HUT Kota Singaraja: Panitia Tak Profesional, Penari Tari Rejang Renteng 3 Desa Terlantar

Foto Humas Pemkab Buleleng for Balieditor.com: Kadisbud Gede Komang meminta maaf kepada penari di Kedis

BALIEDITOR.COM – Sungguh memalukan cara kerja panitia yang menyelenggarakan tari masal yakni Tari Rejang Renteng yang diklaim menghadirkan 7.400 penari. Panitia dituding tidak professional.

Para penari Rejang Renteng dari tiga desa yakni Desa Kedis, Desa Umajero, dan Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, terlantar karena tidak mendapat tempat untuk menari. Akibatnya, para penari rejang renteng dari tiga desa tidak bisa menari.

“Tyang dari desa Kedis kecewa pada panitia karena tidak bisa memberi solusi untuk menambah tempat untuk para penari. Rugi, banyak-banyak penari mencapai 7.400 penari tapi tidak mendapatkan tempat dan dari pihak panitia tidak ada rasa simpati sama sekali,” demikian keluhan dari para penari yang diterlantarkan itu.

Bagaimana sikap Kadsbud Buleleng Gede Komang, selaku ketua panitia tari rejang renteng masal tersebut? Gede Komang yang dikonfirmasi Balieditor.com Minggu (31/3/2019) malam malah menyalahkan para peserta tari masal tersebut. Ia menyebutkan bahwa persoalan itu terjadi karena para penari tidak disiplin pada alokasi tempat yang telah ditetapkan panitia. “Ini terjadi karena penari tidak disiplin terhadap tempat yang sudah ditetap panitia,” ujarnya mengawali pernyataannya.

Gede Komang mengaku, Minggu (31/3/2019) langsung berkunjung ke Desa Kedis dan Umajero untuk memberikan klarifikasi kepada para penari, kelian desa pakraman dan tokoh masyarakat setempat. Bukan hanya melakukan klarifikasi atas ketidakprofesionalnya panitia tetapi juga menyampaikan permohonan maaf panitia atas kejadian memalukan itu.

“Setelah kami pada hari Minggu tanggal 31 Maret 2019, kami beserta Kepala Bidang Kesenian beserta para seksi Camat Busungbiu, Humas Sek da Buleleng, melaksanakan kunjungan ke Desa Umajero dan Kedis Kecamatan Busungbiu untuk melaksanakan klarifikaasi dan permohonan maaf terhadap kekecewaan masyarakat karena tidak sempat menari rejang renteng karena space mereka diambil oleh orang lain,” papar mantan Kadissos Buleleng itu.

Bagaimana reaksi masyarakat di kedua desa tersebut? “Setelah kami melaksanakan klarifikasi, sangat dipahami oleh para penari seperti yang disampaikan oleh ibu Luh Sri, seorang penari dari Umajero,” jawab Gede Komang.

Ia mengklaim, para tokoh masyarakat kedua desa sudah menyadari serta meminta maaf atas gejolak emosi para penarinya dan akan meredam masalah yang terjadi agar masyarakat menjadi teduh, damai, sehingga situasi menjadi kondusif. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *