Pemilik Lahan Ingkar Janji, Tugu Perjuangan Amerta Patas Terbengkalai

Foto Singaraja FM: Ini Tugu Perjuangan Amerta di Patas yang tidak terawat karena masih di atas lahan pribadi

Foto Singaraja FM: Ini Tugu Perjuangan Amerta di Patas yang tidak terawat karena masih di atas lahan pribadi

BALIEDITOR.COM – Anggota DPRD Buleleng, Bali, Made Sudirtha, SH, sangat prihatin dengan kondisi Monumen Perjuangan yang berada di Desa Patas, Kecamatan Gerokgak.

Pasalnya, monument bersejarah yang merupakan symbol perjuangan para pejuang kemerdekaan di Bali Utara wilayah barat itu terbengkalai dan tidak terawat. “Saya sangat prihatin dengan monument bersejarah itu tidak terawat. Semestinya Pemkab Buleleng harus lebih peduli dengan bangunan-bangunan bersejarah,” kritik Made Sudiatha yang akrab disapa Dek Tamu itu, Minggu (3/9/2017).

Ia mendesak Pemkab Buleleng segera mendata semua monument atau tugu perjuangan di Bali Utara itu termasuk yang berdiri di atas tanah pribadi warga. “Yng di atas lahan pribadi itu harus segera dilakukan pembebasan lahan agar monument atau tugu perjuangan itu bisa dirawat,” saran Dek Tamu.

Baca Juga:  DPR RI: Bunda Tutik Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Celukan Bawang

Kepala Dinas Sosial (Kadissos) Kabupaten Buleleng, Drs Gede komang menyatakan, Tugu Perjuangan Amerta di Desa Patas itu hingga kini masih menemui kendala sehingga pihaknya tidak bisa melakukan perawatan terhadap bangunan bersejarah itu.

Dipaparkan Gede komang, Tugu Perjuangan Amerta di Patas itu kini masih berada di atas tanah pribadi. “Kalau di iatas tanah pribadi, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Harus diserahkan dulu ke pemerintah baru kita perbaiki,” ujar Kadissos Gede Komang kepada Balieditor.com awal pekan ini di gedung DPRD Buleleng.

Baca Juga:  Geliat FPK Buleleng Tahun 2017: Jaga NKRI, Sasar Desa dan Kelurahan

Ia menceritakan bahwa pihaknya sudah melakukan pendekatan dengan pemiliklahan dan kemudian sudah disepakati harga pembebasan lahan itu. “Karena harga tanah di sekitar itu berkisar Rp20 juta hingga Rp 30 juta maka kita sepakati Rp 25 juta per are,” ceritanya.

Berdasarkan kesepakatan itu, lanjut Gede Komang, Dissos Buleleng menyediakan anggaran pembebasan lahan sebesar Rp 150 juta. Total anggaran itu merupakan hasil dari Rp 25 juta kali 6 are. Karena lahan milik pribadi yang ditempati Tugu Perjuangan Amerta itu seluas 6 are. “Kita sudah siapkan Rp 150 juta tetap batal lagi,” ungkap Gede Komang.
Kenapa demikian? “Karena adiknya yang di luar negeri itu tidak setuju. Mereka minta Rp 600 juta dengan rincian Rp 100 juta per are. Makanya, kita tidak bisa melanjutkan negosiasi itu,” pungkasnya. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *