Kiriman dari DAS Tukad Saba, Pesisir Pengastulan Penuh Sampah Parah

Foto Balieditor.com-cha: Memprihatinkan,tumpukan sampah mengotori muara sungai Tukad Saba dan kawasan pesisir Desa Pengastulan dan sekitarnya

BALIEDITOR.COM – Sungguh memprihatinkan kondisi pesisir Desa Pengastulan, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali.

Pesisir Desa Pengastulan kini dipenuhi sampah. Ternyata sampah tersebut kiriman dari DAS Tukad Saba.

Jika tidak segera mendapat penanganan serius, Desa Pengastulan dan sekitarnya, terancam mengalami kerusakan ekosistem lingkungan dan bencana ekologi.

Bahkan ini juga akan menjadi ancaman serius bagi pariwisata Bali Utara yang salah satu andalannya keberadaan lumba-lumba diperairan Bali Utara.

Hal itu akibat tidak terkendalinya sampah yang menumpuk di seputaran pantai dan di muara Tukad Saba dan mencemari kawasan laut di Desa Pengastulan.

Terutama sampah plastik dipastikan akan menimbulkan dampak kerusakan luar biasa bagi keseimbangan ekosistem dan pesisir.Tidak hanya mengotori lautan, sampah plastik dapat merusak biota laut, merusak terumbu karang, dan berbahaya bagi keberlangsungan kehidupan manusia.

Hasil pengamatan di lapangan menyebutkwn bahwa kondisi pantai sepanjang Desa Pengastulan termasuk muara Tukad Saba terlihat sangat parah. Sampah berbagai jenis menumpuk diujung sungai dan mengeluarkan bau tidak sedap.

Sementara di seputran pantai, timbunan sampah mengotori kawasan itu termasuk wilayah perairannya. Sampah-sampah itu tak saja berasal dari warga setempat namun diperparah oleh sampah kiriman dari warga yang tinggal di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Tukad Saba.

Tidak hanya sampah,limbah cair rumahtangga ikut menjadi penyumbang semakin kumuhnya kawasan desa yang terletak di pesisir pantai utara Bali itu.

Warga Desa Pengastulan mengaku nyaris putus asa melihat kondisi itu.Berton-ton sampah setiap hari menyesaki kawasan pantai baik sampah kiriman dari warga yang tinggal di DAS Tukad Saba maupun sampah yang berasal dari warga sendiri.Menurut warga,mereka tidak memiliki alternatif membuang sampah karena tidak tersedia tempat pembuangan.

Akibatynya,mereka mengaku terpaksa membuang sampah ke sungai maupun ke laut. ”Kami tidak diberikan alternatif karena sejak lama berharap pemerintah dapat memberikan jalan keluar dari problematika sampah ini,” ujar salah satu warga.

Untuk menyiasati semakin menumpuknya sampah di pesisir, warga kerap melakukan gotong royong dengan membakar sampah-sampah itu. Namun upaya itu sia-sia karena volume sampah yang datang tidak sebanding dengan upaya kebershan oleh warga itu.

Bagaimana komentar Perbekel Pengastulan? Perbekel Desa Pengastulan, Ketut Yasa bersama Karang Taruna Puspita Samudra Desa Pengastulan,mengaku malu melihat kotornya kondisi pantai dan muara Tukad Saba itu.

Kata dia, berbagai cara telah dilakukan namun penyelesaian mendasar dari problem sampah itu belum tersentuh.

”Problem sampah tidak saja berasal dari sini (warga Pengastulan,red) namun dari hulu Tukad Saba.Banyak warga yang tinggal di DAS Tukad Saba seperti warga Kelurahan Seririt dan sekitarnya membuang sampah ke sungai,”ujar Yasa,Minggu (16/6/2019)saat bergotong royong membersihkan sampah di kawasan pantai Desa Pengastulan.

Karena itu,kata Yasa, pihaknya menghimbau semua pihak agar tidak menjadikan laut dan sungai menjadi tempat pembuangan sampah.

Yasa juga mengaku telah melakukan upaya lain agar sampah didesanya dapat diatasi.Selain bergotong royong melibatkan sejumlah steak holder, salah satunya dengan bersurat ke Pemkab Buleleng agar Desa Pengastulan diberikan fasilitas penanganan sampah. ”Namun hingga saat ini permohonan itu belum di respon,” sesalnya.

Sementara, Ketua Karang Taruna Puspita Samudra, Putu Widyasmita, mengaku prihatin dengan kondisi sampah di desanya. Ia mengaku saat ini tengah membangun kesadaran para pemudanya untuk ikut peduli menangani sampah di Desa Pengastulan.

”Untuk sementara kita giatkan gotong royong untuk menumbuhkan kesadaran soal kebersihan lingkungan terutama menangani sampah di pesisir dan di aliran sungai Tukad Saba,” ucapnya.

Widiyasmita yang didampingi Hilman dan Alfia juga menghimbau agar warga yang tinggal di DAS Tukad Saba tidak membuang sampahnya ke sungai.”Soal sampah ini kami kewalahan,”tandasnya. (cha/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *