Kasus Remi Berdarah, Yoyok: “Saya yang Dikeroyok dan Diserang Massa”

Foto Balieditor.com-frs: Yoyok mengaku dia yang korban pertama kasus itu

BALIEDITOR.COM – Dua kubu yang terlibat dalam pertarungan di Gang Elang, Banjar Lebong, Lingkungan Pendes (Penarukan Desa), Kelurahan Penarukan, Singaraja, Bali, Minggu (19/5/2019) malam, saling lapor ke polisi.

Setelah informasi versi kubu Dewa Putu Witana, 49, cs, kini giliran kubu Yoyok, 37, cs yang membuka tabir tragedy judi kartu remi jenis sanghong. Versi Yoyok, justru dialah yang korban pertama dalam kasus itu bukan Dewa Putu Witana.

“Saya yang korban. Saya yang dikeroyok oleh Dewa Wit (panggilan Dewa Putu Witana) bersama anaknya. Saya dipukul anaknya Dewa Wit bernama Dewa Cani,” ungkap Yoyok kepada Balieditor.com di Mapolres Buleleng, Senin (20/5/2019) malam sekitar pukul 19.00 wita.

Malam ini kubu Yoyok yakni Yoyok sendiri, Putu Agus, Eko dan Ebet sedang dimintai keterangan oleh pemyidik Unit I Satreskrim Polres Buleleng di Jalan Pramuka No 1 Singaraja atas laporab Dewa Putu Witana cs.

Bagaimana kisahnya? Yoyok, Eko, Putu Agus, yang didampingi pengacaranya Wayan Sudarma, SH, menceritakan, diakui bahwa saat bermain judi kartu remi itu ada kesalahpahaman karena ucapan Yoyok yang dinilai tidak pantas bagi kalangan Dewa. Akibat salah paham itu, Dewa Made Caniastra, 19, putra Dewa Putu Witana langsung memukul Yoyok kemudian dibantu ayahnya Dewa Putu Witana sehingga Yoyok pun terdesak dan jatuh.

Yoyok mengaku setelah terjatuh itulah yang dikeroyok secara ramai-ramai oleh dua pelaku yakni Dewa Caniastra dan Dewa Witana hingga mukanya penyok berdarah-darah akibat pukul keras yang berulang kali mendarat di wajahnya.

“Saya dikeroyok oleh dua orang bapak dan anak. Muka saya berdarah-darah. Saya terjatuh dan mereka terus memukul saya dan menendang saya. Jangan dibalik-balik lagi cerita. Saya yang korban kok dibilang saya yang keroyok. Mereka dua bapak dan anak lawan saya sendiri masak saya dibilang keroyok,” beber Yoyok.

Lalu, Eko yang sedang minum miras bersama Putu Agus datang melerai mereka dengan cara menarik Caniastara yang posisinya sedang berada di atas korban Yoyok yang sudah terjatuh itu. “Saya malah bertengkar dengan kakak saya (Eko, red) karena saya dilarang memukul Caniastra. Saya marah karena muka saya sudah penyok dan berdarah,” kisah Yoyok lagi.

Kemudian Putu Agus sebagai pemilik rumah marah dan mengusir mereka karena ia sudah memberikan rumahnya untuk bermain remi tapi malah dipakai arena berkelahi. “Agus datang marah dan usir mereka. Kemudian Dewa Wit pulang ke rumah Dewa Ardita,” jelasnya.

Beberapa saat kemudian Dewa Ardita datang dan menanyakan mengapa kasus itu bisa terjadi. Dewa Ardita minta agar kasus ini diselesaikan secara kekeluarga dan meminta tolong kepada Eko untuk meredam emosi korban Yoyok cs. “Dewa Ardita datang itu baik-baik untuk mendamaikan. Dan saya juga terima permintaan Dewa Ardita walaupun muka saya sudah berdarah-darah,” paparnya.

Ternyata Dewa Putu Witana meminta bala bantuan ke keluarganya. Beberapa saat kemudian pasukan Dewa Witana datang menyerang Yoyok. Pasukan berkekuatan tujuh (7) orang itu bersenjatakan kayu balok. “Langsung lempar rumah, beberapa genteng rusak. Dewa Ardita sempat marah sama mereka karena tidak ingin ada ribut-ribut. Dewa Ardita dan kakak saya Eko menahan massa itu tapi karena banyak lolos menyerang saya,” beber Yoyok.

Karena terdesak, maka Yoyok pun mengambil apa saja benda yang ada di dekatnya untuk membela diri. “Saya harus membela diri. Orang banyak kalau saya tidak bela diri pasti saya mati. Maka apa saja yang dekat saya waktu itu saya ambil untuk membela diri. Kebetulan ada sabit yang sudah tidak pernah pakai,” urainya.

“Setelah itu saya memilih lari ke Polsek Kota untuk melapor sekaligus minta perlindungan pengamanan dari polisi. Saya yang lapor duluan. Saya sudah lapor tadi malam,” papar Yoyok. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *