Konflik Celukan Bawang: Camat Ariadi Abaikan Usulan Pemecatan Perbekel Ashari; Ada Apa dengan Camat Ariadi?

Foto Dok Balieditor.com: Camat Gerokgak Putu Ariadi Pribadi

Foto Dok Balieditor.com: Camat Gerokgak Putu Ariadi Pribadi

BALIEDITOR.COM – Camat Gerokgak, Putu Ariadi Pribadi, S.STP,M.A.P, akan memanggil tiga pihak atas permasalahan di Desa Celukan Bawang di Kantor Camat Gerokgak, Buleleng, Rabu (2/11/2016). Pelaku “perang segitiga itu adalah Perbekel Celukan Bawang non-aktif Muhammad Ashari, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Celukan Bawang Agus Adnan dan Kaur desa Putu Riyang.

Sayang, Camat Ariadi terkesan menyembunyikan pemecatan Perbekel Ashari dari sorotan publik. Ia mengatakan mediasi yang akan dilakukannya itu hanya akan membahas permasalahan tentan pemecatan Putu Riyang oleh Ashari secara sepihak. Ia tidak akan membahas usulan pemberhentian Ashari sebagai perbekel oleh BPD atas aspirasi warga. Padahal BPD Celukan Bawang pada Senin (31/10/2016) telah menggelar rapat terbuka dengan dihadiri ratusan warga, dan kesimpulannya warga melalui BPD mengusulkan kepada camat melalui surat tertulis untuk memberhentikan Ashari.

“Soal rekomendasi pemberhentian perbekel saya sendiri masih belum tahu soal itu. Yang akan kita bahas untuk masalah pemberhentiang Pak Putu Riyang sebagai kaur desa,” ujar Ariadi, Selasa (1/11/2016).

Bahkan Camat Ariadi terkesan melindungi Ashari yang sudah dipecat oleh BPD Celukan Bawnag. Ariadi menilai rapat terbuka yang diselenggarakan BPD hanya berdasarkan sepihak karena tidak dihadiri Ashari. Ia meminta semua pihak dapat menyelesaikan permasalahan ini dengan tenang tanpa emosi.

Sementara itu, Agus Adnan menyesalkan sikap Ariadi yang seolah tutup mata terhadap aspirasi masyarakat yang menginginkan Ashari mundur dari jabatannya. “Kalau itu mungkin pribadi pak camat yang ingin cuma satu agenda mediasi. Yang jelas besok ada dua, masalah pemberhentian Putu Riyang dan aspirasi masyarakat yang ingin perbekel mundur,” katanya.

Menurut dia, ada indikasi upaya Ariadi sengaja membiarkan masalah pemberhentian Ashari hanya sampai tingkat kecamatan. Ariadi tidak ada itikad baik untuk meneruksan laporan aspirasi masyarakat kepada Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana.

“Saya pikir masalah ini akan diendapkan dan selesai sampai di camat saja, tapi kita ada alternatif lain langkah-langkah soal pemberhentian perbekel,” katanya.

Dalam rapat terbuka sebelumnya ratusan masyarakat sudah menandatangani mosi tidak percaya terhadap Ashari sebagai perbekel. Bahkan Ashari yang sudah menjabat selama tiga tahun ini tidak diperkenankan masuk kantor terhitung sejak Selasa (1/11/2016).

“Secara fakta di depan masyarakat sudah kita nonaktifkan tapi belum bisa secara hukum karena mengantongi SK bupati paling tidak itu harus ada tindak lanjuti lagi. Kalau mau ngantor silahkan tapi secara fakta masyarakat bahkan tokoh-tokoh masyarakat yang hadir juga tidak mengakui dia sebagai perbekel,” tuturnya.

Sementara Putu Riyang sudah diperbolehkan kembali bekerja karena surat pemberhentian yang dikeluarkan Ashari cacat hukum. “Hari ini sudah bisa kerja Pak Putu Riyang, tapi tadi beliau telepon saya dan camat katanya akan mulai masuk kerja besok,” ucapnya.

Sementara itu, mengenai indikasi pungutan liar (pungli) yang dilakukan Ashari saat meminta uang Rp 30 juta kepada pemilik vila, menurut dia itu sulit dibuktikan. Sebab Ashari masih belum menerima uang tersebut. “Itu harus ada pembuktian dulu karena belum ada tangkap tangkap tangan,” katanya. (ggh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *