Pakai Awig-Awig dalam Kelola LPD Desa Adat Ambengan

Foto Balieditor.com-frs:  Kepala LPD Desa Adat Ambengan Made Nyiri Yasa, S.Sos., M.MA, menilai pengelolaan aset penting melalui ketegasan awig-awig, Kamis (3/11/2016)

Foto Balieditor.com-frs: Kepala LPD Desa Adat Ambengan Made Nyiri Yasa, S.Sos., M.MA, menilai pengelolaan aset penting melalui ketegasan awig-awig, Kamis (3/11/2016)

BALIEDITOR.COM – Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Ambengan, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, mempunyai cara baru dalam pengelolaannya.

LPD bersama Desa Adat Ambengan menerapkan awig-awig yang bertujuan menjalin kepercayaan dan kerjasama menekan pelanggaran atas tunggakan pinjaman.

Kepala LPD Ambengan Made Nyiri Yasa, S.Sos., M.MA., menilai peran LPD di masyarakat pedesaan amatlah penting. Hal dimaksud menyangkut permodalan ekonomi dalam menunjang wirausaha masyarakat.

Dijelaskan Nyiri Yasa, LPD Desa Adat Ambengan di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, berdiri sejak tahun 12 Mei 1989 dengan SK Gubernur Bali No. 55 tahun 1989. Gejolak tantangan pengelolaan LPD diawal tidaklah mudah.

Kali pertama dahulu menghadapi persoalan melibatkan masyarakat dan kerjasama dengan Kelian Desa Adat Ambengan Wayan Teren, SH., yang kini sebagai Sekretaris Komisi I DPRD Buleleng.

“Kami tanamkan prinsip kehati-hatian mengelola LPD Desa Adat Ambengan. Tantangan LPD terkait perilaku peminjaman dan pengelolaan uang. Kita atur strategi membuat awig-awig LPD. Kami lalu perlahan sosialisasikan. LPD akhirnya berdiri dan berjalan lancar untuk masyarakat,” jelasnya, Kamis (3/11/2016).

Dia menuturkan, sempat ditemui tantangan tahun 1992. LPD Desa Adat Ambengan tumbuh berkembang memiliki aset terbesar dan tergolong sehat di Buleleng. Temuan kredit macet diselesaikan awig-awig. LPD Desa Adat Ambengan bahkan sering meraih prestasi juara diberbagai ajang perlombaan.

“Kami tegakan awig-awigdan dulu pernah dilakukan eksekusi jaminan. Pengalaman berkembang membuat LPD Desa Adat Ambengen, makin kokoh dibentengi awig-awig. Jika masalah tidak terselesaikan musyawarah dan pembinaan, maka terakhir awig-awig-lah ditegakan,” tutur alumni S1 di Universitas Panji Sakti Kota Singaraja ini.

Keberadaan LPD Desa Adat Ambengan tercatat memiliki aset Rp 30 Milliar. Pesat minimnya perkembangan LPD berdasarkan usaha pengelolaan. Namun peluang pertumbuhan LPD dipengaruhi pelayanan terhadap krama Desa Adat atau Pakraman Ambengan. Ketegasan prajuru desa berpedoman terhadap awig-awig demi menjaga kepercayaan masyarakat.

“Ya per November ini aset kita mencapai Rp 30 Milliar. Ini sesuai situasi dan kondisi desa masing-masing dalam mengelola LPD,” pungkasnya. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *