Laporan Pencurian Di-SP3-kan, Netra Praperadilankan Kapolres

Foto Balieditor.com-cha: Gede Harja Astawa,SH mendaftarkan gugatan praperadilan kepada Kapolres Buleleng di Pengadilan Negeri Singaraja Kamis (23/5/2019).

BALIEDITOR.COM – Kapolres Buleleng AKBP Suratno mendapat “serangan” dahsyat.

Serangan itu datang dari I Wayan Netra, 61, warga Banjar Dinas Beluangan, Desa Perean Kangin, Kecamatam Baturiti, Tabanan. Pekak (kakek) Netra praperadilankan Kapolres Suratno.

Netra nekat melayangkan gugatan praperadilan kepada Kapolres Buleleng,AKBP Suratno, karena laporan dugaan perbuatan pidana pencurian sertifikat menggantung setahun.

Tak hanya itu,laporan ke Polres Buleleng ber nomor: LP/12/I/2018/Res Bll tertanggal 18 Januari 2018,tanpa alasan yang jelas dihentikan melalui penerbitan SP3 bernomor:B/375/IV/2019/Reskrim,tertanggal 26 April 2019.

Netra melaporkan gugatan praperadilan itu,Kamis (23/5/2019) ke Pengadilan Negeri Singaraja, diantar kuasa hukumnya Gede Harja,SH dan rekan.

Dalam penjelasannya melalui kuasa hukum nya,Gede Harja, Netra menyayangkan sikap Polres Buleleng itu. “Laporan tindak pidana pencurian sertifikat yang kami laporkan setahun lalu oleh penyidik Sat Reskrim Polres Buleleng dihentikan. Padahal kami sudah sering melakukan koordinasi dengan penyidik,”jelas Harja.

Menurut Harja,ia menilai aneh diterbitkannya SP3 untuk kasus kliennya.Pasalnya kasus tersebut sudah terang benderang namum penyidik menganggap tidak cukup bukti.

“Justru bagi kami bukti yang dianggap tak cukup itu sangat kuat.Sertifikat aseli ada ditangan terlapor dan dalam SP2HP disebut tidak ditangan terlapor,”imbuh Harja.

Harja menambahkan,saksi yang menerangkan bahwa sertifikat kliennya ada di tangan terlapor sudah diperiksa penyidik. Bahkan,sangat jelas bukti terlapor telah menguasai sertifikat kliennya tanpa atas hak. “Tiba-tiba penyidik menerbitkan SP3 itu yang membuat kami menggugat praperadilan terhadap Kapolres Buleleng,”terang Harja.

Harja menjelaskan,kasus yang menyeret Kapolres Buleleng,AKBP Suratno ke meja pengadilan itu berawal dari pencurian sertifikat hak milik,No.780/Desa Gobleg dan sertifikat hak milik No.781/Desa Gobleg atas nama Ketut Rudeg yang merupakan ayah Wayan Netra oleh seorang pria bernama Made Kota Budiasa (64) warga Banjar Dinas Jombong Desa Gobleg Kecamatan Banjar.

Menurut Harja,pada tahun 1994,kliennya meminjam uang sebesar Rp 1,5 juta kepada Nengah Nadra dengan jaminan dua sertifikat tersebut.Saat akan menebus uang pinjaman itu,pada Januari 2017, Netra mendatangi kediaman Nengah Nadra bersma saksi Komang Suartama.Pada saat itu Nadra meminta waktu sepekan untuk mencari keberadaan dua sertifikat itu.

“Sepekan kemudian kami datang lagi namun kami mendapat informasi bahwa dua sertifikat itu dibawa oleh Made Kota Budiasa,” ceritanya.

Sekitar bulan Maret 2017,kata Harja pihaknya mendengar kabar kalau Nengah Nadra telah meninggal dan lanjut mendatangi Made Kota Budiasa untuk menanyakan sertifikat itu.”Saat itu dia (Made Kota Budiasa,red) mengakui sertifikat itu ada ditangannya,”jelas Harja.

Hanya saja Made Kota enggan menyerhakan sertifikat dan balik menantang untuk ditempuh jalur hukum jika ingin mengambil dua sertifikat tersebut.

“Atas dasar itulah kami melapor ke Polres Buleleng atas dugaan tindak pidana pencurian,”sambung Harja.

Usai melapor,kata Harja,pihaknya mendapat surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan (SPHP) tertanggal 26 Januari 2018 tentang penunjukan Bripka I Made Yogi Sentanu selaku penyidik pembantu dalam kasus itu.

“Kami juga sempat bersurat kepada Kapolres Buleleng meminta penjelasan proses hukum atas kasus tersebut karena setahun sejak terima SPHP kami tidak menerima penjelasan lebih lanjut soal kasus yang kami laporkan,” ungkap Harja.

Selanjutnya terbit SPHP No.44.c/IV/2019/Reskrim,tanggal 12 April 2019 terkait perkembangan perkara.

“Atas dasar perkembangan kasus itu hingga diterbitkannya SP3 tentu merugikan dan kami berpendapat untuk mengujinya melaui pengadilan dengan melayangkan gugatan praperadilan untuk Kapolres Buleleng,” tandasnya.(cha/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *