PHBI Tegallinggah Minta Maaf, Tegallinggah Sepakat Tolak Radikalisme

Foto Balieditor.com-ngr: Foto Bersama Muspika Sukasada dengan Aparat Desa Tegallinggah dan Tokoh masyarakt serta Ganaspati Bali, menyatakan sikap menentang paham radikalisme, pasca terpasang spanduk FPI, di desa tersebut.

Foto Balieditor.com-ngr: Foto Bersama Muspika Sukasada dengan Aparat Desa Tegallinggah dan Tokoh masyarakt serta Ganaspati Bali, menyatakan sikap menentang paham radikalisme, pasca terpasang spanduk FPI, di desa tersebut.

BALIEDITOR.COM – Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI), Desa Tegallinggah, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, Haji Mauzir mengaku, sangat tidak sepaham dengan adanya pemasangan spandung bergambar Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq di depan pagar Masjid Nurul Huda, Banjar Desa Munduk Kunci, Desa Tegallinggah.

“Kami dari PHBI Tegallinggah minta maaf atas pemasangan spanduk bergambar Ketua FPI Habib Rizieq di depan pagar Masjid Nurul Huda. Saya akan menandatangani surat pernyataan untuk menjamin, agar kedepannya tidak ada lagi kasus serupa,” kata Haji Mauzir pada rapat mediasi di Kantor Perbekel Tegallinggah, Kamis (29/6/2017).

Rapat mediasi dihadiri Perbekel Tegallinggah Ketut Mudarana, Camat Sukasada, Made Dwi Adnyana serta Kapolsek Sukasada, Kompol Ketut Darmita. Hadir pula DPW Garda Nasional Patriot Indonesia (Ganaspati) Bali.

Dalam mediasi itu disepakati pernyataan sikap yang berisikan menolak dan menentang adanya paham-paham yang berbau radikalisme dan juga bertentangan dengan UUD 1945. Kesepakatan itu diwujudkan dengan penandatanganan bersama surat pernyataan sikap tersebut.

Foto Surat Tolak FPI

Kapolsek Darmita mengatakan, pertemuan ini merupakan respon cepat semua lapisan masyarakat, tokoh masyarakat, sehingga masalah pemasangan bendera FPI dapat diselesaikan dengan baik.

“Mari secara bersama sama menjaga situasi Buleleng agar tetap aman dan kondusif, hindari hal-hal yang berpotensi menimbulkan perpecahan,” kata Kompol Darmita.

Kadus Munduk Kunci, Mustakim menjelaskan, MAA yang sebelumnya diduga memasang spanduk tersebut ternyata tidak terbukti. Menurut Mustakim, ada sekelompok remaja yang memasang spanduk tersebut. “Kemarin sempat nyebut MAA itu, itu sudah saya klarifikasi, bukan. Ada sekelompok remaja, itu yang memasang. Nanti kami akan telusuri itu, yang jelas permasalahan ini sudah diselesaikan dengan baik,” ujar Mustakim.
Sementara itu Camat Sukasada, Dwi Adnyana menegaskan, kejadian ini akan menjadi pelajaran bagi warga Desa Tegallinggah termasuk warga Kecamatan Sukasada, agar tidak terulang kembali. “Saya tidak ingin warga yang sudah menjalin kerukunan, nanti terpecah. Ini akan menjadi pelajaran kami, agar warga mengikuti norma-norma yang ada,” tegas Dwi Adnyana.

Ketua DPW Ganaspati Bali, Ketut Sumiata berharap agar toleransi yang selama ini diwarisi oleh leluhur, tidak hilang begitu saja. Dia menegaskan bahwa toleransi itu di Bali tidak pernah membeda-bedakan agama, karena nilai toleransi yang sangat tinggi. Sehingga, di Bali bisa dikenal dengan ada namanya “Nyame Selam”.

“Saya sangat sayangkan ini, jangan sampai toleransi yang mempunyai nilai tinggi hilang. Saya harapkan agar Bali tidak disusupi dengan paham-paham radikalusme, sehingga Bali khususnya Buleleng menjadi kondusif. Saya minta, di Desa Tegallinggah ini menjadi tolak ukur keutuhan NKRI,” pungkas Sumiata. (ngr/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *