Korupsi: Apa Kabar Kasus Perbekel Ashari?

Foto Balieditor.com-frs: Kasi Intel Kejari Buleleng Firdaus

BALIEDITOR.COM – Apa kabar kasus dugaan korupsi Celukan Bawang? Macetkah?

Kasi Intel Kejari Buleleng, Bali, M. Nur Eka Firdaus mengatakan bahwa penanganan kasus dugaan korupsi pembangunan kantor Desa dengan tersangka Perbekel Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Muhammad Ashari, masih terus bergulir.

Meski telah ditetapkan sebagai tersangka, namun hingga kini Ashari ternyata masih belum dilakukan penahanan, dengan alasan tersangka masih cukup kooperatif.

Dari informasi diterima, rencananya tersangka Ashari akan kembali dipanggil oleh pihak penyidik Kejari Buleleng untuk mengkonfrontir keterangan dari saksi-saksi termasuk sejumlah alat bukti yang ada. Selain itu pihak jaksa juga masih menunggu etikad baik dari tersangka untuk mengembalikan dana kerugian negara yang ditimbulkan akibat ulah tersangka.

Kasi Intel Kejari Buleleng, M. Nur Eka Firdaus membantah, jika penanganan kasus ini seolah jalan ditempat. Saat ini, sambung Firdaus, sudah ada 6 sampai 7 orang saksi yang sudah dimintai keterangan.

Bahkan, penyidik Kejari Buleleng yang menangani langsung kasus dugaan korupsi ini sudah meminta audit dari tim BPK atau BPKP. Terkait rencana untuk pemanggilan tersangka Ashari kembali, Firdaus menegaskan, akan dilakukan. Namun hal itu masih melihat hasil pemeriksaan saksi-saksi.

“Saksi-saksi sudah banyak kami mintai keterangan. Rencana pemanggilan kembali tersangka, kami masih melihat pemeriksaan saksi-saksi dan alat bukti yang ada, apa masih ada keterangan yang perlu digali oleh tersangka,” kata Firdaus, Kamis (25/4/2019) siang.

Ashari terjerat kasus dugaan korupsi dana pembangunan kantor desa Celukan Bawang, yang bermula dari proses penerimaan dana tukar guling lahan Kantor Desa Celukan Bawang yang terkena relokasi pembangunan PLTU Celukan Bawang dengan pihak PT. General Energy Bali (GEB) selaku pengelola dari PLTU Celukan Bawang sebesar Rp 1,2 miliar.

Ashari menunjuk rekanan pembangunan kantor desa tanpa melalui tender. Bahkan, dari dana pembangunan kantor desa yang dianggarkan sebesar Rp1,2 miliar, kepada rekanan yakni CV. Hikmah Lagas, Ashari hanya memberikan dana sebesar Rp 1 miliar. Bukan itu saja, hasil perhitungan fisik, bangunan yang senilai Rp 1 miliar ternyata berkisar Rp 800 juta. Sehingga, ada selisih sebesar Rp 200 juta lebih itu ada selisih.

Dengan demikian, ditemukan ada unsur kerugian negara sekitar Rp 200 juta lebih dari nilai bangunan itu termasuk dana Rp200 juta dari total Rp 1,2 miliar yang belum jelas kemana. Sehingga, total kerugian negara diperkirakan mencapai sekitar Rp400 juta yang diduga dikorupsi oleh Ashari selaku pejabat desa Celukan Bawang.

Kendati demikian, Kejari Buleleng juga masih menunggu etikad baik dari tersangka Ashari untuk mengembalikan dana kerugian negara tersebut. Hanya saja diakui Firdaus, hingga kini masih belum ada pengembalian dana kerugian negara oleh tersangka Ashari.

“Kami akan tetap berusaha agar yang bersangkutan mengembalikan kerugian negara itu. Dan itu jelas akan menjadi pertimbangan kami dalam persidangan nanti, untuk menjatuhkan tuntutan dan meringankan tersangka. Jika tidak, maka akan ada hal-hal pemberatan dalam tuntutan nanti,” pungkas Firdaus. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *