Pendidikan: Memalukan, 4 Rombel SMKN 1 Singaraja Belajar Lesehan

Foto Balieditor.com-frs: Siswa baru di SMKN 1 Singaraja sedang belajar di lantai

BALIEDITOR.COM – Sungguh miris dan memalukan! Betapa tidak, Singaraja yang menyandang status Kota Pendidikan ternyata fakta di lapangan tidak sekren namanya.

Buktinya, SMKN 1 (SMEA Negeri) Singaraja berlokasi di pusat Kota Singaraja tepatnya di Jalan Pramuka No.6, berdampingan dengan SMAN 1 Singaraja, masih seperti sekolah terpencil. Empat rombel (rombongan belajar) atau kelas tidak memiliki ruangan kelas dan sarpras (sarana prasarana) seperti meja dan kursi belajar. Ratusan siswa baru itu belajar secara lesehan alias duduk di lantai.

Padahal kini SMA dan SMK sudah diambil oleh Pemprov Bali, namun kondisinya justru jauh lebih jelek kala masih di bawah koordinasi Pemkab Buleleng.

Tadi siang Balieditor.com berdatang ke sekolah favorit itu dan menelusuri informasi itu ternyata benar. Tiga rombel belajar di ruang guru dan ruang Lab, sedangkan satu rombel dibuatkan sekatan setinggi dada orang dewasa di aula sekolah itu. Mereka belajar dengan cara duduk di lantai, ibarat bebek yang dikurung dalam kandangnya. Sungguh memperihatinkan.

Bagaimana komentar Kepala SMKN 1 Singaraja, Drs. Nengah Suteja, M.Pd? “Suteja membenarkannya. “Sebenarnya lima rombel tetapi kemarin 40 kursi sudah datang sehingga tinggal empat rombel yang masih belajar di lantai,” jawab Suteja.

Ia mengakui bahwa membludaknya siswa baru ini akibat system zonasi dan banyaknya siswa titip dengan bekal surat katebelece pejabat tertentu itu. Ia menunjukan rombel yang berlajar di aula dengan ruang sekatan tripileks itu sebagai contoh siswa-siswa titipan pejabat. “Biar mereka (siswa titipan, red) rasakan. Tetapi sesungguhnya anak-anak tidak salah,” ujarnya.

Ia menuturkan, para siswa baru itu harus menjalani kondisi buruk itu karena memang kondisi ruangan kelas di SMKN 1 Singaraja memang tidak mencukupi untuk menampung para siswa baru itu. “Kondisi kita memang ruangan kelas tidak cukup. Mau double sheet tetapi baru Januari 2018 lalu kami hapus itu karena guru-guru sangat capai mengajar dua kali dalam sehari,” papar Suteja.

Ia menceritakan bahwa persoalan itu sudah dilaporkan ke Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bali, namun jawabannya terkesan lucu. Cuma disarankan ajukan proposal untuk dimasukan tahun anggaran 2019 mendatang. “Padahal kita butuh sekarang. Kalau 2019 baru dimasukkan, bagaimana dengan anak-anak ini,” tandasnya. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *