Mengenang Tragedi Iman 24 Agustus 2010: Romo Yan Ingatkan Umatnya Jangan Balas Dendam

Foto-Foto Balieditor.com: Acara mengenang periwisata iman 24 Agustus 2010 lalu

Foto-Foto Balieditor.com: Acara mengenang periwisata iman 24 Agustus 2010 lalu

BALIEDITOR.COM – Umat Katolik Buleleng, Bali, binaan Romo J Tanumiarja Nyoman, SVD, tidak melupakan tragedy penyerbuan Gereja Santo Paulus Singaraja pada hari Selasa tanggal 24 Agustus 2010 lalu.

Peristiwa memalukan yang dilakukan gereja Katolik terhadap seorang pastor Katolik yang taat pada panggilan imamatnya itu menjadi berita utama hampir di semua media nasional dan mejadi berita heboh di media-media asing (luar negeri).

Adalah pastor putra asli Bali dari Tuka Dalung, Badung, Romo J Tanumiarja Nyoman, SVD, yang menjadi korban tindakan tidak beriman yang dipimpin sejumlah pastor di Bali itu.

Akibat peristiwa itu kini umat Katolik di Buleleng terbelah dua kelompok yakni kelompok Gereja Katolik di Jalan Kartini dan kelompok umat yang setia kepada Romo J Tanumiarja Nyoman, SVD.

Kamis (24/8/2017) malam ini tepat 7 tahun tragedy memalukan itu dan puluhan umat binaan Romo Yan – sapaan akrab Romo J Tanumiarja Nyoman, SVD, menggelar acara di rumah Francelino Xavier Ximenes Freitas, salah satu pentolan umat binaan Romo Yan, di Jalan Pulau Sugara No.22 Singaraja.

Foto Romo 1

Acara yang dipimpin langsung Romo Yan itu untuk mengenang tragedy iman yang cukup menampar wajah Gereja Katolik yang selalu mendahulukan ajaran kasih itu. Hanya saja, sebagai seorang imam (pastor) Romo Yan meminta umatnya untuk tidak melihat ke belakang tetapi melihat peristiwa itu ke depan dengan iman.

“Kalau melihat ke belakang pasti akan muncul rasa marah dan benci. Oleh karena itu jangan melihat ke belakang tetapi melihat peristiwa itu ke depan dengan iman. Jangan membenci orang lain, tidak boleh balas dendam terhadap orang lain,” tandas Romo Yan dan renungan singkatnya, Kamis (24/8/2017) malam.

Romo Yan selalu mengajak umatnya melihat setiap peristiwa dari kacamata iman bukan dengan emosi yang bertentangan dengan ajaran kasih. “Kita terang, gelap selalu tidak suka pada terang, tetapi gelap tidak pernah mengalahkan terang,” tandasnya.

Ia pun bercerita secara singkat latarbelakang terjadinya perpecahan di Gereja Katolik Santo Paulus Singaraja. Kata dia, semuanya itu terjadi karena orang selalu meminta dari gereja apa yang diberikan gereja kepada mereka bukan memberikan sesuatu kepada gereja. “Kita sebagai umat tidak boleh menuntut apa yang diberikan gereja kepada kita, tetapi apa yang harus kita berikan kepada gereja,” kisahnya.

Pada kesempatan itu, Romo Yan juga memberikan spirit iman kepada umatnya. Ia meminta umat Katolik tidak boleh lembek dan tidak boleh takut menghadapi cobaan iman seperti umat di zaman gereja perdana. “Kita ini seperti umat pada gereja perdana dulu, sembahyang dari rumah ke rumah tetapi dapat berkah,” ujar Romo Yan memberikan semangat dan spirit iman kepada umatnya.

Usai acara doa dan renungan dilanjutkan dengan resepsi sederhana yang disiapkan oleh tuan rumah. Seekor ikan ukuran besar sebagai symbol Kristus disiapkan dan semua umat yang hadir harus mencicipi ikan bakar itu sebelum mengambil menu lain. (tim)

Foto Romo 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *