Narkoba: Saat Ditangkap Dua Pelaku Pasutri, Tapi Saat Press Release Istrinya Tidak Ada

Foto Balieditor.com-ngr: Satres Narkoba gelar jumpa pers terkait penangkapan anggota mafia narkoba

BALIEDITOR.COM – Anggota mafia Narkoba Bali Utara kembali terbongkar. Kali ini Satres Narkoba Polres Buleleng, berhasil menangkap 3 orang anggota jaringan mafia narkoba. Ketiganyag masih dalam satu jaringan namun ditangkap di tiga tempat yang berbeda.

Dari tangan ketiga pelaku ini, polisi berhasil mengamankan 1 gram lebih narkoba dan barang bukti lainnya. Kini ketiga pelaku harus meraskaan hidup dibalik jeruji besi.

Ketiga anggota jaringan mafia Narkoba itu Komang Ngadeg Pande Arta alias Ngadeg, 18, dan Kadek Witama alias Potok, 33, warga Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula,Buleleng, serta Gede Sumertayasa alias Kopet, 39, warga Banjar Dinas Melaka, Desa Kayuputih, Kecamatan Sukasada, Buleleng.

Menariknya lagi, hasil pantauan Balieditor.com awal pekan di ruang Satres Narkoba bahwa penangkapan awal Senin (25/3/2019) dinihari dilakukan di Desa Sambangan itu tertangkap tiga orang dengan rincian dua pria dan seorang perempuan. Bahkan sumber di Satres Narkoba kepada Balieditor.com kala itu, perempuan itu adalah istri dari salah satu pria yang juga ditangkap bersama-sama. Bahkan anggota Satres Narkoba yang memberikan infomasi kepada Balieditor.com bahwa perempuan yang ditangkap itu bekerja di bagian administrasi RS milik pemerintah terbesar di Bali Utara yang berlokasi di kawasan Jalan Ngurah Rai Singaraja.

“Itu istrinya, kerja di bagian TU RS Umum,” sebut anggota Satres Narkoba itu sambil wanti-wanti untuk tidak ditulis dulu beritanya dengan dalih masih rahasia, Senin (25/3/2019) siang kepada Balieditor.com

Namun, dalam press release, lagi-lagi salah satu anggota jaringan narkoba namanya menghilang dari press release yang diberikan kepada wartawan. Bukan hanya namanya pelaku perempuan itu saja yang hilang, tetapi orangnya juga tidak ada.

Hasil investasi Balieditor.com menyebtukan bahwa penangkapan “kloter” kedua ini merupakan pengembangan dari penangkapan kloter Polos yang ditangkap sebelumnnya di perumahan Taman Wira Bakti, Gang Durian, Jalan Srikandi, wilayah Banjar Dinas Tista, Desa Baktiseraga, Singaraja. Ada dugaan bahwa ketiga ini ditangkap sebagai usaha “tukar kepala” dengan dua anggota jaringan Narkoba yang ditangkap bersama Polos tetapi “diselamatkan” karena merupakan jaringan pejabat penting di Bali Utara.

Dikonfirmasi Kasat Narkoba Polres Buleleng, AKP Ketut Suparta mengungkapkan, awalnya polisi menangkap Ngadeg pada Minggu (24/3/2019) pukul 23.00 wita dipertigaan Banjar Dinas Tegal Sari, Desa Bondalem. Saat digledah, ditemukan 1 bungkus rokok yang didalamnya berisi narkoba jenis sabu-sabu seberat 0,18 gram.

Tidak jauh dari lokasi penangkapan Ngadeg sekitar 300 meter, lanjut kata Suparta, polisi kemudian menangkap Potok. Berdasarkan keterangan Potok, ia mengakui barang yang dibawa oleh pelaku Ngadeg adalah miliknya untuk diantarkan ke pembeli. Saat digledah, polisi menemukan 1 handphone yang digunakan Potok untuk berkomunikasi dalam transaksi narkoba.

“Jadi barang yang dibawa oleh Ngadeg itu didapatkan dari Potok. Selanjutnya, kami bawa mereka berdua ke Mapolres Buleleng untuk menjalani pemeriksaan, untuk mengungkap jaringan mereka,” ungkap AKP. Suparta, didampingi Kasubag Humas, Iptu. Sumarjaya, Jumat (29/3) siang di Mapolres Buleleng.

Dari keterangan kedua pelaku (Ngadeg dan Potok, red), polisi mendapatkan informasi bahwa barang haram itu diperoleh dari Kopet. Selanjutnya, pada Senin (25/3/2019) sekitar pukul 04.30 wita, polisi memburu keberadaan Kopet di Desa Sambangan. Saat digledah, polisi menemukan 1 buah tas yang terdapat 1 bungkus rokok yang didalamnya ada narkoba jenis sabu-sabu seberat 1,06 gram.

Selain itu, polisi juga mengamankan barang bukti dari tangan Kopet berupa 1 unit handphone, 1 buah bong alat yang terbuat dari botol larutan, 2 buah tabung kaca, 1 buah korek api gas. “Jadi mereka bertiga ini masih satu jaringan, jaringan Singaraja. Kami juga saat ini masih lakukan pendalaman dari mana barang ini diperoleh,” jelas Suparta.

Sementara pelaku Kopet mengaku, menyesal atas perbuatannya. Kopet mendapatkan barang haram ini dengan cara memesan melalui telepon seluler. “Saya pesennya lewat telepon, ada uang ada barang. Uang dikasik Potok, lalu saya jalan ke barat ngambil barangnya. Saya minta maaf dan menyesal,” pungkas Kopet.

Ketiga anggota jaringan mafia Narkoba itu dijerat dengan pasal 114 ayat (1) atau pasal 112 ayat (1) atau pasal 127 ayat (1) UU RI No.35 tahun 2009 tentang Narkotika, dengan  ancaman hukuman pidana paling lama 12 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 8 miliar. (ngr/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *