LPD Gerokgak-gate: Ngurah Arya Mangkir dari Panggilan Kejati, LSM GENUS Desak Ketua DPRD Sadarkan Ngurah Arya

Foto Dokumen Balieditor.com: Antonius Sanjaya Kiabeni

BALIEDITOR.COM – Ternyata kasus dugaan tindak pidana korupsi di LPD Desa Pakraman Gerokgak, Desa Gerokgak, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, memasuki babak baru yang seru.

Ini lantaran kasus yang dinamakan LPD Gerokgak-gate oleh kalangan pers itu sudah naik status menjadi penyidikan oleh tim penyidik Kejati Bali. Sejumlah saksi sudah dimintai keterangan.

Salah satu saksi yang turut dipanggil tim penyidik Kejati Bali adalah Ketua Tim Inventarisasi Aset LPD Gerokgak Ketut Ngurah Arya. Namun Ngurah Arya mangkir dari panggilan tim penyidik Kejati Bali walaupun sudah dua kali dikirim surat pemanggialn.

Akibatnya, LSM Gema Nusantara (GENUS) yang selama ini mendampingi para nasabah LPD Gerokgak yang menjadi korban dugaan tindak pidana korupsi di LPD Gerokgak itu, berang.

Ketua Badan Eksekutif LSM GENUS Antonius Sanjaya Kiabeni alias Anton pun cuit di facebooknya. Seperti dikutip dari FBnya Anton, LSN GENUS mendesak Ketua DPRD Buleleng, Badan Kehormatan DPRD Buleleng, Ketua FPDIP untuk memberikan pemahaman dan mendorog Ngurah Arya yang akrab disapa Arya Bodoh yang kini tercatat sebagai anggota DPRD Bali dari Fraksi PDIP untuk taat hukum dan tidak menghambat proses hukum LPD Gerokgak-gate.

“Berdasarkan informasi termaksud maka LSM Gema Nusantara Buleleng Bali mendesak agar Bapak Ketua DPRD Buleleng, Badan Kehormatan DPRD Buleleng, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Buleleng, demi menjaga marwah lembaga, mohon agar diberikan pemahaman yang baik dan benar terhadap oknum DPRD Buleleng tersebut yakni bapak Ketut Ngurah Arya agar menghadiri surat panggilan tersebut demi menjaga kerjasama yang baik antar intitusi, lembaga, instansi dalam bingkai NKRI yang kita cintai ini sebagai wujud komitmen, konsisten kita sebagai anak bangsa dalam PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI,” demikian cuitan Anton di FBnya.

Dalam cuitannya lanjutan, Anton mengaku bahwa LSM GENUS mendapat informasi dari tim penyidik Kejati Bali bahwa Arya Bodo sudah dua kali dipanggil namun dia tidak pernah hadir memenuhi panggilan itu.

“Terhormat DPRD Buleleng Fraksi PDI Perjuangan Buleleng Bali yang dipanggil oleh Tim Penyidik Tipikor Kejaksaan Tinggi Bali sebagai SAKSI belum hadir. Informasi masyarakat adat termaksud, kami tindak lanjuti, dengan menelpon bapak Kepala Desa Gerokgak Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng, Bali, pada nomor selulernya dan oleh Kepala Desa membenarkan bahwa memang ada surat panggilan dari Kejati Bali. Namun kepala desa mengaku bahwa masalah hadir tidak hadir kepala desa tidak tahu,” cuit Anton dalam FBnya.

Setelah itu, Anton dalam cuitan FBnya menceritakan, “Setelah itu kami komunikasikan ke Kejati Bali dan oleh Kejati Bali memang benar Ketua Tim Inventarisasi yang juga menjabat anggota terhormat DPRD Buleleng Bali Tersebut belum hadir. Tuhan memberkati.”

Surat panggilan pertama dari tim penyidik Kejati Bali untuk Ngurah Arya sebagai saksi tertanggal 12 Desember 2018. Dalam surat panggil itu Ngurah Arya dijadwalkan untuk dimintai keterangan hari Rabu tanggal 19 Desember 2018.

Ngurah Arya diminta hadir di Kejati Bali beralamat Jalan KaptenTantular No 5 Renon Denpasar, pukul 10.00 wita dan menghadap jaksa Purwanta Sudarmaji, SH, MH. Namun Ngurah Arya mangkir alias tidak hadir.

Kemudian tim penyidik Kejati Bali melayangkan surat panggilan kedua. Kali ini surat panggilan dikirim melalui Perbekel Gerokgak, Made Mangku. Dalam surat itu ternyata ada juga dua saksi lain yang ikut dipanggil untuk kedua kalinya bersama Ngurah Arya yang duduk di Komisi IV DPRD Buleleng itu.

Dalam surat panggilan kedua dari Kejati Bali itu, tercantum nama Ngurah Arya yang paling pertama. Disebutkan Ngurah Arya bakal dimintai keterangan sebagai saksi pada Selasa tanggal 8 Januari 2019 pukul 10.00 wita.

Dua saksi lain yang juga dipanggil Kejati Bali adalah Putu Warsini dan Putu Edy. Jadwal pemeriksaan terhadap kedua saksi inipun sama dengan jadwal pemeriksaan Ngurah Arya. Sayang, Ngurah Arya laagi-lagi mangkir, tidak memenuhi panggilan tim penyidik Kejati Bali.

Hingga berita ini diterbitkan, Balieditor.com belum mengkonfirmasikan karena belum menemukan nomor kontak yang bersangkutan. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *