Korban Banjir: Merasa Dianaktirikan, Warga Kp Anyar Mesadu kepada Tirtawan

Foto ist:Masyarakat Kampung Anyar mesadu kepada Tirtawan

BALIEDITOR.CO.M – Warga Kelurahan Kampung Anyar, Singaraja, Bali, merasa menjadi warga kelas dua dan merasa dianaktirikan oleh Pemkab Buleleng.

Mereka selalu menjadi korban banjir setiap kali hujan deras mengguyur Kota Singaraja.

Namun mereka tidak mendapat perhatian dari Pemkab Buleleng. Kendati sudah menjadi korban banjir abadi alias permanen namun Pemkab Buleleng cuek saja terhadap penderitaan mereka.

Karena merasa dianaktirikan Pemkab Buleleng, ratusan warga Kampung Anyar mesadu kepada anggota DPRD Bali, Nyoman Tirtawan, Minggu (24/3/2019) malam.

Bagaimana tanggapan anggota Komisi 1 DPRD Bali dari Partai NasDem itu? Tirtawan langsung mereaksi keras terhadap tindakan pembiaran yang dilakukan Pemkab Buleleng terhadap masyarakat Kelurahan Kampung Anyar itu.

Politisi asal Bebetin, Kecamatan Sawan, Buleleng itu dengan nada keras menuding Pemkab Buleleng sengaja membiarkan masyarakat Kampung Anyar hidup dalam penderitaan. Karena pembiaran itu merupakab tindakan sengaja maka Tirtawan menilai bahwa Pemkab Buleleng telah melakukan kejahatan kemanusiaan dan melakukan pelanggaran HAM.

“Berpuluh-puluh tahun Kampung Anyar menjadi wajah pemukiman kotor dan jorok tapi Bupati cuek alias membiarkan masyarakat menjadi langganan korban banjir,” kritik Tirtawan.

Kata Tirtawan, banjir yang menyengsarakan masyarakat Kampung Anyar itu disebabkan oleh pendangkalan Sungai Mumbul yang melewati kawasan itu.

Sayang, kata dia, pendangkalan yang terjadi di depan mata Bupati-Wabup dan jajarannya itu dibiarkan tanpa adanya upaya pembersihan sungai itu.
“Pendangkalan kali dibiarkan dan asyik berfesta-festa di atas penderitaan rakyat,” serangnya.

Ia mendesak Pemkab Buleleng segera menguruk kedangkalan Sungai Mumbul saat ini tidak harus menunggu tahun depan. “Saya minta Bupati segera perintahkan Dinas PUPR untuk menguruk sungai itu sekarang juga. Tidak perlu menunggu tahun depan,” desak Tirtawan.

Dengan enteng Tirtawan menyatakan bahwa menguruk itu pekerjaan satu jati punya sehingga tidak harus menunggu rapat.

Selain itu, Tirtawan mengaku sangat miris melihat pemukiman masyarakat Kelurahan Kampung Anyar yang sangat kumuh dan jorok itu.

“Coba bayangkan, rumah warga mepet dan sangat kumuh. Buang air besar langsung nyemplung ke sungai dan terus laut. Joroknya minta ampun,” kritik Tirtawan lagi.

Kalau Pemkab Buleleng merasa sudah tidak mampu, Tirtawan sarankan agar penataan kawasan kumuh Kelurahan Kampung Anyar diusulkan ke Kementerian PUPR RI yang memiliki program penataan permukiman kumuh. “Di pusat kan ada program permukiman, diusulkan saja kesana. Jangan membiarkan masyarakat hidup dalam lingkungan kumuh seperti ini,” sindir Tirtawan.

Tirtawan juga mengkritik DPRD Buleleng yang dinilai “mandul” dan tidak memiliki sensitvitas terhadap kehidupan masyarakat.

“DPRD Buleleng sangat tidak sensitivitas sama sekali. Apa kerjanya DPRD Buleleng? Hanya tidur saja?” kritik Tirtawan. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *