HUT Proklamasi RI 72: Umat Katolik Gelar Ibadat, Doakan Presiden Jokowi

Foto Balieditor.com-frs: Ibadat Rnungan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-72

Foto Balieditor.com-frs: Ibadat Rnungan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-72

BALIEDITOR.COM – Di saat masyarakat lain asyik menyaksikan pawai obor, umat Katolik Buleleng binaan Romo J Tanumiarja Nyoman, SVD, larut dalam doa yang digelar dalam acara ibadat sore sekitar 17 Agustus HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-72, Rabu (16/8/2017).

Ibadat yang digelar di rumah salah satu umat di kawasan SKIP Singaraja, Bali, itu diwarnai dengan doa kusyuk bagi Nusa dan Bangsa. Bahkan ad adoa khusus untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dikenal bersih dan jujur itu.

Ibadat sore khusus untuk Hari Proklamasi Kemerdekaan RI itu dipimpin langsung Romo J Tanumiarja Nyoman, SVD.

Acara ibadah sore sambut Hut Porklamasi Kemerdekaan RI ke-72 itu berjalan dengan hikmat karena materi renungan sudah disusun dengan baik oleh Romo J Tanumiarja Nyoman, SVD, yang merupakan pastor Katolik putra asli Bali dari Tuka, Dakung, Badung itu.

“Bapak-ibu, saudara-saudari terkasih dalam Kristus, setiap tanggal 17 Agustus bangsa kita merayakan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI, yang diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta di gedung Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat, 17 Agustus 1945,” ujarnya.

Kedua tokoh ini kelak menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama. Kini nama beliau diabadikan dengan pelbagai cara, misalnya nama bandar udara, jalan dan seterusnya.

“Adapun inti kemerdekaan ini adalah bahwasannya rakyat Indonesia yang berdomisili di bumi Nusantara dari Sabang hingga Merauke, mulai saat itu merdeka bebas dari penjajahan, mulai mengatur diri, tidak lagi diatur dan diperintah bangsa lain,” urai Romo Yan – sapaan akrab Romo J Tanumiarja Nyoman, SVD.

Ia menuturkan bahwa ada dua macam cara untuk memperoleh kemerdekaan, yakni kemerdekaan yang diberi cuma-cuma oleh penjajah, namun masih diikat dalam bidang ekonomi dalam satu ikatan persemakmuran.

“Kedua, kemerdekaan yang direbut dengan cara berjuang sampai titik darah yang penghabisan. Khusus untuk negeri tercinta Indonesia ini kemerdekaan diperoleh dengan cara kedua, sehingga negeri ini punya duplikat sebutan Tanah Tumpah Darah yang mencirikan satu perjuangan sengit sebelumnya,” papar Romo Yan.

Kata dia, bahwasannya ada sebutan Tanah Air, hal itu disebabkan oleh kondisi geografis bumi Nusantara ini, yang terdiri dari begitu banyak pulau, besar dan kecil, dan di antara pulau-pulau itu ada air (laut) yang merupakan bagian terbesar dari negeri ini. Air atau laut itu sebut selat apabila sempit.

“Sebutan Tanah Air tidak mencirikan satu perjuangan negeri yang sekarang sudah merdeka sekian lama itu. Dia lebih mengacu kepada kebhinekaan yang harus diberkas menjadi satu oleh aturan khusus yang mewakili berbagai latar belakang suku bangsa-suku bangsa yang berdiam di seantero Nusantara. Sumpah pemuda 28 Oktober diharapkan bisa mempersatukan semua suku bangsa dalam satu wadah,” ceritanya.

Dipaparkannya, yang jelas negeri kepulauan ini subur dan kaya akan hasil bumi dan hasil tambang. Hal ini yang diinginkan oleh penjajah sehingga kemakmuran mengalir ke negeri orang, bukan sebesar-besarnya untuk kemakmuran bangsa ini. Mereka ngiler melihat kekayaan negeri ini dan dengan segala upaya ingin memilikinya.

“Maka patut diapresiasi perjuangan para pahlawan bangsa yang begitu gagah sehingga kini bangsa kita bisa mengelola kekayaan negeri ini dengan bebas dan penuh tanggung jawab,” kisah Romo Yan lagi.

Romo Yan menegaskan bahwa merebut kemerdekaan merupakan satu hal yang berat, namun mengisi kemerdekaan itu dengan benar mungkin lebih berat lagi, seiring dengan kemajuan yang sering melupakan Tuhan yang menganugerahkan kemerdekaan ini lewat satu perjuangan sengit dan gigih. “Karena itu marilah kita doakan negara dan bangsa kita sebab dalam praktek, sering terjadi penyimpangan-penyimpangan yang bisa merongrong kemerdekaan itu,” ajak Romo Yan.

“Semoga oleh doa-doa kita Tuhan semakin dimuliakan di negeri ini dan rahmat serta berkatnya semakin dirasakan oleh rakyat bangsa kita” tandas Romo Yan.

Dalam ibadat itu juga dibacakan Kitab Suci yakni diambil dari Kitab Keluaran Pasal 3 ayat 7 sampai 8a. Kemudian dilanjutkan dengan doa Rosario yang dipimpin oleh Ketua Seksi Liturgi Sulastri Wilhemus Wara.

Lalu ibadat itu ditutup dengan doa dan pemberian berkat oleh Romo Yan. “Demikian doa-doa kami pada hari raya kemerdekaan ini ya Bapa. Izinkanlah kami menutup permohonan kami dengan mendoakan Doa yang diajarkan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya,” ucap Romo Yan.

“Tuhan, Allah yang maha esa, Engkau memanggil setiap orang kepada kemerdekaan Kristus PuteraMu. Maka pada hari raya kemerdekaan Indonesia, kami mohon kepadaMu: lindungilah Tanah Air kami agar tetap bebas merdeka dan aman sentosa. Anugerahkanlah kepada bangsa Indonesia kemerdekaan sejati, agar di seluruh wilayahnya berkuasa keadilan dan damai, perikemanusiaan, kerukunan dan cinta kasih. Demi Yesus Kristus PuteraMu dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa,” tutup Romo Yan. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *