di Tangguwisa: Rumah Nyaris Ambruk, Kadek Mebel Tak Pernah dapat Bedah Rumah

“Karena di BPJS sudah daftar dan diproses, akhirnya saat mengurus KIS Mandiri tidak bisa. Karena benturan, terpaksa anak saya tidak pakai jaminan apapun,” ungkap Budiasa.

Budiasa kini mengaku pasrah. Ia hanya berusaha sekuat tenaga untuk meminta bantuan biaya pengobatan bagi anaknya. Bahkan, kata dia, pemerintah Desa Alasangker juga turut mencarikan donatur untuk biaya pengobatan. “Bersyukur juga tiang dibantu sama Pak Mekel dan Kadusnya yang mencarikan donatur. Saya hanya berharap, bisa diringankan biaya, juga sudah ada beberapa relawan sempat datang,” harap Budiasa.

Sementara Humas RSUD Buleleng, Ketut Budiantara tidak menampik, ada pasien atas nama Kadek Gosita. Bahkan hingga Senin (8/1/2018) sore, Budiantara menyebut, biaya pengobatan Kadek Gosita sudah mencapai Rp 8,8 juta.

“Memang ada pasien atas nama Kadek Gosita Dharmaputra dari Alasangker. Masuk RS sejak tanggal 4 Janurai 2018. Untuk biaya sementara menurut billing sistem sampai hari ini sebesar Rp 8,8 juta lebih, dan tidak pakai jaminan apa-apa atau termasuk pasien umum,” pungkas Budiantara. (ngr/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *