Pembangunan RS Pratama Giri Emas Molor, Pimpinan Dewan “Tegur” Pimpro

Foto Balieditor.com-frs: Pimpinan Dewan Sidak Proyek Molor RS Pratama Giri Emas

Foto Balieditor.com-frs: Pimpinan Dewan Sidak Proyek Molor RS Pratama Giri Emas

BALIEDITOR.COM – Molornya pengerjaan Rumah Sakit (RS) Pratama di Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, Buleleng, Bali, membuat DPRD Buleleng berang. Rabu (4/1/2017) Komisi II yang menyidak proyek tersebut, Kamis (5/1/2017) giliran pimpinan dewan yang mendatangi proyek pembangunan RS Pratama itu.

Pimpinan dewan yang terdiri atas Wakil Ketua I DPRD Buleleng Ketut Susila Umbara, SH, dan Wakil Ketua II DPRD Buleleng I Made Adi Purnawijaya serta anggota Komisi I DPRD Buleleng Putu Tirtha Adnyana sempat menegur Manager Project (Pimpro) dari PT Tunas Jaya Sanur, Made Suarsana. “Ini kontrak bisa diputuskan karena sudah melewati batas waktu pengerjaan. Kalau waktu pendek kenapa terima proyek ini,” ujar Susila Umbara menegur Suarsana.

Suarsana secara gentle mengakui bahwa proyek yang digarapnya itu memang beDalam pantauan dilokasi, memang beberapa yang belum selesai dikerjakan seperti pintu dan belum selesai.”Belum selesai Pak,” ujarnya.

Para wakil rakyat itu pun berkeliling proyek itu sembari mengamati setiap sudut pekerjaan dan pekerja yang sedang melaksanakan proyek itu. Terlihat para pekerja sedang memasang plafon, pintu. Bahkan terlihat keramik-keramik lantai sudah mulai ada retak dan diganti. Begitu juga, senderan samping dan belakang RS belum selesai disender.

Pihak pengarap proyek pun berdalih, lambatnya pengerjaan ini lantaran cuaca yang tak mendukung serta beberapa permasalahan lainnya. “Ini karena cuaca di bulan Desember tidak mendukung, ditambah ada persoalan tanah ini. Kami sudah kerahkan 500 pekerja, sekarang karena sudah hampir 98 persen, cuma ada 200 pekerja,” kata Suarsana.

Menyikapi pernyataan itu, Tirta Adnyana secara mendadak langsung merespon. “Ahh,, masak sudah 98 persen ini? Itu senderan belum, plafon ada yang belum dan yang lain belum,” sentil Tirta politisi senior Golkar ini.

Kapan selesainya? Suarsana menjelaskan bahwa pihaknya memiliki target penyelesaian pengerjaan proyek molor ini sampai dengan 11 Januari 2017. Bahkan Suarana mengaku, pelunasan biaya proyek ini baru dibayarkan DP 30 persen dari nilai Rp 22 miliar lebih.
“Target kami 11 Januari. Kalau pelunasan biaya proyek, kami ajukan permohonan 80 persen tapi baru diberikan 30 persen dari nilai yang ada di kontrak,” ungkap Suarsana.

Sementara Adi Purnawijaya, justru kaget mendengar jawaban target penyelesaian tersebut. “Waduh, tanggal 11 ini target. Tinggal lagi 6 hari ini, apa bisa? Realistis saja pak. Saya lihat, masih banyak belum selesai ini,” sentil Adi politisi Demokrat asal Desa Alasangker.

Usai melakukan sidak, Susila Umbara mengatakan, kedatangannya ini hanya untuk mengumpulkan data dan bukti, terkait keterlambatan proyek bernilai puluhan miliar ini, sampai melewati batas waktu ditetapkan, untuk dibahas dalam RDP besok.

“Besok ini kami bahas, bersama Dinkes, Inspektorat dan Komisi II. Kedatangan kami hanya untuk mencari data valid, karena kami akan bahas ini besok. Apa yang kami lihat tadi, memang benar ada keterlambatan. Banyak belum terselesaikan,” ujar Susila Umbara.

Susila Umbara yang juga politisi Golkar asal Desa Panji ini menegaskan, pihaknya akan meminta kejelasan dari Dinas Kesehatan sebagai leading sektor proyek ini, untuk bisa mengambil langkah kedepan, terkait dengan permasalahan ini. “Kami akan mintai kejelasan Dinas terkait, seperti apa. Ini sudah melewati tahun anggaran 2016 masalahnya, tapi masih ada pengerjaan, disini kami mintai kejelasan mereka,” pungkas Susila Umbara.

Sebelumnya, proyek pembangunan RS Pratama di Desa Giri Emas, yang dikerjakan oleh PT. Tunas Jaya Sanur (TJS), telah melampui batas waktu yang ditentukan, yang harusnya diserahkan 27 Desember 2016. Namun, proyek itu justru belum rampung. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *