Pencabul Gadis Panti Asuhan Benih Kasih Ditahan

Foto Balieditor.com-ngr: Tersangka Philipus di acara jumpa pers

BALIEDITOR.COM – Kadek Philipus, 47, pemilik panti asuhan Benih Kasih di Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, yang mencabuli beberapa anak asuhnya yang masih dibawah umur, akhirnya dituntaskan Unit PPA Satreskrim Polres Buleleng.

Pelaku Philipus akhirnya resmi ditahan polisi, setelah ditetapkan sebagai tersangka.

Penanganan dugaan kasus pencabulan terhadap beberapa anak dibawah umur, yang dilakukan Philipus sempat terkatung-katung beberapa bulan lamanya. Pasalnya, penyidik Unit PPA Satreskrim Polres Buleleng masih mengumpulkan sejumlah bukti untuk menjerat Philipus.

Kasus ini pertama kali dilaporkan oleh Sokhinitona Hulu selaku pendamping salah satu anak asuh di panti asuhan tersebut yang menjadi korban dari aksi bejat Philipus. Setelah bukti-bukti dinyatakan lengkap, akhirnya Philipus yang juga sebagai seorang pendeta tersebut mendekam dibalik jeruji besi.

Saat digelandang di Mapolres Buleleng, Philipus hanya bisa tertunduk malu bahkan kerap menutupi mukanya. tidak menampik perbuatannya. Hanya saja ia mengaku, perbuatan itu dilakukan atas dasar suka sama suka. “Waktu itu dia (korban, red) gak berontak, mau dia. Saya gak ingat berapa kali,” ucap Philipus, Senin (7/10) di Mapolres Buleleng.

Dikonfirmasi seizin Kapolres Buleleng, KBO Reskrim Polres Buleleng, Iptu. Dewa Putu Sudiasa mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan terungkap bahwa aksi bejat yang dilakukan KP bukan hanya dilakukan terhadap satu orang saja, melainkan tiga orang. Diantaranya, N,16, R,14, dan S saat kejadian berumur 12 tahun dan sekarang sudah berumur 20 tahun.

“Hanya satu orang yang melapor, dan ada satu korban yang sekarang sudah menikah. Aksi pencabulan itu dilakukan di panti asuhan tersebut. Para korban mau melakukan ini dibawah tekanan tersangka. Sekarang dari para korban ini sudah tidak lagi berada di panti asuhan tersebut,” ungkap Sudiasa.

Menurut Sudiasa, aksi dugaan perbuatan cabul terjadi dengan waktu yang berbeda-beda. Dimana perbuatan yang dilakukan pelaku terhadap korban dimulai sejak tahun 2011 terhadap korban S, kemudian sampai Desember 2018 terhadap korban N. Dan terhadap korban R dilakukan pada bulan Februari 2019.

“Cara yang dilakukan dengan membujuk dan merayu para korban. Setelah bukti-bukti dinyatakan lengkap, akhirnya dia kami tetapkan sebagai tersangka. Jadi ini perbuatan cabul, dimana alat kelamin tersangka dielus-eluskan ke vagina korban,” kata Sudiasa.

Ketua Pelaksana Harian Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Buleleng, Riko Wibawa mengaku, selama ini sudah mendampingi para korban. Ia pun mengapresiasi upaya kepolisian yang berhasil mengungkap kasus ini. Hanya saja Riko mencatat, masih ada beberapa kasus pelecehan seksual yang menimpa anak masih belum tuntas ditangani Polres Buleleng.

“Memang ada beberapa kasus belum tuntas di polisi, dan itu masih perlu proses penyelidikan dan penyidikan, termasuk korban masih sulit dimintai keterangan. Kami berharap, agar bisa tunggakan-tunggakan kasus itu segera dituntaskan. Dan dari kami akan terus melakukan pendampingan terhadap anak-anak yang menjadi korban,” pungkas Riko Wibawa.

Sementara akibat perbuatannya, kini tersangka KP terancam dijerat dengan pasal 82 ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2014 perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman pidana paling lama 15 tahun penjara dengan denda paling banyak Rp 5 miliar. (ngr/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *