Parlementaria: Sidang Paripurna DPRD Buleleng Berbahasa Gado-Gado

Foto Balieditor.com-frs: Sidang dewan Buleleng yang menggunakan bahaaa gado-gado

BALIEDITOR.COM – Sidang paripurna DPRD Buleleng, Bali, Kamis (16/5/2019) siang di ruang rapat utama lantai dua gedung DPRD Buleleng, terasa aneh.

Sidang pengambil keputusan tentang tiga Ranperda yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Buleleng dati Fraksi Golkar Ketut Susila Umbara itu menggunakan bahasa gado-gado.

Pimpinan sidang dalam kata pengantar menggunakan Bahasa Bali, begitu pula Wakil Bupati Nyoman Sutjidra dalam menyampaikan sambutannya juga menggunakan Bahasa Bali. Tetapi materi sidang dewan berupa laporan pansus menggunakan Bahasa Indonesia.

Padahal sidang DPRD Buleleng hari ini merupakan acara kenegaraan yang mengambil keputusan yakni pengesahan tiga Ranperda menjadi Perda Kabupaten Buleleng, sekaligus keputusan itu masuk dalam lembaran negara, maka wajib menggunakan bahasa nasional.

Bukan hanya itu, para tamu undangan yang menghadiri sidang dewan pun belum kompak dalam berbusana pada hari Kamis yang wajib berpakaian adat Bali.

Contoh, sejumlah anggota Forkompinda tidak berpakaian adat Bali sesuai Pergub Bali No 79 Tahun 2018 yang wajib berpakaian adat Bali setiap hari Kamis.

Pimpinan sidang Ketut Susila Umbara saat dikonfirmasi Balieditor.com usai sidang mengaku belum membaca Pergub Bali itu. Ia mengaku hanya membaca saja naskah atau narasi sidang yang sudah disiapkan Bagian Risala Setwan Buleleng.

“Saya belum baca Pergub itu. Saya hanya membaca saja yang sudah disiapkan,” ujarnya.

Susila Umbara mengaku semua masukan dan pandangan publik tentang penggunaan bahasa sidang pada hari Kamis akan dikoordinasikan dengan Bagian Risala dan pimpinan dewan.

Sementara anggota Fraksi Golkar Gede Suparmen dengan santai mengatakan, “Berarti yang buat naskah sidang yang bodoh bukan yang baca.”

Sementara Kabag Risala Sekretariat DPRD Buleleng, Putu Dharma Sanjaya, menyatakan bahwa pihaknya merancang bahasa untuk penyampaian kata pengantar oleh pimpinan sidang menggunakan Bahasa Bali.

“Tetapi untuk materi sidangnya menggunakan Bahasa Indonesia biar semua mengerti,” ujar Sanjaya.

Pun demikian Sanjaya mengaku akan membahas kembali penggunaan Bahasa Bali di hari Kamis pada sidang dewan. “Kami akan koordinasi dengan provinsi biar satu persepsi,” pungkasnya. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *