Minta Rekomendasi, CV Aruna Jaya Diminta Uang DP oleh Perbekel Patas

Foto Balieditor.com-frs: Lokasi pendirian pabrik beton oleh CV Aruna Jaya di Desa Patas

BALIEDITOR.COM – Iklim investasi di Buleleng, Bali, ternoda. Karena ada kabar kurang sedang datang dari Desa Patas. Ada dugaan sikap kurang bersahabat dari Perbekel Desa Patas, Kecamatan Gerokgak, Nyoman Suberata.

Kabar kurang sedap itu muncul seiring dengan kehadiran CV Aruna Jaya, yang hendak mendirikan pabrik alias industry beton (batching plant) di desa itu. Konon kala manajemen CV Aruna Jaya mengajukan atau meminta surat rekomendasi kepada Perbekel Suberata beberapa waktu lalu, Perbekel Suberata tidak mau menandatanganinya dan malah minta uang muka alias DP.

Hasil investigasi Balieditor.com di lapangan menyebutkan, setelah Perbekel Suberata tidak mau menandatangani surat rekomendasi dengan syarat harus bayar dulu uang DP, staf CV Aruna Jaya yang mengurus surat rekomendasi ke desa itu langsung melaporkan kepada bosnya.

“Kalau memang ada aturan seperti itu kasih lihat dulu aturannya apa berupa Perdes atau berupa Keputusan Perbekel. Kita akan bayar kalau memang ada Perdesnya,” jelas Luh Ratna Dewi, S.Pd, manager CV Aruna Jaya.

Ratna Dewi menuturkan bahwa kalau memang aturan di desa yang mengatur bahwa investor yang hendak berinvestasi di Desa Patas harus membayar dulu uang DP kepada desa, maka CV Aruna Jaya pun hanya akan membayar melalui rekening desa, bukan melalui orang perorang termasuk tidak mau bayar langsung ke Perbekel. “Kami minta nomor rekening desa supaya kami transfer, tetapi tidak mau kasih. Kami bayar tapi dikasih kuitansi, juga tidak mau,” cerita Ratna Dewi.

Dipaparkan, kehadiran perusahaanya di Desa Patas sebenarnya sangat menguntungkan warga setempat. Karena pabrik beton ini bakal memperkerjakan banyak tenaga dari warga Desa Patas. Apalagi Desa Patas masuk kawasan industry sehingga tidak ada alasan bagi Perbekel Suberata untuk menolak pendirian pabrik beton di desa itu.

“Kami dirikan pabrik di sana karena itu kawasan industry. Pabrik kami akan memperkerjakan warga di sana. Karena sesuai aturan kami juga bakal memberikan CSR kepada warga di sana. Tapi jangan minta sekarang, perusahaan belum kerja kok sudah minta DP. Nanti setelah kerja, setelah produk baru kami akan berikan dalam bentuk apa, tergantung pada kesepakatan,” paparnya.

Kata dia, pihaknya kini menunggu sosialisasi kepada masyarakat setempat oleh Prebekel Suberata. Menurut rencana, sosialisasi bakal digelar Senin (19/11/2018) mendatang.

Hasil pemantauan Balieditor.com di lapangan Selasa (13/11/2018) siang menyebutkan bahwa sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi justru menyayangkan sikap Perbekel Suberata yang terkesan menghambat izin prabrik beton tersebut. “Ah…itu uang-uang aja,” kritik beberapa warga saat ditemui Balieditor.com.

Mereka sepakat bahwa keberadaan pabrik beton bakal sangat menguntungkan warga setempat karena banyak tenaga kerja dari Desa Patas bakal ditampung di pabrik itu. “Kita kan harus berpikir ke depan, jangan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Perusahaan besar seperti ini pasti banyak anak-anak kita akan direkrut untuk kerja di sana,” ujar mereka.

Bahkan salah satu warga yang turut mengawasi dan menjaga alat berat yang sudah ada di lokasi menyebutkan bahwa Senin (12/11/2018) malam salah satu anggota BPD Patas bernama Ketut Badung sedang mendatangi lokasi itu. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *