Lapangan Bungkulan-gate: Mediasi Deadlock, Kedua Kubu Ancam Saling Lapor

Foto Balieditor.com-frs: Suasana mediasi kasus Lapangan Bungkulan-gate di Kantor BPN Buleleng

BALIEDITOR.COM – Upaya mediasi kdua kubu soal status lahan lapangan sepaka bola dan Puskesmas Pembantu I di Bungkulan oleh Kantor BPN Buleleng gagal alias deadlock, Selasa (20/8/2019) siang. Bahkan kedua kubu menebarkan ancaman bakal saling lapor ke kepolisian.

Dua kubu yang berseteru semuanya hadir lengkap. Tertuduh I Ketut Kusuma Ardana, S.TP serta kubu masyarakat yang keberatan atas penguasaan tanah oleh Kusuma Ardana.

Dalam mediasi yang berlangsung tertutup di ruang Kepala BPN Buleleng ini dihadiri langsung oleh Kusuma Ardana bersama perwakilan Desa Adat Pakraman Bungkulan. Dalam mediasi itu, sempat terjadi adu argument dari kedua pihak. Kusuma Ardana tetap bersikukuh bahwa tanah itu adalah hak miliknya, sedangkan desa adat juga tetap bersikukuh tanah itu milik desa.

Ditemui usai mediasi, Kusuma Ardana tidak menampik mediasi deadlock alias tidak ada titik temu. Kusuma Ardana menegaskan, tanah tersebut adalah hak miliknya yang diperoleh dari warisan orangtuanya. “Penerbitannya sesuai, ini hak milik orangtua saya, ada sertifikat tahun 1974, 2013 pemecahan. Tapi tidak menutupkemungkinan nanti di desa, kami ikuti saja (upaya lainnya),” kata Kusuma Ardana.

Menurut Kusuma Ardana, pihaknya sudah merencanakan sejak dari jauh-jauh hari sebelumnya untuk memberikan tanah yang akan dibelinya kepada pihak desa. Dan tanah yang kira-kira luasnya hampir mencapai satu hektare itu akan diserahkan sebagai asset desa untuk lapangan dan kegiatan desa lain.

Rencana itu, mengingat dirinya selaku pemilik lahan lapangan sepak bola Desa Bungkulan berencana akan menyewakan lahan tersebut. “Hasilnya saya belikan tanah, sebagai pengganti tapi agak ditengah sedikit. Kami serahkan untuk desa sebagai asset, masyarakat semua tahu. Sekarang tergantung mau gak. Ini kan cuma segelintir orang saja. Saya juga bisa turun masyarakat dalam jumlah lebih banyak, tapi saya tidak mau makanya saya datang sendiri,” cetus Kusuma Ardana.

Bahkan Kusuma Ardana sudah berencana akan melaporkan kubu lawan dengan tuduhan pencemarana nama baik. “Saya sedang pelajari untuk melapor pencemaran nama baik. Saya siap ladeni mereka,” tantang Kusuma Ardana.

Sementara Kelian Banjar Adat Punduh Lo Desa Bungkulan, Putu Kembar Budana justru menolak tawaran dari Kusuma Ardana tentang penggantian lahan tersebut. Ia tetap bersikukuh untuk bisa mempertahankan tanah itu sebagai fasilitas umum (fasum) desa. “Saya tidak setuju. Sekarang cari tanah seluas itu dimana? Itu kan gampang saja ngomongnya. Gak mungkin,” tegas Kembar Budana.

Kembar Budana menyayangkan, jika benar sertifikat yang terbit tahun 2013 lalu melalui proses yang benar, kenapa Kusuma Ardana tidak menyampaikan kepada masyarakat hingga saat ini, sampai persoalan ini menimbulkan konflik. “Saya akan tempuh upaya hukum, tapi saya rembug dulu. Kalau gugat perdata, saya gak ada bukti. Saya lapor ke kantor Polisi, karena dalam proses penerbitan sertifikat banyak cacat, BPN yang tahu,” ujar Kembar Budana.

“Katanya dia mau lapor, kami siap saja. Kami pun pasti akan lapor karena proses pensertifikatan itu ada keganjalan,” tegas Kemvar Budana melontarkan ancaman balik.

Kelian Desa Adat Bungkulan, Made Mahawerdi mengakui, kesalahannya yang kurang teliti saat menandatangani surat pernyataan penguasaan fisik bidang tanah, sehingga sertifikat hak milik No. 2427 atas nama Ketut Kusuma Ardana diterbitkan. “Masalahnya waktu itu prona, banyak yang mengajukan, aset-aset desa dan pura juga. Lalu ada permohonan dari Ketut Kusuma Ardana. Terus terang karena banyak berkas, saya tidak mengerti juga surat permohonan dari Kusuma Ardana itu tidak ada cap dari desa pakraman,” ucap Mahawerdi.

Bahkan, ketik proses pengukuran dari BPN pihaknya juga tidak mengetahui. “Kalau pengukuran prona apalagi ada tanda tangan saya, saya pasti diundang. Makanya, saya mencabut tanda tangan itu, dengan membuat surat pernyataan. Saya tidak terima bila tanah yang menjadi fasum itu disertifkkatkan oleh Kusuma Ardana,” pungkas Mahawerdi. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *