Kasus Tukar Guling Kantor Desa: Perbekel Celukan Bawang Ashari Jadi Tersangka

Foto Dok Balieditor.com: Perbekel Muhammad Ashari yang sudah ditetapkan sebagai tersangka

BALIEDITOR.COM – Arogansi dan kesombongan Perbekel Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, Mohammad Ashari yang selama ini merasa diback-up dan dilindungi pejabat di kabupaten Buleleng, akhirnya runtuh.

Ini setelah Kejasakaan Negeri (Kejari) Buleleng menetapkan Mohammad Ashari sebagai tersangka kasus tukas guling Kantor Desa Celukan Bawang dengan PT General Energy Bali (GEB) yang mengelola PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Celukan Bawang.

Pemberian “gelar khusus” tersangka buat Ashari sekaligus kado tahun baru buat Ashari itu disampaikan Kasi Pidsus Kejari Buleleng, Wayan Genip, Rabu (16/1/2019) saat ditemui di ruang kerjanya. Kata dia, penetapan Ashari sebagai tersangka pada tanggal 3 Januari 2019 lalu.

Diungkapkan Genip, penetapan Ashari sebagai tersangka pasca penyidik kejaksaan sudah berhasil melengkapi bukti-bukti setelah hampir 2 tahun lamanya melakukan proses penyidikan kasus ini berjalan. Kasus ini mulai bergulir dari awalnya, ada transaksi dana tukar guling lahan Kantor Desa Celukan Bawang dengan PT. General Energy Bali (GEB) selaku dari PLTU Celukan Bawang.

Dijelaskan Genip, untuk menetapkan Ashari jadi tersangka tidaklah mudah. Karena harus mendengarkan sejumlah saksi yang bisa dipakai untuk memperkuat dugaan tindak pidana korupsi sang perebekel itu. Akhirnya, setelah mendengarkan keterangan dari sebelas orang saksi, tim penyidik Kejari Buleleng tanpa ragi menetapkan Ashari sebagai tersangka dalam kasus tukar guling Kantor Desa Celukan Bawang dengan PT General Enery Bali, GEB di Celukanbawang.

Foto Istimewa: Tim Penyidik Kejari Geledah Kantor Desa Celukan Bawang pertengah Desember 2018 lalu. Ashari (nomor 2 dari kiri)

Bahkan, ungkap Genip, proses penyitaan sejumlah barang bukti juga telah dilakukan oleh tim Kejari Buleleng. Ia berjanji dalam waktu dekat akan memanggil tersangka Ashari untuk diminta keterangannya oleh tim Pidsus Kejaksaan Negeri Singaraja. “Akhir Januari kami targetkan tuntas kasus ini. Kalau tersangka lain, masih belum ada kesana. Secepatnya, kami akan panggil MA,” beber Genip.

Baca Juga:  LPD Gerokgak-gate: Ngurah Arya Mangkir dari Panggilan Kejati, LSM GENUS Desak Ketua DPRD Sadarkan Ngurah Arya

“Dan kami juga telah melakukan pemeriksaan terhadap ahli untuk menghitung kerugian keuangan negara dan juga telah dilakukan pengecekan bangunan oleh ahli di Universitas Udayana. Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah bisa rampung untuk selanjutnya kita serahkan kepada penuntut umum,”jelasnya.

“Jadi berdasarkan hasil perhitungan fisik, bangunan senilai Rp 1 miliar, tapi rasanya kurang dari itu, sekitar Rp 200 juta lebih. Jadi, ditemukan ada kerugian negara sekitar Rp 200 juta lebih,” ungkap Genip.

Dibeberkan Genip, “Unsur yang dilanggar MA itu, pertama menerima dana masuk ke rekening pribadi, kemudian menunjuk rekanan tanpa melalui mekanisme, dan dalam pembangunan gedung kantor desa diduga ada kerugian negara. Mungkin penunjukan rekanan itu, karena disana hanya ada satu rekanan saja, makanya ditunjuk saja.”

Genip menceritakan, kerugian dari perbuatan tersangka Ashari diperkirakan mencapai Rp 200 juta lebih atau hampir Rp 300 juta. Dari nilai tukar guling sebesar Rp 1,2 miliar dari PT GEB, namun dana sebesar itu tidak dimasukkan dalam APBD Desa Celukan Bawang akan tetapi masuk ke rekening pribadi Ashasi. Selain itu pembangunan kantor Desa Celukan Bawang sebesar Rp 1 miliar tidak melalui prosedur tender melainkan melalui penunjukan.

“Untuk pemeriksaan fisik sementara disini ditemukan adanya selisih atau kelebihan anggaran sebesar Rp. 295.525.995.15, berdasarkan hasil perhitungan dari Fakultas Teknik Unud kami masih menunggu perhitungan kerugian keuangan negaranya. Pada tahun 2014 ada pemberian ganti rugi terhadap bangunan kantor Desa Celukan Bawang dari PT. GEB kepada Pemerintah Desa Celukan Bawang untuk mengganti bangunan yang berada di Dusun Pungkukan yang berada di wilayah pemanfataan dari PT. GEB. Itu digunakan untuk pembangunan kantor baru di Banjar Dinas Celukan Bawang yang pemabngunannya dilaksanakan oleh rekanan kontraktor yang berasal dari Celukan Bawang,” pungkas Genip.

Baca Juga:  Korupsi: Diancam Perbekel Tak Cairkan Gaji, BPD Kayuputih Melaka Nyerah dan Teken Surat Persetujuan

Seperti diberitakan sebelumnya, kantor desa yang berada di Banjar Dinas Pundukan, terkena relokasi pembangunan PLTU Celukan Bawang. Dari PT. GEB mengucurkan dana sebesar Rp 1,2 miliar sebagai dana ganti rugi kepada Pemerintah Desa Celukan Bawang. Namun, dana sebesar itu bukan dikirim ke rekening Pemerintah Desa Celukan Bawang, melainkan ke rekening pribadi Ashari selaku perbekel Desa Celukan Bawang.

Selanjutnya, kantor Desa pun berpindah tempat dan dibangun di Banjar Dinas Celukan Bawang dengan anggaran yang sebesar Rp 1 miliar. Dalam proses pembangunan itu, Ashari menunjuk sendiri rekanan yakni CV. Hikmah Lagas dengan komisarisnya berinisial AA. Penunjukan itu tanpa melalui tender. Sedangkan sisa dana sebesar Rp 200 juta dari Rp1,2 miliar itu, digunakan untuk kegiatan lain yang hingga kini masih belum jelas.

Memasuki akhir tahun 2016, Kejari Buleleng mulai mencium “bau tak sedap” dari semua proses yang dilalui oleh Perbekel Mohammad Ashari yang kini sudah ditetap sebagai tersangka itu. Hingga akhirnya, Kejari Buleleng mulai melakukan penyelidikan. Dalam proses penyidikan ini, penyidik sangat hati-hati, karena sangat perlu ketelitian dalam pemenuhan unsur tindak pidana korupsi yang dilakukan Ashari.

Bahkan pertengdah Desember 2018 lalu tim penyidik Kejari Buleleng sempat melakukan pengeledahan Kantor Desa Celukan Bawang.

Hingga akhirnya di awal tahun 2019 ini, Kejari Buleleng berhasil merampungkan proses penyidikan dan mengumpulkan bukti yang cukup untuk menetapkan MA sebagai tersangka. (ngr/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *