Kasus Remi Berdarah, Sudarma: “Polisi Harus Adil Tangani Kasus Ini. Ingat Ada Aksi Penyerbuan Terhadap Yoyok”

Foto Balieditor.com-frs: Korban Yoyok saat di Mapolres Buleleng Senin (20/5/2019) malam

BALIEDITOR.COM – Saat melapor ke Polsek Kota Singaraja, korban Yoyok, 37, warga Jalan Sam Ratulanggi, Kelurahan Penarukan, Singaraja, Bali, itu langsung didampingi pengacara atau penasehat hukum.

Begitu pula, Senin (20/5/2019) malam saat Yoyok dan kawan-kawan hadir di Mapolres Buleleng di Jalan Pramuka No 1 Singaraja, untuk memberikan keteranagan atas laporan Dewa Putu Witana, mereka juga didampingi penasehat hukum.

Adalah Wayan Sudarma, SH, dari kantor Advokat Nyoman Sunarta, SH & Rekan, yang mendampingi kubu Yoyok. Sudarma pun langsung mengingatkan Satreskrim Polres Buleleng dan Kapolsek Kota Singaraja untuk tidak pilih kasih dalam menangani kasus ini.

“Saya melihat ada ketidakseimbangan dan ketidakadilan polisi dalam menangani kasus ini. Saya minta polisi harus adil tangani kasus ini. Klien saya Yoyok dan Agus yang melapor duluan kok laporan Dewa Witana yang baru tadi lapor itu diatensi duluan. Kita sudah lapor tadi malam beberapa saat setelah kejadian,” kritik Sudarma.

Ia mengingatkan polisi jangan hanya melihat kasus ini dari satu titik saja. Ia meminta polisi untuk melihat dan menyelidiki kasus itu mulai dari awal, terjadi rentatan kejadian sebelumnya hingga terjadi pembacokan. “Jangan langsung melihat lukanya Dewa Witana. Tetapi lihat kasus ini secara utuh. Yoyok yang menjadi korban pertama, korban pengeroyokan oleh Dewa Putu Witana dan Dewa Made Caniastra, anaknya. Kalau polisi melihat kasus ini secara utuh maka gampang mencari siapa yang salah dan siapa yang benar,” sindir Sudarma.

Sudarma juga mengingatkan polisi ada aksi penyerbuan yang dilakukan kubu Dewa Witana terhadap Yoyok hingga Yoyok harus membela diri dan dalam aksi membela diri itu ada yang terluka. “Jangan melihat kasus ini sepotong-sepotong. Ingat ada penyerbuaan yang dilakukan Dewa Witana bersama tujuah orang dengan membawa kayu balok, sehingga memaksa Yoyok harus membela diri,” tegas Sudarma mengingatkan polisi.

Pengacara muda yang dikenal sangat vocal ini mengaku sudah mengumpulkan sekitar 8 saksi dan barang bukti berupa kayu balok yang dipakai kubu Dewa Witana menyerbu Yoyok. “Silahkan polisi bermain, tapi kami punya saksi dan barang bukti. Kita akan buktikan itu,” ungkap Sudarma.

Eko yang dituduh kubu Dewa Witana, mencekik leher anaknya Dewa Witana bernama Dewa Made Caniastra, membantah semua tuduhan itu. Ia mengaku justru ia membantu melerai aksi pengeroyokan yang dilakukan kubu Dwa Witana. “Saya tarik Caniastra yang sedang memukul Yoyok yang sudah terjatuh. Saya suruh berhenti, masih saja memukul, maka saya tarik dia, mungkin ada baju yang robek karena saya tarik keras,” bantah Eko.

Eko yang anggota Polri mengaku sebagai seorang polisi dengan gerakan refleksi yang dibekali di kepolisian, Eko pun langsung mengunci gerak Caniastra sehingga ia tidak bisa bergerak dan sambil menghadang Yoyok yang sudah berdiri kembali setelah terjatuh. “Mungkin itu dibilang saya cekik leher, heeee…” ujar Eko sambil tertawa.

Yoyok mengaku sempat jengkel sama Eko yang menghalangi dirinya membalas pukulan Caniastra setelah berdiri kembali setelah terjatuh akibat dikeroyok Dewa Witana dan Dewa Caniastra. “Saya bertengkar dengan kakak saya. Saya bilang kamu bela saya atau bela dia? Kakak saya bilang, kalian ini berteman dan sering main bersama kok ribut, sudah jangan ribut lagi. Gito kakak bilang, akhirnya saya diam,” cerita Yoyok. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *