PDAM Buleleng NaikkanTarif Air, Berlaku Per 1 Maret 2018

Foto Balieditor.com-ngr: Direksi PDAM Bulelengkasih keterangan pers

Foto Balieditor.com-ngr: Direksi PDAM Bulelengkasih keterangan pers

BALIEDITOR.COM – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Buleleng, pada 1 Maret 2018 menaikan tarif sebesar 10 persen. Kenaikan tarif ini, akibat terbebani biaya operasional.

Selain itu, opsi kenaikan tarif ini sudah berdasarakan perhitungan pendapatan perkapita masyarakat termasuk upah minimum provinsi (UMP) dan UMK, termasuk perhitungan yang didasarkan klasisifikasi pelanggan berdasar sistem subsidi silang dan pola tarif progresif.

Dirut PDAM Buleleng, Made Lestariana mengatakan, kenaikan biaya operasional dan pemeliharaan menjadi dasar utama, PDAM Buleleng mengambil kebijakan untuk menaikkan tarif air, menyusul ada kenaikan harga barang-barang dan material serta ongos kerja. Bahkan menurut Lestariana, kenaikan tarif ini telah disesuaikan dengan klasifikasi pelanggan dan tingkat pemakaian air.

“Berdasarkan Permendagri Nomor 23 tahun 2006 tentang pedoman Teknis dan Tata Cara Pengaturan Tarif Air Minum pada Perushaan Derah Air Minum, tarif standar air minum harus terjangkau oleh daya beli masyarakat berpenghasilan sama dengan upah iminum Provinsi dan memenuhi prinsip keterjangkauan,” kata Lestariana, Selasa (13/2/2018).

Untuk klasifikasi kenaikan tarif golongan S1 dan S2 biaya abonemen itu sebesar Rp10 ribu dan Rp11 ribu, R1 biaya abonemen Rp12 ribu dan tarif tertinggi N2 dan I2 masing-masing Rp20 ribu dan Rp22 ribu.

“Ini sudah sesuai dengan tingkat pemakaian dengan asumsi yang ditetapkan berdasarkan tingkat pemakaian rata-rata air. Lemakian rata-rata air masyarakat sebesar 18 meter kubik perbulan. Artinya, ada sebanyak Rp67 ribu lebih dikeluarkan pelanggan perbulan setelah ada penyesuaian tarif,” jelas Lestariana.

Untuk perhitungan dan penerapan tarif air minum, sambung dia, didasarkan atas klasifikasi pelanggan dengan menggunakan sistem subsidi silang agar pelanggan yang lebih mampu memberikan subsidi kepada pelanggan kurang mampu. “Kami gunakan pola subsidi silang yang memberikan subsidi pada yang kurang mampu, serta pola tarif progresif untuk penggunaan air yang efektif dan efesien,” ujar Lestariana.

Kenaikan tarif ini sudah berdasarkan pada hitungan yang disesuaikan dengan kondisi riil dan tidak memberikan beban berlebih kepada para pelanggan. Angka kenaikan ini, lanjut dia, sudah berada pada angka paling rasional. “Kami juga pertimbangkan dengan kebutuhan perusahaan terutama biaya listrik yang mencapai Rp900 juta lebih,” ungkap Lsstriana.

Besaran biaya listrik itu, mengingat hampir 81,95 persen dari kapasitas produksi PDAM sebesar 709 liter/detik dari sebanyak 16 sumber mata air dan 37 sumur dalam menggunakan energi listrik untuk mengangkat air. “Sisanya sebesar 18 persen baru menggunakan sistem gravitasi. Itu yang membuat cost kami untuk listrik sangat tinggi, selain juga gaji pegawai dan biaya operasional perawatan lain,” pungkas Lestariana. (ngr/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *