Imbas Garam Impor, Harga Garam Rontok, Petani Menjerit

Foto Balieditor.com-cha:Hamparan tambak garam yang digarap petani garam Desa Pejarakan,Kecamatan Gerokgak yang belakangan menjerit akibat harga garam turun drastis

BALIEDITOR.COM – Kebijakan pemerintah mengimpor garam ternyata berimbas negatif terhadap petani garam nasional. Karena impor garam dari luar negeri membuat harga garam lokal anjlok. Petani garam rakyat di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Bulelengm, Bali, punn menjerit.

Tak tanggung-tangung, harga perkilo mencapai Rp 500 dari sebelumnya di angka Rp 1.000. Kondisi itu diperparah adanya cost produksi yang tinggi tidak sebanding dengan harga jual. Bahkan, cuaca yang kurang bersahabat ikut andil menambah penderitaan petani garam. Petani berharap pemerintah segera turun tangan untuk membenahi harga garam agar tetap stabil.

I Ketut Parima, petani garam dari Desa Pejarakan,menuturkan bahwa tidak bersahabatnya harga garam belakangan menjadi pukulan telak bagi petani garam. Masalahnya, cerita Parima, penurunan harga garam terjadi sejak tahun 2017 dari harga Rp 2 ribu dan terus menurun hingga tahuan 2019 di harga Rp 500. ”Saat harga Rp 2 ribu stok garam nasional menipis. Kemudian tahun 2018 harga garam perlahan mulai mengalami penurunan setelah pemerintah mengimpor garam dari luar,” jelas Parima.

Hingga saat ini sejak tahun 2018 lalu harga garam terus berada di level terendah. Bahkan dua pekan sebelumnya pernah naik di angka Rp 600, namun kembali turun di harga Rp 500 perkilogram. ”Penurunan harga ini tak diimbangi dengan peningkatan permintaan pasar. Artinya minat pasar di Bali terhadap pasokan garam sangat turun drastis,” kisahnya.

Akibat anjloknya harga itu,Parima mengaku tidak bisa berbuat banyak karena mengalami kerugian double. Selain rugi harga jual,kondisi itu tidak bisa menutupi cost produksi dan operasional yang cukup tinggi. ”Untuk biaya operasional kami mengeluarkan biaya sebesar Rp 6 juta sampai Rp 7 juta. Biaya sebesar itu untuk pembelian karpet dan terpal sebagai alas pada lahan garam yang diprokduksi,” ucap Parima.

Lahan tambak garam yang digarap Parima seluas 1,4 hektar dengan kapasitas produksi sebanyak 3 ton selama 10 hari masa produksi.Namun belakangan akibat faktor cuaca produksinya menurun hingga kisaran 1,5 ton sampai dengan 2 ton.
Sebelumnya,produksi garam di Desa Pejarakan selain memenuhi kebutuhan pasar di Bali,sempat di eksport ke Jawa Timur tepatnya di daerah Gresik karena di daerah itu stok garam menipis. ”Kalau sekarang kami kirim ke Jawa tentu kondisi tambah parah.Di Jawa harga garam sekarang hanya Rp 400 perkilo,” keluhnya. (cha/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *