Masalah Sampah, Dewa Jack: “Pejabat Care Wetun Paet, Be Toktok Mare Bergerak”

Foto Ist: Satpol PP saat OTT warga yang buang sampah bukan di tempatnya

BALIEDITOR.COM – Kabar Satpol PP Kabupaten Buleleng mulai tangkap-tangkap warga yang membuang sampah bukan di tempatnya alias buang sembarangan dalam sepekan terakhir ini, bukannya mendapat dukungan, melainkan malah mendapat sindiran pedas dari public Bali Utara.

Sejumlah warga menyindir pemerintahan di Bali, dengan menyatakan bahwa para pejabat di Bali baik di tingkat Provinsi Bali maupun di tingkat Pemkab/Pemkot se-Bali seperti palu yang hanya akan bergerak bila diketok-ketok. “Pejabat care wetun paet, be toktok mare bergerak,” sindir Dewa Jack, warga Kelurahan Kampung Anyar.

Dewa Jack menyatakan bahwa aksi tangkap-menangkap warga oleh Satpol PP di Kota Singaraja maupun di luar Kota Singaraja itu baru dilakukan setelah aktivis lingkungan yang juga mantan vokalis DPRD Bali periode 2014-2019 dari Partai NasDem, Nyoman Tirtawan berteriak dan mengkritisi secara tajam di media sosial (medsos) seperti facebook.

“Yen sing Tirtawan uyut di medsos menyoroti Buleleng Bebas Sampah Plastik thn 2015 sing taen turun satpol PP tangkapin pembuang sampah,” ungkap Dewa Jack dan dibenarkan Ketut Arik, warga Kota Singaraja secara terpisah.

Ketut Arik menuturkan, pemerintah terutama para pejabat di Bali seharusnya malu kepada Tirtawan karena politisi NasDem itu sampai membuat sayembara sampah berhadiah di medsos sebagai upaya memancing dan memotiviasi masyarakat untuk menjaga keberhasilan lingkungan dengan membuat sampah di tempatnya.

Sementara Rudy, warga Kelurahan Kampung Baru mengaku heran kenapa baru kali ini pemerintah bersikap terhadap masalah sampah yang dibuang di sembarang tempat, padahal Perda tentang sampah sudah dibuat sejak tahun 2013 lalu dengan target tahun 2015 Buleleng sudah bebas sampah plastic.

“Terus selama ini DLH dan jajarannya kemana? Seolah DLH baru tersadar dari mimpinya setelah Tirtawan berteriak lantang,” papar Rudy.

Sementara Floria, siswi salah satu SMP Negeri ternama di Kota Singaraja mengkritisi iuran sampah yang dipunggut Pemkab Buleleng via rekening PDAM. Siswi yang juga wartawan cilik di sekolahnya itu menilai bahwa Pemkab Buleleng melalui DLH hanya bisanya memunggut iuran dari masyarakat namun tidak mampu menyediakan fasilitas sampah bagi masyarakat.

Kata dia, akibat ketidakmampuan pemerintah menyediakan fasilitas sampah bagi masyarakat sebagai timbal balik iuran sampah, akhirnya masyarakat harus dibebani lagi pembayaran sampah di lingkungannya masing-masing.

“Viralnya berita atau Info sampah memenuhi selokan, sungai, jembâtan dan lain-lain di Bali membuat masyarakat sangat resah. Sudah baỷar iuran atau retribusi dobel (rekening PDAM dan internal desa/kelurahan) justru sampah banyak mencemari lingkungan. Bahkan dengan pungutan pâjak (PBB) naik sampai 500% kinerja Pemerintah dibawah standar dan sangat mengecewakan,” kritik Floria dibenarkan oleh Anwar dari Pengastulan secara terpisah.

Bahkan dengan tegas Anwar mengkritik aksi barbar Satpol PP yang main tangkap warga yang membuang sampah bukan di tempatnya. Menurut tokoh muda itu, punishment diberikan bila sarana pendukung sampah seperti bak sampah sudah cukup tersedia di setiap sudut desa dan kota.

“Menghukum orang tanpa solusi adalah kebodohan. Sediakan tempat buang sampah yang mudah dijangkau warga, jika itu sudah baru ada punishment,” kritik Anwar.

Sementara Linda, seorang ibu muda dari Kampung Baru, dengan nada sinis menyatakan, “Adalah hal lazim dan lumrah orang-orang mencari dan merebut kekuasaan agar hidup lebih enak, lebih nyaman dan lebih punya martabat harga diri. Mereka pada tidak punya kekhawatiran tentang keberlangsungan hidup bersama karena dengan tercemarnya darat, danau dan sungai serta laut adalah ancaman serius ekosistem. Kita juga bagian dari ekosistem,dan kita tidak bisa hidup nyaman jika ekosistem dalam keadaan tercemar.”

“Kenapa tidak ada langkah serius dari para pemimpin dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan dan alam? Dengan tercemarnya darat, danau dan sungai serta laut apa manusia tidak gampang sakit, menderita dan cepat mati ?” tandas Linda.

Ryan, mahasiswa Undiksha Singaraja, mengajak semua komponen masyatakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan Bali yang asri. Karena, kata dia, sebagai pulau pariwisata dunia, Bali sangat membutuhkan lingkungan yang bersih dan bebas dari sampah sebagai salah satu syarat untuk tetap menarik kunjungan turis dunia.

“Mari bersama sama saling mengingatkan dan bekerja bersama selamatkan bumi dan air demi anak cucu kita. Bagi para pemimpin di setiap tingkatan, mohon renungkan dengan seksama bahwa sudah saatnya kita selamatkan anak cucu kita dengan menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan,” tandas Ryan.

Sementara Luh Made Marwati dari LSM Detik mengkritisi kebijakan pemerintah yang membuat sampah begitu saja di TPA tanpa ada upaya mengelola kembali sampah tersebut menjadi komoditas ekonomi.

“Rakyat ngeles Pemerintah agar sampah tidak dibuang sembarangan, kalau dibuang menimbulkan masalah. Bukan dibuang ke TPA, tapi dikelola (TPS) TEMPAT PENGELOLAAN SAMPAH. Yang organik địjadikan pakan Ternak atu kompos dan yang non organik di daur ulang,” kritik Luh Marwati, mantan bacabup PDIP pada Pilkada Buleleng 2017 itu. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *