Perumahan Bermasalah di Sulanyah Ternyata Milik Bankir Wiratjana

Foto Balieditor.com-cha: Wiratjana (no dua dari kiri) hadiri rapat bahas keberatan warga

BALIEDITOR.COM – Setelah proyek perumahan di Banjar Dinas Tamansari, Desa Sulanyah, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali, diblokir warga setempat, akhirnya sang bos memperlihatkan diri ke public.

Ternyata perumahan bermasalah di Desa Sulanyah itu milik bankir ternama di Bali, Ketut Wiratjana.

Wiratjana pun tampil dalam pertemuan yang diinisiasi Perbekel Desa Sulanyah, Gede Sutarma. Dalam pertemuan itu hadir warga yang keberatan Gusti Narendra, Ketut Wiratjana selaku pengembang, Perbekel Desa Sulanyah Gede Sutarma berlangsung di Arena Darma Tula Desa Sulanyah, Rabu (21/8/2019).

Alhasil, para pihak sepakati pembangunan perumahan dilanjutkan dengan syarat
kesediaan pihak pengembang untuk memberikan kompensasi dan perbaikan jika terjadi kerusakan jalan.Termasuk memperbaiki drainase saluran air yang tertutup material bangunan.Sedang persoalan lain terkait perizinan,pengembang sedang melakukan proses sesuai aturan berlaku.

“Persoalan sudah clear,semua pihak sudah bertemu dan menyelesaikan persoalan secara baik-baik dan tidak merugikan salah satu pihak,”ujar Gede Sutarma usai pertemuan.

Menurut Sutarma, pihaknya tidak ikut campur dalam pertemuan itu mengingat yang kedua belah pihak merupakan warga Desa Sulanyah sehingga tidak diperlukan intervensi apapun. ”Memang yang terjadi hanya mis-komunikasi dan syukur bisa diselesaikan,” ucapnya.

Sementara Ketut Wiratjana mengaku tidak berniat yang aneh-aneh terkait rencananya membangun perumahan bersubsidi di desanya sendiri. Rencananya, kata Wiratjana, pihaknya akan membangun perumahan bersubsidi dilokasi lahan miliknya sebanyak 15 unit. ”Untuk awal memang akan kami bangun 15 unit dulu dan setelahnya akan dikembangkan sesuai respon pasar,”ujarnya.

Terkait keberatan warga oleh aktivitas proyek perumahan,menurut Wiratjana, hanya masalah miskomunikasi. ”Mungkin kami kurang sosialisasi hanya menyampaikan kepada pemerintah desa saja, namun tidak ke warga perumahan di jalan menuju pembangunan perumahan,” imbuhnya.

Sedangkan Gusti Narendara warga yang melayangkan aksi protes setelah terganggu oleh aktivitas proyek perumahan, mengaku menerima hasil keputusan rapat. Menurutnya, pihak pengembang bersedia melakukan perbaikan jalan jika terjadi kerusakan akibat aktivitas proyek. ”Pada dasarnya kami tidak menolak,tapi harus ada kejelasan dahulu jika terjadi gangguan dan kerusakan jalan akibat aktivitas proyek,” ujarnya.

Terlebih, katanya, lalulalang truk pengangkut tanah akan menimbulkan gangguan lain yang patut menjadi pertimbangan pemilik proyek. ”Saya hanya melakukan upaya agar tidak ada yang dirugikan oleh proyek perumahan tersebut,”tanadasnya. (cha/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *