Lahan Jambu Kristal 5 Ha di Sanggalangit Diincar Oknum Anggota Dewan

Foto Balieditor.com-frs: Dirut PD Swatantra, Ketut Siwa membongkar permainan oknum anggota dewan di lahan perkebunan di Sanggalangit

BALIEDITOR.COM – Lahan milik Pemkab Buleleng, Bali, yang dikelola Perusahaan Daerah (PD) Swatantra seluar 5 hektare lebih di Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak, kini terus diincar oknum anggota dewan.

Padahal lahan itu sudah dikelola sebuah asosiasi dari Malang dengan model kerjasama bagi hasil dengan PD Swatantra selama 10 tahun. Tetapi salah seorang oknum anggota DPRD Buleleng dari Buleleng Barat, terus mengincar lahan itu dengan dalih membawa perusahaan lain untuk mengelola lahan tersebut.

Ulah oknum anggota dewan Buleleng yang tidak lebih dari perbuatan makelar investor itu dibongkar sendiri Dirut PD Swatantra, Ketut Siwa, kepada Balieditor.com di ruang kerjanya, Selasa (16/10/2018) siang.

Kata Siwa, dulu membawa investor mau mengambilalih pengelolaan lahan tersebut. Lalu dilakukan negosiasi dengan asosiasi yang mengelolaan lahan iu, setelah disepakati ternyata perusahaan yang “dimakerlari” oknum anggota dewan itu tidak berani dan atau tidak mampu membayar uang pengganti sebesar Rp 600 juta yang telah disepakati itu.

“Kemarin lagi (sebut nama oknum anggota dewan itu) datang. Katanya dia mau sewa, ya silahkan. Tetapi selesaikan dulu dengan asosiasi, cabut dulu izin pengelola, ya selesai urusannya. Ya (sebut anam oknum anggota dewan itu) menjembatani investor katanya,” beber Siwa.

Darimana investor atau perusahaan yang dibawa oknum anggota dewan? “Dia (oknum anggota dewan, red) juga. Tapi saya belum ketemu. Ngga usah ketemu saya, saya tidak ada hubungan. Silahkan berurusan dengan asosiasi karena kami sudah menjalin kontrak kerjasama dengan asosiasi,” jawab Siwa.

“Bagi saya tidak masalah, sepanjang pemerintah (Pemkab Buleleng, red) sebagai pemilik memperbolehkan, ya silahkan jalan. Tetapi harus selesaikan dulu dengan asosiasi yang sudah mendapat izin pengelola untuk 10 tahun dengan bagi hasil,” sambungnya lagi.

Ia kembali menceritakan gagalnya investor yang dimakelari oknum anggota dewan yang tidak berani membayar uang kompensasi kepada asosiasi sebagaimana telah disepakati bersama.

“Karena kita kan sudah kerjasama, kalau sekarang kita dilepas bagaimana dengan asosiasi, asosiasi bisa tuntut saya. Saya mediasi di sini (di kantor PD Swatantra, red) Karena sudah terinvestasi di sana sekitar 800 juta lebih, ini hitungannya dia si asosiasi. Tapi hitungannya dia si investor (yang dibawa oknum anggota dewan) jatuhnya Rp 600 juta,” beber Siwa.

Lalu bagaimana dengan asosiasi terhadap hasil hitungan investor baru? “Asosiasi sudah setuju, dibandingkan saya diganggu terus, kan gitu ya. Ketika sudah ok, uangnya ngga ada, ngga ada ujung-ujungnya sampai sekarang. Muncul lagi katanya ada investor baru, oh silahkan! Wong saya ngga boleh menyewa, menjual ngga boleh, saya hanya mengelola,” jawab Siwa.

“Kalau ini ngga diganggu terus (oleh oknum anggota dewan dengan memakelari investor lain, red) pasti bagus,” paparnya. Buktinya mati 8.000 dia masih bisa disulam dan 4.000 pohon sudah berhasil

Siwa mengaku sempat menyindir oknum anggota dewan itu dengan menyatakan, “Dulu ketika pak (sebut nama oknum anggota dewan itu) mencaci kita bahwa tanah di sana tidak dikelola dengan bagus, kok tidak ada investor mau datang? Bahkan investor Sri Rezeki yang dibawa suaminya Diah Pitaloka langsung ke sini, ia katanya mau nyewa. Ya silahkan. Mana? Kita ngga tahu, ujung-ujungnya kita ngga tahu, sampai sekarang ngga jelas.” (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *