Human Interest: Dipasung 3 Bulan, Wijana Akhirnya Bebas

Foto Balieditor.com-ngr: Wijana bebas

Foto Balieditor.com-ngr: Wijana bebas

BALIEDITOR.COM – Ketut Wijana, 40, warga Desa Tegalinggah, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, akhirnya bisa menghirup udara bebas setelah 3 bulan lamanya terkurung dan dipasung di dalam gubuk yang ada di belakang rumahnya.

Keluarga sebelumnya tidak ada pilihan lain selain mengurung Wijana yang mengidap gangguan jiwa, lantaran kerap mengamuk.

Wijana merupakan salah satu Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang diikat keluarganya, karena dikwatirkan akan mengganggu warga lainnya, akibat gangguan jiwa yang dideritanya. Wijana oleh keluarganya, memang terpaksa kaki kanannya diikat menggunakan rantai, karena kerap mengamuk.

Kini, Wijana sudah dilepaskan dari penderitaannya, oleh Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia Simpul Bali, bersama Dinas Sosial (Dinsos) Buleleng, pada Selasa (13/3/2018) setelah diobati selama 4 minggu lamanya di rumah Wijana sendiri. Kini sejak dilepas, Wijana bebas melangkah di sekitar rumahnya dan bisa berkumpul dengan keluarga.

Menurut , Luh Jasmi, 35, Wijana mulai mengalami gangguan jiwa sejak 18 tahun lalu. Wijana pun sempat dibawa ke RSJ Bangli hingga 6 kali. Namun saat pulang dari RSJ, Wijana kembali mengamuk. Bahkan, Wijana disebutkan Jasmi pernah merusak rumah dan pelinggih di kediamannya.

“Ya, terpaksa kami ikat karena sering mengamuk. Waktu kami ikat, dia harus dikasih minum pil tidur dulu. Kalau tidak mengamuk, semua dipukul. Itu yang membuat kami takut, bila tidak diikat. Takut melukai warga lain. Selain itu kami tidak bisa menjaga dia selama 24 jam karena kami meburuh. Kalau tidak kerja, kami makan apa,” kata Luh Jasmi, Selasa (13/3/2018) ditemui di kediamannya.

Selama 3 bulan lamanya terkurung, kini Wijana telah dilepas, setelah mendapat pengobatan dan perawatan rutin oleh Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia Simpul Bali dan Yayasan Solemen.

“Perawatan oleh pihak RSJ, tidak ada masalah. Saat pulang pasien memang dipastikan membaik. Tapi, kendala yang dialami ODGJ, tidak diberikan obat rutin sepulangnya dari RSJ,” ujar perwakilan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia Simpul Bali, dr. Rai Putra Wiguna.

Menurut dr. Rai Putra, padahal obat yang diberikan untuk penderita ODGJ adalah obat standar BJPS. Seharusnya, obat-obatan itu tersedia di masing-masing puskesmas. Namun, puskesmas tidak tidak menyediakan obat tersebut dengan alasan harus mengamprahnya sesuai dengan kebutuhan.

“Obat itu, ada injeksi berskala, ada obat-obat minum. Kalau mengandalkan RSJ saja, sulit. Penanganan harus berlanjut. Kenyataanya sekarang kebaradaan obat untuk ODGJ di puskesmas baik di wilayah Buleleng maupun di daerah lain di Bali tidak merata,” jelas Rai Putra.

Sementara Kepala Dinsos Buleleng, Gede Komang menjelaskan, di Buleleng sudah punya tim penanganam penyakit jiwa. Anggotanya kata dia, berasal dari Dinas Kesehatan Buleleng, Kepala Puskemas selaku koordinator tim, dan Dinsos Buleleng sebagai tim anggotoa yang membantu menangani ODGJ. “Kami sebenarnya sudah punya tim untuk menangani persoalan ODGJ ini,” jelas Gede Komang.

Terkait masalah pengadaan obat untuk ODGJ, Gede Komang berjanji, akan beekoordinasi dengan Dinas Kesehatan Buleleng. “Penanganan ini harus secara lintas sektor. Kalau ODGJ berat di Buleleng, itu ada sekitar 18 orang. Nanti kami akan komunikasikan dengan Dinas Kesehatan untuk pengadaan obatnya,” pungkas Gede Komang. (ngr/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *